DUNIA LEWAT MATA INTROVERT

 

Introvert adalah kecenderungan untuk lebih menyukai kesendirian dibandingkan bersama orang lain.  Seorang introvert, sebagian atau seutuhnya puas dengan kesendirian.   Banyak aktivitasnya membutuhkan ketenangan.    Orang-orang yang memisahkan diri dari kerumunan pesta hampir bisa dipastikan sebagai introvert.  Tapi orang yang sedang mengalami depresi bukan berarti introvert.  Introvert  bahagia dengan kesendiriannya.  Tentu saja orang introvert perlu teman seperti orang-orang lain dan butuh kehidupan sosial,  tapi dia tidak butuh harus bersama orang-orang lain untuk merasa bahagia.  Aktivitas yang melihatkan banyak orang membuat orang introvert cemas. Orang introvert bukannya punya kecemasan dalam berhubungan dengan orang ramai,  mereka hanya tidak menyukai itu.

 

Sehingga orang introvert cenderung sangat selektif dalam memilih aktivitas, yang pada gilirannya menjadikannya pandai dalam manajemen waktu.   Bill Gates dan Warren Buffet adalah termasuk introvert.  Karena itu menarik juga mencoba mendengar persepsi orang-orang introvert atas beberapa hal  (berdasarkan imajinasi atas karakter introvert)

 

Reuni:  “ini adalah aktivitas konyol.  Ngapain reuni berulang-ulang.  Seakan-akan orang-orang itu ingin mengawetkan masa lalu.  Iya benar kita pernah satu kelas saat SMP.   Kita kenal semuanya,  tapi ingat:  bukan semuanya teman dekat kita.  Kita paling bersahabat dengan dua atau tiga orang. Yang selalu bersama-sama dan saling memberi kabar terakhir.  Jadi ngapain 30 sampai 40 orang dalam satu kelas dikumpulkan lagi berulang-ulang setelah 30 tahun kemudian.  Apakah mereka pikir setelah puluhan tahun kita menjadi teman dekat.  Tidak.  Yang kita merasa tidak nyambung ya tetap tidak nyambung.  Yang kita merasa asing ya tetap asing berapa puluh tahun pun setelah itu.    Reuni cukup sekali dalam sepuluh tahun.  Setelah itu biarkan mereka secara alamiah berkumpul sendiri-sendiri berdasarkan apa yang mereka sebut sebagai persahabatan.

 

Antara konser dan nonton film:   “sungguh tak pernah terpikirkan untuk jingkrak-jingkrak bersama dengan dilihat banyak orang dalam sebuah keramaian yang terlalu berisik.  Saya lebih suka menonton film.  Saya bisa menikmati kedalamannya.  Saya bisa menikmati pesan-pesannya.  Kalau kemudian terhanyut sendirian,  itu melegakan bisa meneteskan air mata tanpa dilihat orang lain.

 

Rapat: “masih saja ada pemborosan waktu melakukan rapat dengan sangat banyak orang untuk menyelesaikan masalah.  Untuk mendapatkan gambaran mengenai akar permasalahan saja mesti menghabiskan waktu bermenit-menit untuk mendengarkan belasan versi berbeda mengenai sebuah masalah.  Mestinya  saya sendiri bisa mengidentifikasi masalah dan mencari solusinya dengan bicara dengan orang-orang yang punya kaitan tanggung jawab dengan masalah  itu satu per satu.  Itu lebih efektif.

(22 May 2017)

CERITA BURUK

 

Ada seorang teman yang berkarya sebagai sutradara dokumenter dan sesekali film iklan.  Hasil karyanya banyak yang layak diberi nilai  9 dalam skala 1 sampai 10 karena  detil, indah dan memiliki kealaman.   Suatu ketika dia berada dalam masa “berpuasa” karena tidak ada pesanan selama beberapa bulan. Akhirnya dia merelakan editornya untuk mengambil pekerjaan yang lain. Kali ini editor itu mengambil pekerjaan mengedit sinetron yang tayang setiap hari di sebuah  stasiun tv.

