ROLF SMITH

 

Di awal tahun 1990-an Rolf Smith sudah bicara mengenai 7 level of change.  Ada 7 tingkatan dalam melakukan inovasi.  Inovasi bukan sesuatu yang tiba-tiba.  Inovasi bukan sesuatu yang dilakukan dengan cara melompat tanpa pondasi apapun.   7 level of change ini lah yang bisa disebut pondasi.

 

LEVEL 1:                Effectiveness                     DOING the right things

 

LEVEL 2:                Efficiency                             DOING things right

 

LEVEL 3:                Improving                           DOING things better

 

LEVEL 4:                Cutting Stopping              DOING things

 

LEVEL 5:                Copying                           DOING things other people are doing

 

LEVEL 6:                Different                            DOING things no one else is doing

 

LEVEL 7:                Impossible                          DOING things that can’t be done

 

Dalam paradigma Rolf Smith ini kita tidak bisa tiba-tiba loncat ke level 5. Dalam contoh yang ekstrim, kita tidak bisa loncat ke level 5 mencontek perusahaan sebesar Apple.   Harus dimulai dari level 1.

Mari coba menggunakan ilustrasi ini.  Sebuah stasiun tv swasta baru terbentuk.   Lebih dari 50% karyawan berasal dari stasiun tv lain sehingga stasiun tv ini terkesan bisa langsung “running”.  Dengan sangat percaya diri stasiun tv baru ini langsung ke level 6.  Dia yakin mempunyai sesuatu yang berbeda dari stasiun-stasiun tv yang ada.  Akibatnya,    stasiun tv ini melupakan level 1 hingga level 5.  Banyak sekali pertanyaan yang harus dijawab:   Apakah stasiun tv itu sudah menerapkan prinsip efektivitas ?   Sudah efisien ?  sudahkah dilakukan perbaikan-perbaikan atas evaluasi efektivitas dan efisiensi sebelumnya ?    dan seterusnya.

Tentu saja akan muncul bantahan:   kalau harus menuruti level-level itu,   kapan bisa mengejar stasiun tv yang lain ?    bagaimana pun 7 level of change ini adalah sebuah pendekatan.  Pendekatan ini berasumsi kita tidak bisa mengejar atau melompat tanpa susunan pondasi yang kokoh.  Sampai detik ini, paradigma ini masih belum ada yang membuktikan kesalahannya.

 

(20 January 2017)

RAMAI

 

Bisnis dengan omzet besar seringkali dikaitkan dengan ramai.  Sebuah jaringan toko penjual barang kebutuhan sehari-hari yang sekarang memiliki lebih dari 70 outlet mempunyai rumus dalam menentukan lokasi outletnya:  harus berada di pinggir jalan yang sulit untuk menyeberang karena itu merupakan pertanda jalan itu ramai.

 

Sebuah restoran baru yang ingin dianggap mempunyai makanan istimewa harus menunjukkan para tamu yang antri panjang.  Antri panjang itu akan mempersepsikan sebuah keinginan kuat  atas produk restoran itu sehingga layak dicoba. Sebagian berhasil menerapkan strategi ini. Sebagian lagi langsung terlihat kontras ketika awalnya banyak sekali para tamu yang antri tapi dua bulan kemudian sudah terlihat sangat sepi.

 

Pemutaran perdana sebuah film wajib hukumnya dibanjiri penonton. Kalau perlu belilah ratusan ribu tiket untuk dibagikan secara gratis pada malam perdana supaya terkesan meledak.  Pasti akan sangat menggoda banyak calon penonton untuk ikut mendatangi film tersebut.  Sebuah film yang di hari perdananya sepi, tamatlah riwayatnya, karena tak ada daya upaya yang cukup kuat  untuk mengkatrol jumlah penonton di hari kedua dan seterusnya.

 

Keramaian selalu menggiurkan. Tapi keramaian, masalahnya, identik dengan sesuatu yang massal. Sesuatu yang massal tentu saja sulit dikesankan spesial.

