Artikel

Pementasan Boneka Berpengaruh Penting Terhadap Kreativitas Anak

Sebagian taman kanak-kanak dan sekolah dasar mengenal dan akrab dengan pertunjukan boneka. Kebanyakan terbatas pada aktivitas menonton. Pertanyaannya : mengapa tidak terpikir melibatkan para siswa TK atau SD untuk mementaskan pertunjukan boneka ? Apakah melibatkan para siswa TK dan SD dalam pertunjukan boneka merupakan aktivitas yang bisa menunjang perkembangan kreativitas mereka ? Saya dan tim sejak Oktober 2018 aktif mengadakan pertunjukan boneka (khususnya marionette atau boneka tali. Kami satu-satunya di Indonesia yang melakukan pertunjukan boneka marionette secara tim) ke sekolah-sekolah. Beberapa di antara sekolah ini meminta agar para siswanya diajarkan memproduksi boneka tali dan mempertunjukkannya.

Mengenai manfaat dari aktivitas membuat boneka dan mengadakan pertunjukan boneka untuk para siswa TK dan SD khususnya dalam peningkatan kreativitas, berikut adalah tulisan dari Milda Bredikyte dengan judul “Dialogical Drama with Puppet and Chilldren’s Creation of Sense” yang dipublikasikan tahun 2000.

Ide penelitian ini berasal dari sebuah pertunjukan boneka dengan anak-anak sebagai audiensnya. Anak-anak tampak sangat menikmati pertunjukan boneka. Bahkan dari ekspresinya terlihat ingin terlibat dalam pertunjukan ini. Sebagian anak bertanya dengan semangat, sebagian berkomentar dengan berani, sebagian mendekati panggung untuk memuaskan rasa ingin tahunya sambil mencoba menyentuh boneka.

Komunikasi yang terjadi dalam ruang pertunjukan bersifat kolektif. Sekitar 50 penonton hadir bersama dan di sana yang dipuaskan adalah semua penonton, bukan kepuasan satu anak secara terpisah.

Milda mengamati bahwa bahkan praktek teater (dalam bentuk pertunjukan boneka) tak ubahnya sebuah teater professional. Ada mekanisme pemilihan cerita, dramatisasi, produksi boneka (yang cukup makan waktu, para guru mempelajari teks, latihan dengan menggunakan boneka dan pada akhirnya pementasan. Saat pementasan, sebagian anak-anak menjadi penonton yang tertib dan apresiatif terhadap pertunjukan boneka.

Penelitian yang dilakukan Milda Bredikyte ini bertumpu pada pemikiran L. Vygotsky mengenai kreativitas anak secara umum dan kreativitas dalam dunia teater secara khusus (1997) juga pemikirannya kemudian yang dikembangkan oleh D. Elkonin dalam fungsi sosial dari permainan anak (1978)

Vygotsky mengatakan bahwa anak-anak dalam masa awal perkembangannya sudah bisa dilihat dengan jelas proses kreatifnya. Keativitas anak-anak ini paling memungkinkan untuk diobservasi adalah ketika mereka bermain. Vygotsky menyatakan bahwa kreativitas seni pertunjukan untuk TK dan SD paling baik direpresentasikan dalam bentuk role play bersama-sama dengan narasi atau storytelling . Menurut Vygotsky ini terjadi karena dua sebab. Pertama, basis dari seni peran anak-anak adalah tindakan asli mereka sendiri. Dilakukan anak-anak secara spontan dan langsung terhubung denga pengalaman pribadi mereka. Kedua, menjalankan seni peran yang bertumpuh pada sifat alamiah anak-anak akan memberikan pengalaman hidup yang spontan dan terpisah dari berbagai ekspektasi orangtuanya. Anak-anak terdorong mengeluarkan impresi dari dalam dirinya sendiri bercampur dengan imajinasinya.

Pada tahun 1991 Milda melakukan kunjungan ke beberapa taman kanak-kanak untuk melakukan pertunjukan dongeng dengan menggunakan boneka. Milda sengaja menciptakan situasi yang memungkinkan anak-anak untuk berperan serta dalam pertunjukan. Milda membiarkan anak-anak menyentuh boneka atau dekorasi, mendorong mereka untuk mengajukan pertanyaan, memberi mereka kesempatan untuk menyampaikan pendapatnya, mengijinkan mereka untuk menonton pertunjukan sesuai keinginan mereka: dari jauh atau sangat dekat atau malah tidak sama sekali.