 

Beberapa bulan kemudian, editor ini telah “berubah”.   Beberapa aturan dasar yang ada dalam produksi video dilanggarnya karena pengalaman beberapa bulan belakangan mengijinkan dirinya untuk melanggar aturan-aturan itu.  Pemakluman yang sering keluar, “ayolah.  Nggak usah terlalu taat aturan dan pakem,  ini kan cuma sinetron.”      Padahal mereka semua sadar bahwa jika salah satu aturan dilanggar bisa mengurangi nilai kualitasnya.   Bagi mereka kualitas bukan prioritas.  Sehingga tak heran sering kali muncul keluhan mengenai kualitas sinetron yang di bawah rata-rata

 

Pelajaran yang bisa diambil:   misi untuk menghasilkan sebuah cerita yang baik bisa digagalkan oleh anggota-anggota tim yang punya mental sekadar menyelesaikan pekerjaannya.

 

Cerita adalah hasil kerja dari sebuah tim.  Bahkan seseorang yang tampil sendirian di atas panggung untuk bercerita , entah itu pendongeng atau komedian tunggal,  membutuhkan tim untuk mematangkan konsep cerita dan berceritanya.  Ada tahap demi tahap pencapaian yang harus dilalui sampai akhirnya cerita itu sampai ke audiensnya.  Pengabaian tahap-tahap ini akan menghasilkan cerita yang belum layak muncul.  Alias cerita buruk.

 

Mungkin benar audiens tidak terlalu peduli apakah pencahayaannya kurang , atau komposisi gambar tidak tepat,  atau  antar adegan yang tidak nyambung dan lain-lain.  Audiens hanya bisa menilai ceritanya baik atau buruk. Dan, percayalah,  cerita buruk seringkali terjadi akibat anggota tim tidak menjalankan komitmennya dalam memprioritaskan kualitas.

(5 May 2017)

SEINFELD

Dua komedian bekerja sama membuat acara tv  berdurasi  90 menit. Mereka tak berpengalaman menulis naskah tv  sehingga kemudian dengan cepat kehabisan bahan.   Karenanya mereka mengubah konsep   menjadi acara tv mingguan berdurasi 30 menit.    Ketika mereka mengirimkan naskah mereka, sebagian besar pejabat  jaringan televisi tidak menyukai atau tidak paham.   Tapi tetap disetujui untuk diproduksi satu episode pilot

 

Setelah ada  episode pilot,  lalu diadakan Focus Group Discussion (FGD).  Seratus orang  dikumpulkan di Los Angeles untuk mendiskusikan kekuatan dan kelemahan acara tv  tersebut.  Para penonton ini menyebut acara  ini sebagai kegagalan total.  Salah seorang penonton berkomentar terus terang,  ”mereka ini pelawak yang tidak lucu,  siapa yang mau menonton ?!”   Setelah 600 penonton diperlihatkan juga episode pilot ini di 4 kota berbeda, laporan ringkasnya menyimpulkan, “ Tak ada satu segmen penonton pun yang mau menonton acara ini untuk kedua kalinya”.  Dipastikan program ini akan mendapat rating rendah.

 

Episode pilot itu  akhirnya ditayangkan juga dan tak berhasil, seperti yang sudah diduga.  Jadi berdasarkan hasil FGD dan hasil penayangan itu,  sudah tidak ada  ampun lagi buat program ini. Namun salah satu pejabat jaringan tv justru mendorong untuk memproduksi 4 episode lagi. Setahun setelah penayangan episode pilot itu,  4 episode baru ini ditayangkan. Dan sekali lagi gagal.  Dengan waktu yang semakin menipis jaringan tv itu memesan setengah musim (6 episode) sebagai pengganti acara yang dibatalkan . Namun salah satu penulis naskah sudah mau berhenti karena kehabisan ide.  Untungnya dia berubah pikiran.

 

Setelah itu….yang tersisa hanyalah  kisah sukses:   selama sepuluh tahun berikutnya  mendominasi rating tv  Nielsen dan meraih   pendapatan lebih dari 1 miliar dolar AS.   Acara ini menjadi acara tv paling populer  di Amerika Serikat  dan majalah TV Guide menobatkannya sebagai program terbaik sepanjang masa. Itulah acara tv Seinfeld.

 

Banyak hal bisa disimpulkan dari pelajaran Seinfeld ini.  Yang terutama adalah sehebat apapun seorang manager tv tetap tidak bisa memastikan sebuah program sukses atau tidak.  Yang kedua, bahkan FGD yang melibatkan 600 orang pun tak mampu mencium sedikit bau kesuksesan dari program tesebut.  Lalu apa implikasinya dari dua hal poin tersebut  ?

 

Itu bisa mewakili beberapa pilihan. Pertama,   karena FGD atau  penelitian kualitatif  apapun  tidak mampu mendeteksi keberhasilan sebuah program, maka setiap program tv baru tidak perlu mengadakan FGD, cukup produksi 10 episode lalu tayangkan dan lihat hasilnya.  Kedua,   FGD gagal mendeteksi 1 episode pilot karena masih merasa asing dengan ide baru yang ditawarkan sebuah program tv, karena itu minimal dalam sebuah FGD harusnya ada 3 episode pilot.  Ketiga,  buang semua asumsi-asumsi dasar mengenai pola keberhasilan program tv, dan berilah ruang eksperimen untuk program tv yang benar-benar original dan berbeda dari program tv yang pernah ada.

(8 June 2017)

PEMBICARA PUBLIK

 

Ada berbagai sebab hingga orang menjadi pembicara publik.

 

Ada yang memang sejak awal bercita-cita menjadi pembicara publik.  Mendekati, mengakrabi dan berguru pada beberapa pembicara publik yang sudah lebih dulu dikenal.  Bagi orang ini, menjadi pembicara publik adalah sesuatu yang penahapan pencapaian.  Mesti dikerjakan tahap demi tahap hingga menjadi tingkat tertinggi. Ujian dituntaskan satu per satu untuk mencapai standar tertinggi sebagai pembicara publik.

 

Ada yang sudah terkenal dulu sebelum menjadi pembicara publik. Entah itu karena dia sering muncul di tv sebagai artis sinetron atau pemain musik hingga akhirnya dia sering berada dalam situasi harus berbicara di depan banyak orang yang menjadi fansnya. Lalu disadarinya kemudian bahwa bicara di depan orang banyak itu menyenangkan. Dia menikmati perannya yang tidak sengaja ini.

 

Ada yang menjadi pembicara publik karena karya-karyanya dikenal.  Entah penulis novel atau pewirausaha sukses.  Karena produk-produknya telanjur sangat dikenal luas di masyarakat maka dia pun mempunyai daya magnet untuk memberikan nasehat-nasehat.  Bagi penulis novel terkenal, tentu saja ditunggu-tunggu nasehat mengenai tips menulis novel yang best seller. Bagi pewirausaha sukses, pasti sangat dinanti berbagai tipsnya dalam mengelola sebuah bisnis hingga berhasil.

 

Apapun dari ketiga itu pada akhirnya yang akan dikenang adalah apakah anda pembicara publik yang menyampaikan ide baru atau tak lebih mengulang-ulang sebuah wacana.

 

(12 Apri 2017)

POLITIK

 

Ada beberapa macam tipe orang dalam memandang pemilu dan pilkada

 

Tipe pengikut,  menganggap ada kebenaran dari salah satu calon peserta pemilu sehingga merasa sangat sepadan untuk  ikut berjuang membuat  calon peserta pemilu ini menang.  Kemenangan si peserta pemilu adalah kemenangan dirinya. Dia dengan sukarela menjadi pembela jika ada serangan terhadap calon peserta pemilu yang diikutinya.

 

Tipe pengamat,  menganggap pemilu atau pilkada adalah laboratorium dari segala analisisnya.   Pemilu adalah kesempatan untuk menunjukkan kejelian dalam memandang berbagai aktivitas dan tindakan peserta pemilu.   Jika kejelian dan kecermatan itu terlihat publik, maka akibatnya bisa sangat positif dan langsung terhadap prestis dan penghasilan mereka.

 

Tipe pebisnis, menganggap pemilu atau pilkada  adalah sebuah momen menuju perubahan yang mendukung atau membahayakan bisnisnya selama ini.   Kalau pun mereka merasa tidak mampu menjadi aktor utama yang mengendalikan perubahan tersebut,  maka mereka akan mempersiapkan diri agar mampu beradaptasi terhadap perubahan yang terjadi.

 

Selain dari 3 golongan ini adalah golongan yang menganggap pemilu atau pilkada sekadar pernik-pernik demokrasi yang menganggap sikap apolitik adalah sah-sah saja.

 

3 golongan ini mewakili kepetingan apa yang sedang diperjuangkannya dalam kaitan dengan pemilu. Dan golongan pebinis lah yang selalu sadar mengenai perubahan (politik) sehingga dengan sadar pula harus mengumpulkan kekuatan dalam merealisasikan ide yang mendukung kepentingan mereka. Golongan pebisnis harus selalu menemukan ide-ide baru, bahkan dalam dunia politik.

(21 March 2017)

KONSISTENSI

 

Kalau anda menganggap  pencapaian kreatif itu membutuhkan konsistensi, belajarlah pada  Dr. Andre Geim:  Satu-satunya orang yang pernah meraih penghargaan Ig Nobel dan penghargaan Nobel Fisika.   Kita tahu ada Penghargaan Nobel  ada juga penghargaan Ig Nobel.   Penghargaan Ig Nobel adalah parodi terhadap penghargaan nobel yang diberikan setiap musim gugur untuk 10 pencapaian yang tidak biasa atau aneh dalam riset sains.  Penghargaan ini diberikan sejak tahun 1991 dengan tujuan untuk “menghargai pencapaian yang membuat orang tertawa dan kemudian membuat kita berpikir.”

 

Dr Andre Geim mendapatkan penghargaan Ig nobel pada tahun 2000 karena upayanya  mengangkat seekor katak hidup dengan magnet.    Gambar katak terbang pertama kali muncul di majalah Physics World edisi April 1997,  meskipun banyak yang menduga ini adalah bagian April Mob,  ngerjain orang di bulan April. Kebanyakan dari kita diajarkan bahwa sifat magnetis dari air itu  milyaran kali lebih lemah dari besi,  bahkan tidak cukup kuat untuk melawan gravitasi,  tapi demontrasi menunjukkan kekuatan yang sesungguhnya dari sifat magnetis air..

 

Geim menjadi sangat ingin tahu mengenai magnetism ketika dia tidak mendapatkan peralatan untuk melanjutkan eksperimenya saat bekerja di Radboud University Nijmegen’s High Field Magnet Laboratory di Belanda.    Jadi  di suatu jumat malam dia menyetel   elektromagnet hingga kekuatan maksimum  lalu menuangkan air langsung ke mesin mahal tesebut.  Dia lupa  mengapa dia “bertindak sangat tidak profesional”  seperti itu tapi dia bisa melihat  bagaimana air yang mengucur itu “terdiam”  dalam lobang bertikal.  Bola bola air mulai mengapung. Bola-bola air itu terangkat.   Dia menemukan “kekuatan responsive magnetik air”  yang bisa bertindak melawan kekuatan gravitasi bumi.   Seekor katak terangkat dalam lobang vertikal dalam sebuah medan magnet di  Nijmegen High Field Magnet Laboratory.

 

Apa yang kelihatannya seperti becandaan dan tidak serius ini kemudian berubah menjadi aktivitas yang disebut Geim sebagai “Friday Night Experiment”.  Dalam eksperimen ini,  laboratorium Geim mengerjakan “hal-hal gila yang mungkin remeh temeh tapi jika dilakukan mungkin bisa memberikan hasil yang  sangat-sangat mengejutkan”.  Dari awal karir Geim,  setidaknya dia mencurahkan 10 persent dari waktu laboratoriumnya untuk riset semacam itu.

 

Dalam perspektif Geim “lebih baik salah daripada membosankan”.  dari 24 lebih eksperimen yang pernah dilakukan di Friday Night Experiment, ada yang berhasil,  tingkat keberhasilannya 12,5%.  Katak terbang itu keberhasilannya yang pertama,  yang kedua adalah penciptaan “gecko tape” zat perekat  yang bisa memberi kemampuan memanjat seperti kadal.  Ketiga, isolasi terhadap Graphene.  Yang ketiga inilah penemuan sangat penting yang mengantar Geim mendapatkan penghargaan Nobel Fisika yang sesungguhnya pada tahun 2010.

 

Secara sederhana, graphene (grafena) adalah molekul yang terdiri dari atom karbon murni.  Atom-atom ini terkait satu sama lain, membentuk pola heksagonal dua dimensi menyerupai sarang lebah. Singkatnya, dapat dikatakan bahwa graphene merupakan unit struktural dari grafit.    Setelah penemuan isolasi Graphene oleh Geim itu,  graphene telah menjadi subyek dari penelitian yang tak terhitung jumlahnya dalam beberapa tahun terakhir.   Pemanfaatan graphene di masa depan bisa menjadi akhir bagi plastik, berbagai komponen elektronik, dan banyak teknologi yang kita gunakan saat ini.

 

“Perjalanan terbesarnya adalah bergerak ke dalam area yang anda bukan ahlinya, “kata Geim.  “Kadangkala saya bercanda bahwa saya tidak tertarik dalam melakukan riset (re-search) tapi hanya tertarik melakukan pencarian (seach).   Filosofi karir  Geim adalah “bermain di air dangkal”:  “Lakukan sesuatu di sebuah bidang baru selama beberapa tahun lalu tinggalkan !”

 

(16 March 2017)

POTENSI TERBAIK

 

Sekali lagi belajar dari Seth Godin.  Kita seringkali sengaja masuk dalam sebuah komunitas agar potensi terbaik kita muncul.  Bersama anggota komunitas lain yang lebih senior atau lebih ahli, kita berharap ada peningkatan dalam wawasan dan keahlian kita.

 

Tapi adakalanya kita masuk dalam sebuah komunitas yang justru menguatkan semangat eksklusif,  berpandangan picik dan bersikap tidak toleran terhadap perbedaan.

 

Begitu kita masuk dalam sebuah komunitas, pilihannya adalah hanyut sebagai anggota atau sekadar menjadi penonton yang tidak  ambil peran.  Tidak mungkin mengubah budaya yang telanjur dikembangkan dan berkembang dalam komunitas itu.

 

Tantangannya pada akhirnya adalah memilih komunitas yang  paling sesuai.  Jika kita tidak mampu menemukan,   mengapa tidak membentuk komunitas baru yang sesuai dengan bayangan ideal mengenai budaya seperti apa yang akan memunculkan potensi terbaik kita ?

 

(12 March 2017)

BERITA

 

Saya termasuk yang pesimis terhadap berita.  Berita begitu berkelimpahan tanpa saya rasakan manfaatnya.  Manfaatnya hanya sekadar menjadi lebih tahu, tidak lebih jauh dari itu.  Dalam pengalaman saya,   mengikuti perkembangan sebuah perisiwa adalah sesuatu yang absurd.  Mengapa harus terus-menerus mengikuti peristiwa yang berputar-putar jika  yang benar-benar kita perlu tahu itu sekadar bagaimana posisi peristiwa itu pada akhirnya.   Dalam uji coba saya untuk tidak baca berita koran, melihat berita tv,  selama setahun ini minimal     saya tidak merasa ketinggalan tapi justsru merasa lebih produktif karena tidak dirongrong oleh berita-berita yang tak perlu.

 

Bagi saya,  berita telanjur sekadar fakta.  Fakta tidak bicara apa-apa jika hanya dipaparkan begitu saja tanpa dikaitkan dengan ide-ide tertentu.   Sulit membuktikan premis saya ini sampai akhirnya saya bertemu dengan film dokumenter Where to Invade Next karya Michael Moore.   Michael Moore  punya reputasi sebagai pembuat dokumenter nyeleneh karena memaparkan fakta-fakta menjadi sebuah cerita yang sangat memojokkan pemerintah AS.  Lewat film tersebut,  Michael Moore  tetap menyajikan fakta-fakta menjadi sebuah cerita, tapi kali ini bukan untuk menyerang siapapun tapi memprovokasi penontonnya dengan sangat brilian.

 

Ide Michael Moore sederhana:   Amerika Serikat tidak boleh berbangga sebagai negara adikuasa sehingga menutup mata terhadap kemungkinan negara-negara tertentu lebih baik daripada AS.    Di negara masa saja Amerika Serikat bisa mengadopsi ide-ide luar biasa yang telah dijalankan ?   Michael Moore menunjuk negara-negara  Italia, Finlandia, Jerman,  Slovenia,  Portugal, Tunisia.

 

Fakta-fakta satu demi satu ditampilkan. Di Finlandia misalnya, fakta-fakta menunjukkan betapa hebatnya sistem pendidikan di Finlandia.  Pemerintah Finlandia berpandangan bahwa pendidikan adalah kebutuhan dasar warga Finlandia sehingga pendidikan merupakan pelayanan publik. Pengelolaan sekolah diambil alih oleh negara, dan sepenuhnya diusahakan dan dikerjakan demi kebaikan anak didik. Seorang guru Finlandia mengatakan, “waktu saya dapat kesempatan pelatihan sebagai guru di Amerika Serikat,  saya mendengar tetangga saya menasehati anaknya.  Dia bilang, “nak kamu bisa menjadi apa saja yang kamu saat dewasa nanti.”  Saya menganggap ini bohong.  Sampai kemudian saya mendapatkan kesempatan untuk mengajar di Finlandia.  Sekolah-sekolah di Finlandia  mendasarkan filosofi pengajarannya pada apa yang disukai anak dan bagaimana anak memandang masa depannya. Atas filosofi itu, saya kemudian merasakan bahwa sama sekali tidak salah jika kita mengatakan pada anak-anak “kamu bisa menjadi apapun yang kamu mau saat dewasa nanti”  karena sejak dini anak-anak sudah disemangati dan dibimbing untuk mewujudkan itu.”

 

Fakta-fakta ketika disusun untuk sebuah konteks yang inspiratif, cerita yang  dihasilkannya bisa kuat dan positif.   Dan cerita seperti itu tidak mungkin diadakan setiap hari.

 

(6 March 2017)

PENUNDA

 

Manusia adalah makhluk penunda yang parah.  Seakan-akan ada mantra yang tertanam dalam benak kita “kalau bisa dikerjakan nanti, mengapa harus dikerjakan sekarang ?”.     Bahkan ketika sudah dimulai pun, godaannya begitu besar untuk tidak menuntaskan.  Macam-macam yang berkecamuk dalam pikiran “jika nanti benar-benar sudah selesai apakah mendapat respons yang sebanding dengan segala kerja keras ini”,  “jangan-jangan apa yang sedang aku kerjakan ini bukan sesuatu yang benar-benar berarti.”   Setiap 3 menit kita mengalami interupsi.  Dalam pekerjaan apapun, setiap 3 menit ada godaan untuk teringat hal-hal lain di luar yang kita kerjakan pada saat tersebut.  Itu hasil penelitian Gloria mark guru besar informatika dari University of California.  Untuk mampu menuntaskan pekerjaannya,  manusia perlu tenggat waktu.

 

Untuk membuat tenggat waktu yang positif, Scott H Young punya 22 tips.  Kali ini cukup 10 tips saja dulu.

 

  1. Use Parkinson’s Law –    Hukum Parkison menyatakan bahwa tugas-tugas  cenderung merambah ke luar dari  waktu-waktu yang telah disediakan.    Dengan menetapkan tenggat waktu yang ketat di awal,  anda bisa menghentikan perambahan waktu ini dan fokus pada hal-hal yang paling penting.

 

  1. Timebox –   Tetapkan  tenggat waktu singkat antara 60 -90 menit untuk mengerjakan sebuah tugas yang spesifik.  Setelah waktunya habis, berhentilah.  Cara ini bisa menghentikan penundaan  dan memaksa anda untuk menggunakan waktu dengan bijaksana.

 

  1. 80/20 –   Prinsip Pareto menyatakan bahwa 80% dari nilai itu merupakan  20% dari input.  Tetapkan aturan terhadap proyek-proyek anda untuk fokus pada 20% yang penting ini baru kemudian kerjakan yang 80% jika masih ada waktu.

 

  1. Project VS Deadline –   Semakin fleksibel proyek anda, semakin ketat tenggat waktu yang harus anda tetapkan.  Jika sebuah tugas mempunyai fleksibilitas yang terbatas dalam penyelesaiannya,  tenggat waktu yang lunak  akan membuat anda merasa nyaman.

 

  1. Break it Down –   Setiap tenggat waktu yang lebih dari 1 hari  harus diurai dalam unit-unit yang lebih kecil.  Tenggat waktu panjang seringkali gagal untuk menggerakkan  anda jika tidak diuraikan dalam unit-unit yang bisa dikelola.

 

  1. Hofstadter’s Law –  Pada dasarnya hukum ini menyatakan bahwa kenyataannya kita selalu melakukan lebih lama dari waktu yang kita pikirkan.  Bahkan sebuah aturan dari  pengembangan piranti lunak adalah waktunya  dua kali lebih lama daripada yang dipikirkan atau direncanakan.  Lalu tambahkan enam bulan.  Karena itu, bersabarlah dan beri waktu yang longgar untuk proyek-proyek yang kompleks.

 

  1. Backwards Planning –   Tetapkan tenggat waktu lebih dulu baru kemudian putuskan bagaimana mencapainya. Pendekatan ini sangat baik ketika pilihan sangat banyak dan proyek itu mempunyai kemungkinan-kemungkinan yang tak terbatas.

 

  1. Prototype –   Jika anda mencoba sesuatu yang baru,  lakukan   percobaan atas versi yang lebih kecil  dari proyek tersebut untuk memutuskan sebuah tenggat waktu final.  Tulislah sebuah e-book 10 halaman sebelum menulis novel 300 halaman atau coba untuk meningkatkan 10% penghasilan anda sebelum menjadikannya dua kali lipat

 

  1. Find the Weak link –  Cari tahu apa yang bisa merusak berbagai perencanaan anda dan  temukan solusinya.  Mengetahui apa yang tidak diketahui akan membantu anda  memformat tenggat waktu anda.

 

  1. No Robot Deadlines –   Robot bisa bekerja tanpa tidur, rilaksasi atau distraksi.  Kita semua bukan robot. Jangan membuat jadwal tenggat waktu dengan mengharapkan anda bisa bekerja 16 jam setiap hari untuk menyelesaikan itu.

(25 January 2017)

LEBIH MURAH

 

Untuk produk yang sama,  bagaimana membuatnya bisa terjual selain lebih murah ?

 

Salah satunya lewat penipuan.  Di sebuah pasar yang menjual beragam tas, seorang pengunjung mampir di toko paling depan.  Dia melihat-lihat sebuah koper.  Penjual bergaya tak terlalu semangat  menjual koper itu.  “ini memang berkualitas pak. Karena itu harganya agak tinggi.”    Dia menyebut angka satu juta enam ratus ribu rupiah.  Pengunjung tampak tak tertarik dengan angka semahal itu.   Penjual memaksa untuk memberi angka penawaran.  Pengunjung tampak enggan menawar.   Penjual langsung menurunkan hingga Rp 850.000.  Dari sini saja sudah mencurigakan karena harga turun dengan sangat drastis.  Tapi lumayan membuat pengunjung itu merasa bersalah jika tidak memberi penawaran.  Dalam waktu yang genting ini,  pengunjung jadi terburu-buru hingga menyebut angka yang sembarangan “saya pikir harganya tidak lebih dari Rp 700.000”.   Angka itu dianggap angka penawaran.  Penjual pun merespons “ya sudahlah, agar jadi,  750 ribu saja.”   Pengunjung tidak mau mengubah tawaran (dalam hatinya merasa menyesal telah menyebut angka Rp 700 ribu).  Penjual pun melepas dengan harga Rp 700 ribu.   Ketika mengunjungi toko lain di belakang, pengunjung ditawari harga Rp 600 ribu untuk barang sejenis.

 

Menipu adalah cara putus asa untuk menjual. Penjual ini merasa satu-satunya peluang adalah posisi tokonya di depan sehingga merupakan kunjungan pertama dari pengunjung.  Dia harus cari cara agar terjadi closing sebelum pengunjung berkeliling membandingkan harga-harga.  Penjual ini tidak sadar bahwa membandingkan harga  semudah membuka internet di  ponsel.  Ada banyak toko online yang menyebutkan harga.  Mungkin dia merasa beruntung bisa menipu salah seorang pengunjung – yang kebetulan lengah– tapi itu pasti kejadian yang tidak bisa diulang-ulang.

 

Seorang pengusaha restoran memberi resep lain,  yang penting itu bukan lebih  murah tapi tidak lebih mahal.  Jelas itu berbeda.  Anda tidak perlu berusaha membuat produk anda semurah mungkin.  Tapi bagaimana agar terkesan tidak mahal.  Pengusaha ini memberi ilustrasi:  di toko material manapun harga semen adalah sama. Kalau sampai harga semen di sebuah toko material itu lebih mahal dari toko material lain, maka seluruh barang jualan toko material itu akan dipersepsi lebih mahal.   Begitu juga dengan restoran,  ada menu-menu tertentu yang harus dijaga untuk tidak mahal agar seluruh produk lain dipersepsi tidak mahal.

 

Tentu saja harga tidak bisa disamakan untuk semua daerah.  Setiap daerah mempunyai biaya yang berbeda-beda.   Antara toko di Kemang dan toko di Mangga Dua tentu sangat berbeda dalam menanggung biayanya.  Tapi bagaimana caranya sebuah toko kamera di Kemang tetap bisa bertahan meski menjual kamera yang sama dengan kamera yang dijual di toko Mangga Dua ?   Harga kamera pasti sama tapi yang membedakan adalah harga-harga asesorisnya.

 

Berusaha menjadi lebih murah bisa bikin frustrasi. Permainannya adalah bagaimana caranya agar tidak dipersespsi lebih mahal. Di sinilah tetap diperlukan olah kreativitas.

(24 January 2017)