 

Sebuah hotel bintang lima di Ubud menawarkan privasi dan keheningan.  Untuk itu para tamu harus bayar  $ 3.000  per malam.  Sama sekali tidak ramai dalam artian terlihat dikerumuni banyak orang.  Namun untuk pesan kamarnya,  tujuh bulan ke depan sudah terisi penuh.    Tamunya adalah selebrities Hollywood dan kalangan milyarder.

 

Selalu ada bukti untuk aturan baru marketing:  Create remarkable products that the right people seek out.

 

(15 December 2016)

INSTING PERTAMA

 

Ketika naskah skrip Seinfeld diterima,  para eksekutif NBC tidak tahu apa yang mesti dilakukan dengan skrip itu.  Skrip tersebut dinilai  “totally unconventional”. Petinggi NBC Warren Littlefield mengatakan  “sama sekali tidak ada padanannya  dengan apapun yang ada di tv.  Tidak ada preseden historis.”   Staf penulis yang mengevaluasi  naskah awal Seinfeld memberi penilaian di batas antara “weak”  dan “moderate”.  Dia lebih condong ke “moderate” tapi pimpinannya menganggap itu “weak”.  Dan kita tahu kemudian seri Seifeld menjadi sesuatu yang fenomenal dalam sejarah pertelevisian AS.

 

Menurut Adam Grant dalam bukunya Originals: dalam menghadapi ketidakpastian,  insting pertama kita seringkali menolak kebaruan,  dan cenderung berusaha menemukan alasan bagi ketidakberhasilan sebuah konsep yang tidak familiar.    Ketika menelaah ide-ide baru,  para manajer berada dalam  pola pikir evaluatif:   demi  melindungi dirinya sendiri atas  kemungkinan pertaruhan yang gagal, mereka membandingkan ide-ide baru dengan berbagai proposal  yang merupakan tiruan dari  ide-ide yang berhasil di masa lalu.

 

Insting pertama seperti ini akan dengan mudah ditemui di stasiun tv Indonesia. Seorang pemilik rumah produksi mengatakan bahwa dia tidak pernah bisa mempresentasikan sebuah ide.  Hampir semua tv Indonesia mau gampangnya dengan pertanyaan:  “bisa nggak bikin program seperti A ?”   atau “berani nggak bikin program persis seperti B dengan rating yang lebih bagus dari itu ?”

 

Dengan cara seperti stasiun tv tentu saja bisa terus hidup, bisa terus menghasilkan program-program yang rating lumayan, tapi tentu saja konsekuensinya adalah  ruang menjadi sangat kecil untuk menghasilkan program-program yang “totally unconvensional”  dan cukup fenomenal untuk dicatat sejarah.

 

(28 November 2016)

MENYATUKAN

 

Dalam hal tertentu ide menyatukan dua hal berbeda –bahkan bertentangan–  terkesan mustahil.

 

Dalam cerita dikenal istilah protagonis dan antagonis.  Keduanya mewakili dua karakter/dua pihak yang bertarung, berkonflik atau berinteraksi untuk membentuk cerita.  Bagaimana jika protagonis dan antagonis disatukan ?   Kelihatannya mustahil.  Tapi itu dilakukan oleh sebuah serial berjudul Breaking Bad yang mulai tayang 2008  di AMC Network Amerika Serikat.   Breaking Bad bercerita tentang seorang guru kimia bernama Walter White yang tiba-tiba divonis mengidap sakit kanker paru-paru stadium 3.  Sebagai upayanya bertahan hidup dan melindungi keluarganya, dia memutuskan menjadi pengedar narkota.  Protagonis dan antagonis silih berganti ada dalam diri satu karakter: Walter White.

 

Serial ini akhirnya di tahun 2013 tercatat di Guinnes Book of Record sebagai  serial tv dengan rating tertinggi sepanjang masa.  Pada musim pertama,  73 dari 100 orang menonton serial ini.  Dan di musim ke lima,  99 dari 100 orang menonton serial ini.  Nyaris sempurna mencapai 100.

 

Untuk konsep protaganis dan antagonis yang menyatu ini ada 2 hal yang perlu disoroti:  akting dan penulisan skenario.  Untuk memerankan karakter yang sekaligus protagonist dan antagonis tentu butuh kemampuan akting yang luar biasa.  Bryan Cranston yang memerankan Walter White mendapat banyak pujian.  Salah satunya pujian dari Forbes:

 

Bryan Cranston plays Walter White with extraordinary subtlety. He’s a shape-shifter, alternating from twitchy, awkward husband to thuggish drug dealer as easily as changing a shirt.

 

Hal kedua adalah penulisan skenario.   Vince Gilligan sebagai penggagas sekaligus penulis skenario,  merancang episode demi episode dengan sangat brilian dan detail.  Tantangan terbesar dari seorang penulis skenario drama seri adalah bagaimana membuat penonton mau –bahkan sangat mau—untuk melihat episode berikutnya meski harus menunggu 1 minggu ke depan (ingat,  drama seri di Amerika Serikat sampai sekarang masih masih diputar mingguan).  Ini seni cliff hanger:  bagaimana membuat akhir sebuah episode menggantung untuk mengetahui lanjutan ceritanya di episode berikutnya.

 

Nir Eyal menjelaskan dalam bukunya Hooked: “Konflik utama di setiap episode selalu diselesaikan menjelang akhir acara, yang kemudian disusul dengan munculnya tantangan lain untuk menggelitik rasa penasaran penonton. Dengan demikian  satu-satunya cara untuk tahu bagaimana Walter keluar dari permasalahan yang muncul di akhir sebuah episode adalah dengan cara menonton episode selanjutnya. “

 

Pada akhirnya  tersedia  banyak  kemungkinan menyatukan dua bidang, dua aspek,  dua unsur,  namun pada akhirnya yang menentukan adalah eksekusinya.  Dalam hal ini adalah eksekusi untuk membuat penonton merasa penasaran dan terus terikat untuk mengikuti hingga akhir cerita.

 

(17 November 2016)

QWERTY

 

Rata-rata kita mengenal QWERTY, sebuah sebutan untuk papan ketik konvensional dengan huruf Q-W-E-R-T-Y sebagai huruf di barisan atas kiri.  Papan ketik ini  masih digunakan.sampai sekarang.  Papan ketik ini pertama kali dikembangkan pada tahun 1890-an untuk jenis mesin ketik yang pada saat ini tentu saja bisa dianggap sebagai barang kuno yang selayaknya ada di museum.  Dalam susunan QWERTY   huruf-huruf yang biasa digunakan letaknya berjauhan.  Disain seperti ini justru disengaja untuk mencegah pengetik merusak batang logam yang ada di mesin ketik pada masa itu.

 

Ketika jaman berganti menjadi digital seharusnya tidak perlu disain seperti ini karena papan ketik kita bukan mesin ketik yang ada batang logamnya.  Namun  tetap saja kita menggunakan papan ketik QWERTY.  Padahal tahun  1930an sudah ada disain papan ketik tandingan.  Disain yang diciptakan Profesor August Dvorak ini menempatkan  huruf-huruf vokal di baris tengah sehingga meningkatkan  kecepatan dan ketepatan dalam mengetik.  Namun ciptaan yang dipatenkan dengan nama  Dvorak Simplified Keyboard pada tahun 1932 ini ,  papan ketik  ini hilang begitu saja ditelan jaman.

 

Menurut Nir Eyal dalam bukunya Hooked,  QWERTY bertahan karena tingginya biaya mengubah perilaku pengguna.   Ketika pertama kali diperkenalkan dengan papan ketik,  kita menekan satu per satu huruf tertatih-tatih.  Perlu pembiasaan selama sehari atau dua hari. Setelah itu berpraktek selama berbulan-bulan dan bertahun-tahun mengaktifkan semua jari.  Namun berpindah ke papan ketik yang tidak familiar,  meskipun teruji lebih efisien,  akan memaksa kita untuk belajar mengetik kembali mulai dari nol.

 

Untuk saya yang bisa mengetik sepuluh jari (berkat kursus mengetik)  pasti saya akan menolak jika ditawarkan sebuah papan ketik baru yang teruji lebih efisien.  Saya sudah telanjur merasa nyaman dan efektif dengan disain QWERTY.

 

Ada berapa banyakkah produk yang ingin kita ciptakan untuk mengganti produk lama sebagaimana disain QWERTY  ini ?   Inovasi menemukan batu yang terlalu tinggi untuk dilewati ketika kita mengabaikan biaya  tinggi dari mengubah perilaku pengguna.

 

(14 November 2016)

EKONOMI YOGA

 

Secara kasat mata di sekitar kita terlihat yoga sebagai sebuah tren.   Sebagian orang merasa ketinggalan kalau tidak pernah mencoba berlatih yoga.  Sebagian yang lain sudah menjadi peserta tetap latihan yoga.   Sebuah tren tentu saja berimplikasi bisnis.  Pada Juli 2012 ada sekitar  15 juta individu yang berlatih yoga.  Di tahun 2008 total pengeluaran dari orang-orang yang berlatih yoga ini mencapa  $ 5,7 miliar dan menjadi $ 10,3 miliar di tahun 2010.  Yang artinya industri ini tumbuh sekitar 80,7% dalam 4 tahun.  Salah satu pemimpin pasar dalam industri ini adalah pakaian yoga dengan merek Lululemon. Sejak tahun 2004 Lululemon tumbuh 55% dari  $ 40,7 juga menjadi  $ 1,37 miliar di tahun 2012.

Ilustrasi lain berasal dari New York. Selama musim panas 2014  pemilik studio yoga Raquel Vamos dan Dov Vargas membuat situs sederhana yang menjual roda plastik seharga $ 35.  Roda plastik ini membantu orang-orang berlatih yoga melenturkan punggungnya ke belakang.   Harapan mereka tidak muluk-muluk, setidaknya mendapatkan beberapa puluh pesanan untuk alat yoga lain seharga $99  dari  teman dan mahasiswa.  Tapi setelah beberapa bulan,   mereka mampu menjual  100 Dharma Yoga Wheels (sebutan untuk roda plastik ini)   per hari.  Setelah setahun, mereka mampu menghasilkan $ 1,3 juta dan dimeriahkan di Instagram oleh bintang pop Britney Spears dan sejumlah pemain NFL.

Tapi mereka sadar perusahaan tidak mungkin besar hanya dengan satu produk. Sehingga Vamos berhenti dari pekerjaannya sebagai perawat dan terjun total di bisnis ini.  Vamos mempekerjakan seorang ahli pemasaran untuk membantu perusahaan terus bersinar, dan berusaha menciptakan berbagai roda yoga lain untuk pengembangan dari produk yang ada,  termasuk program pelatihan guru  yoga berbasis ciptaan mereka ini.

“Anda tidak bisa  terlalu basi dalam bisnis ini,” kata Vamos “ Anda  harus terus-menerus mencipta.”      Satu-satunya saat yang tepat untuk mengetahui sebuah produk sudah tepat atau harus diriset lebih mendalam lagi adalah ketika produk itu diluncurkan.  Karena itu mau tidak mau harus terus mencipta.  Vamos berharap dengan cara pandang seperti itu akan membuat perusahaannya terus bergerak maju, dengan potensi untuk mendapatkan  $ 1,7 juta tahun ini.

Dalam tren yang sudah sedemikian besar seperti Yoga,  selalu ada peluang-peluang baru untuk menciptakan inovasi

 

(24 October 2016)

MITOS

 

Claude Lévi-Strauss,  antropolog sosial,  percaya bahwa semua mitos itu benar dan semua versi  dari sebuah mitos adalah versi yang benar.   Ada sebuah alasan  bahwa orang menceritakan kisah-kisah yang bertentangan mengenai  dewa gunung  — apakah dia kawin dengan dewi laut  atau dia kawin dengan dewi hujan  ?   kedua versi itu diceritakan dan diceritakan berulang-ulang karena para pendengar menangkap sebuah kebenaran dari kedua versi itu.

 

Setiap saat kita mendengar mitos, kita menceritakan ulang mitos dan kadang-kadang kita mempercayai sebuah mitos yang tak kita sadari kapan masuknya dalam otak kita. Seorang penulis yang percaya pada mitos adanya writer’s block maka suatu saat dia pasti mengalami itu dan pengalaman itu makin menegaskan bahwa writer’s block itu memang ada dan seterusnya dia akan dibayang-bayangi oleh kemungkinan writer’s block.  Sebagian penulis lain tidak percaya mitos writer’s block.  Penulis jenis ini merasa lucu kalau ada yang kehabisan akal memulai tulisan karena tersedia ratusan ribu kata-kata yang bisa dimulai sebagai pemicu awal menuliskan sebuah kisah. Kedua mitos itu benar.

 

Karena itu berhati-hatilah terhadap mitos yang anda pilih.  Semua mitos itu benar, dengan demikian pilihlah mitos yang mendukung produktivitas dan kreativitas anda.

 

(6 October 2016)

HARI TERAKHIR

 

Seorang karyawan mengeluh bahwa dia melihat beberapa orang mengundurkan diri dari perusahaannya dan perusahaan sama sekali tidak memberi ucapan apa-apa terhadap orang-orang ini.  Dia merasa bahwa perusahaan telah memperlakukan karyawan seperti sebuah alat yang bisa dipasang dan dibuang.   Karyawan ini measa kehilangan semangat bekerja karena m embayangkan pada suatu saat nanti dia akan diperlakukan sama:  keluar dari perusahaan tanpa diiringi ucapan atau surat apapun. Bahkan di hari terakhir,  karyawan itu dibiarkan berkeliaran di lingkungan kantor tanpa satu pun orang yang perlu mengucapkan sesuatu.  Karyawan menjelma menjadi komponen yang tidak penting karena bisa dengan segera digantikan.

 

Harvard Business Review menyoroti bahwa penting  mengumpulkan tim di hari terakhir karyawan yang  mengundurkan diri itu untuk mengadakan perayaan kecil.  Mungkin cukup kue dan kopi.  Untuk menyampaikan apresiasi terhadap karyawan yang mengundurkan diri atas kerjanya selama ini. Tapi yang lebih penting adalah menyemangati semua karyawan yang tetap tinggal dan mungkin akan menghadapi hari-hari berat ke depan karena ada yang mengundurkan diri.  Pelajarannya adalah bagaimana menghumanisasi hubungan kerja.

 

Dalam pekerjaan tidak mungkin hanya ada logika. Berbagai emosi seringkali terlibat di sana.  Sedih,  kecewa,  marah, senang,  bangga dan lain-lain.  Dinamika naik turun perasaan ini pasti menjadi kumpulan kenangan yang melekat dalam bawah sadar.  Sehingga mengundurkan diri tidak pernah menjadi sesuatu yang biasa.  Ada waktu bertahun-tahun bekerja,  hanya ada satu hari yang disebut hari terakhir. Ketika perusahaan gagal memberi penghormatan pada hari terakhir karyawan,  maka ini bisa memberi pesan pada semua karyawan:  “perusahaan sebenarnya tidak benar-benar menghargai pekerjaan kita, lalu untuk apa bekerja keras untuk perusahaan ?”    Pada akhirnya perusahaan yang tumbuh dan besar adalah perusahaan yang mampu menghumanisasi hubungan kerja dan itu tercermin dalam bagaimana perusahaan bersikap terhadap hari terakhir karyawan.

 

(4 October 2016)

UNICORN

 

Kalau kita memulai usaha dengan mendirikan sebuah warung kopi, katakanlah, berapa lama kita akan mampu menjadi sebuah perusahaan unicorn ?

 

Unicorn dalam pengertian harafiah adalah  makhluk mitologis yang berwujud kuda dengan sebuah tanduk di dahi. Jika kata cornus dihubungkan dengan kata horn, maka berarti tanduk. Biasanya, bulu Unicorn berwarna putih dan tanduknya berbentuk spiral.

 

Namun unicorn dalam pengertian bisnis adalah sebuah perusahaan start-up yang mempunyai nilai lebih dari US $ 1 miliar  atau sekitar  Rp 13 triliun.  Gojek berhasil membuktikan sebagai unicorn ketika nilai valuasinya  US $ 1,2 miliar.  Bahkan tidak tanggung-tanggung,  Gojek mendapatkan kucuran dana segar sebesar   US $  500 juta atau sekitar Rp 7,2 triliun.

 

Gojek berdiri tahun 2010 .  Kok bisa melesat secepat itu  ?  Seorang ahli mengatakan bahwa momentum Gojek itu tahun 2014 ketika Jakarta benar-benar gila macetnya karena terjadi pembangunan infrastruktur jalan di banyak titik.   Penjelasan apapun, ini tetap keajaiban.

 

Untuk membayangkan betapa besarnya Rp 7,2 triliun, mari bermain angka.  Seorang  top manajemen sebuah stasiun tv memberi ilustrasi:  sebuah perusahaan stasiun tv yang baru didirikan dengan teknologi yang paling mutakhir saat ini,  dengan membangun transmisi di seluruh provinsi Indonesia yang ada 33 itu dan mampu menjalankan operasional siaran tanpa pemasukan sama sekali selama 3 tahun, berdasarkan hitung-hitungan di atas kertas  menghabiskan uang Rp 3 triliun.  Berarti Rp 7,2 triliun mampu membangun 2 stasiun tv tingkat nasional  sekaligus dan masih ada sisa.  Bahkan kalau dibayangkan uang Rp 7 triliun digunakan untuk membeli motor bagi para pengemudinya,  maka itu pun sangat berlebih.  Katakanlah ada 200.000 pengendara semuanya dibelikan motor baru:   Rp 11.000.000 x  200.000 pengendara = Rp 2.200.000.000.000.

 

Bisnis baru adalah keajaiban baru. Keajaiban itu kadang-kadang kombinasi antara misteri dan teka-teki. Seperti dikatakan Aileen Lee yang mempopulerkan istilah unicorn, “Yes we know the term “unicorn” is not perfect – unicorns apparently don’t exist, and these companies do – but we like the term because to us, it means something extremely rare, and magical.”

 

(8 September 2016)

KEJUJURAN

 

“It takes 20 years to build a reputation and five minutes to ruin it. If you think about that, you’ll do things differently.”

 

Yang mengatakan itu Warren Buffet.  Seorang legenda dalam dunia investasi dan orang nomer tiga terkaya dunia.    Perlu waktu 20 tahun untuk membangun sebuah reputasi dan hanya perlu waktu 5 menit untuk menghancurkan semua itu.

 

Rasanya kita perlu menantang diri untuk mempertanyakan reputasi kita selama ini dengan berbagai pertanyaan berikut ini :

 

Bagaimana kita membangun reputasi ?

 

Apakah melalui kejujuran atau melalui bangunan yang terdiri dari pintu-pintu rahasia menuju ruang gelap kebohongan ?

 

Jika jejak-jejak digital kita dikumpulkan,  apakah akan memperlihatkan ada masa gelap yang kita ingin kabur darinya ?

 

Apakah ada kata-kata  yang awalnya menjadi simbol dari  prinsip/ideologi kita  tapi  kemudian muncul  tindakan-tindakan kita yang justru menabrak prinsip/ideologi tersebut  ?

 

Apakah ada rekaman atau catatan  yang coba kita hapus demi koherensi  dengan  konstruksi reputasi yang kita inginkan ?

 

Pertanyaan-pertanyaan ini menjadi penting ketika akhirnya menyadari bahwa reputasi sehebat apapun akan mampu bertahan jika ditopang oleh tiang-tiang kejujuran.  Seperti kata petuah lama:  kejujuran adalah mata uang yang akan bertahan sampai kapan pun,  apalagi di era sekarang yang memungkinkan setiap orang bisa melacak jejak-jejak digital dari orang lain.

 

(15 September 2016)