Semua pertunjukan boneka di beberapa kunjugan selama 1 bulan ini divideokan. Perekaman video ini berlangsung di sebuah taman kanak-kanak tertentu dalam kelas yang terdiri dari variasi umur 2 – 7 tahun. Kelas ini dikunjungi 4 kali. Analisis dibuat dari materi yang dongeng ditampilkan dengan boneka oleh para peneliti (55 menit) . Anak-anak mementaskan dongeng yang sama seminggu kemudian (33 menit)

Poin penting yang ingin dilihat dalam eksperimen ini adalah apakah ada kemungkinan-kemungkinan berkembangnya ekspresi kreatif anak-anak dalam aktivitas semacam ini.

Kunjungan pertama 30 Oktober 1991. Tujuan utama dari kunjungan pertama ini adalah para peneliti mengakrabkan dengan anak-anak, dengan lingkungan kelas, dengan para guru. Kemudian mendiskusikan mengenai rencana kunjungan-kunjungan berikutnya. Ketika anak-anak ini kemudian tahu bahwa para peneliti akan mementaskan pertunjukan boneka dengan cerita dongeng tertentu, meraka sangat senang dansemangat.

Kunjungan kedua 6 November 1991. Dalam kunjungan ini dipentaskan pertunjukan boneka yang disertai pembicaraan dan komunikasi dengan anak-anak.

Kunjungan ketiga 14 november 1991. Anak-anak sudah siap dengan kunjungan ini. Anak-anak mementaskan pertunjukan boneka dengan dongeng yang sama. Anak-anak sendiri yang menjalankan pertunjukan ini.

Kunjungan keempat 13 desember. Dalam kunjungan ini anak-anak dibagi dalam beberapa kelompok kecil, dan mereka membuat dua gambar besar berdasarkan dongeng yang sudah mereka lihat dan pentaskan itu.

Berbagai aktivitas dari anak-anak dan guru ini selam kunjungan kedua, ketiga dan keempat direkam dalam video.

Apa kesimpulannya ?

Begini kesimpulan Melda, sudah jamak diterima bahwa anak-anak terus-menerus meniru perilaku orang dewasa. Adanya bukti pengaruh imitasi terhadap permainan anak itu tak terbantahkan. Tapi sangat penting untuk memahami karakter spesifik dari imitasi ini.

Dalam empat kunjungan itu tampak anak-anak tidak menemui kesulitan untuk mengulang plot dongeng tertentu tanpa penyimpangan yang berarti. Vygotsky mengatakan bahwa permainan anak merupakan reproduksi kreatif dari pengalaman masa lalu , digabungkan dan menciptakan realitas baru, yang terhubung dengan kebutuhan dan sifat alamiah anak-anak.

Lalu dimana kreativitas anak – jika memang ada—bisa ditemukan dalam aktivitas pementasan pertunjukan boneka ini ?

Membandingkan pementasan anak dan pementasan yang diberikan para peneliti, Melda mengamati bahwa anak-anak menggunakan banyak elemen dari skenario asal (yang dibuat peneliti) tapi mereka juga menggunakan episode terpisah dari varian lain dari cerita yang sama, dan mereka memasukkan adegan-adegan dari kehidupan nyata sehari-hari. Ini artinya anak-anak menciptakan varian orisinal mereka sendiri dari dongeng yang sudah ada.

Pengamatan lebih seksama lagi dalam membandingkan teks pertunjukan peneliti dan pertunjukan anak-anak adalah masuk akal untuk menyatakan bahwa tidak ada repetisi yang sama persis, hanya beberapa baris dari pemikiran yang diikuti sesekali dengan teks yang identik.

Jadi, ekspresi kreatif itu nyata adanya dalam diri anak-anak ketika mereka menggabungkan teks asli dengan teks mereka sendiri berdasarkan pemahaman dan pengalaman pribadi mereka.

Apakah sekolah-sekolah di Indonesia tertarik menemukan kreativitas anak-anak dengan cara mempersiapkan dan mementaskan pertunjukan boneka bersama-sama ?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *