REVERSE THINKING

 

Ada beberapa penulis mempromosikan teknik reverse thinking (berpikir terbalik). Salah satunya adalah Cyriel Kortleven. Kita tidak mengikuti logika normal dari sebuah masalah (atau elemen penting dari masalah)  tapi membaliknya dan menemukan ide-ide yang berlawanan.  Berbagai pengalaman menunjukkan selalu menyenangkan untuk melihat sisi berlawanan atau negatif dari sebuah masalah. Menurut Cyriel, ada 2 hal yang bisa dilakukan dalam kaitan dengan reverse thinking ini.

  1.  kita membalik  “ide-ide salah” itu sekali lagi dan pada saat bersamaan kita  buat ide-ide itu lebih kuat (membuat ide menjadi lebih kuat ini sangat penting karena kalau tidak kita hanya mendapatkan ide rata-rata yang sudah ada sebelumnya )

Contoh:  “saya tidak akan pernah bawa kartu nama lagi”

Dibalik menjadi  “saya akan selalu bawa kartu nama dalam jumlah banyak.”

Dan membuat ide itu menjadi lebih kuat:  “saya akan memberi kartu nama pada setiap orang yang saya temui dalam kegiatan  bersama”

atau

“saya bawa sebuah printer kecil dan bisa mencetak kartu nama dimanapun saya inginkan”

  1.  Kita sengaja berada dalam atmosfer  “ide yang dibalik” itu dan memunculkan ide-ide baru.

Contoh:  “Saya tidak akan pernah bawa kartu nama lagi.”

Dibalik  menjadi   “saya akan mengikuti pelatihan ingatan  dan akan mengingat semua detail kontak dari orang-orang yang pernah saya ajak  bicara  (dan mengirimkan email kepada orang tersebut dalam waktu 24 jam)”

atau

“saya akan selalu mengenakan kaos bertuliskan detail kontak saya  dan meminta orang lain untuk memotret kaos saya”

atau

“di setiap kegiatan jaringan, saya melakukan  sesuatu yangt luar biasa sehingga setiap orang akan ingat dan pada saat itulah saya  meneriakkan alamat website saya (peluangnya besar orang-orang akan ingat.)

 

Intinya, dalam reverse thinking, sebuah ide bisa dibalik lebih dari satu kali untuk merangsang ide yang unik.  Sejalan dengan berbagai teknik lain dalam kreativitas, sebuah metode akan sangat bermanfaat dalam menghasilkan berbagai ide baru. Dan semua itu dalam kerangka cara berpikir divergen dengan adagiumnya yang terkenal: cara paling tepat untuk menghasilkan ide terbaik adalah memproduksi ide sebanyak-banyaknya.

 

(15 June 2017)

ORIGINALS

Adam Grant dalam bukunya Originals memberi analogi yang sangat tepat mengenai  ide baru sulit sekali untuk bisa dipresentasikan agar diterima orang lain.  Ibaratnya kita melakukan ketukan dengan jari tangan  kita di meja mengikuti irama sebuah lagu dan orang lain diminta merasakan lagu yang sama.  Ada variasi jutaan lagu yang ada di benak orang lain. Tak mungkin tertebak. Kecuali jika kita memberi kode atas lagu yang kita mainkan lewat ketuk jari tersebut.

 

Misalnya,  kita menyebutkan 2  lagu yang sangat populer “nina bobo” dan  “bintang kecil, maka dengan mudah kita akan mengarahkan persepsi orang lain untuk menebak  lagu yang kita mainkan lewat ketukan jari tersebut.  Dengan kata lain,   pendengar harus dibuat merasa familiar dengan ide baru tersebut.  Berdasarkan penelitian, setidaknya ide baru itu harus disebut selama minimal 20 kali agar pendengar merasa akrab dengan ide baru tersebut. Setelah itu pendengar terbukti lebih siap untuk mendengarkan ide baru yang akan disampaikan.

 

Tentu saja cara untuk membuat ide baru itu menjadi familier itu bisa macam-macam.  Misalnya dalam pertemuan informal sebelum presentasi resmi beberapa kali melontarkan atau menyebut  ide baru tersebut.  Intinya,  otak perlu mendapatkan pembiasaan atas sebuah ide.  Ide yang terlalu asing atau tidak dikenali akan mengalami penolakan yang sangat kuat.

(5 June 2017)