DUNIA LEWAT MATA INTROVERT

 

Introvert adalah kecenderungan untuk lebih menyukai kesendirian dibandingkan bersama orang lain.  Seorang introvert, sebagian atau seutuhnya puas dengan kesendirian.   Banyak aktivitasnya membutuhkan ketenangan.    Orang-orang yang memisahkan diri dari kerumunan pesta hampir bisa dipastikan sebagai introvert.  Tapi orang yang sedang mengalami depresi bukan berarti introvert.  Introvert  bahagia dengan kesendiriannya.  Tentu saja orang introvert perlu teman seperti orang-orang lain dan butuh kehidupan sosial,  tapi dia tidak butuh harus bersama orang-orang lain untuk merasa bahagia.  Aktivitas yang melihatkan banyak orang membuat orang introvert cemas. Orang introvert bukannya punya kecemasan dalam berhubungan dengan orang ramai,  mereka hanya tidak menyukai itu.

 

Sehingga orang introvert cenderung sangat selektif dalam memilih aktivitas, yang pada gilirannya menjadikannya pandai dalam manajemen waktu.   Bill Gates dan Warren Buffet adalah termasuk introvert.  Karena itu menarik juga mencoba mendengar persepsi orang-orang introvert atas beberapa hal  (berdasarkan imajinasi atas karakter introvert)

 

Reuni:  “ini adalah aktivitas konyol.  Ngapain reuni berulang-ulang.  Seakan-akan orang-orang itu ingin mengawetkan masa lalu.  Iya benar kita pernah satu kelas saat SMP.   Kita kenal semuanya,  tapi ingat:  bukan semuanya teman dekat kita.  Kita paling bersahabat dengan dua atau tiga orang. Yang selalu bersama-sama dan saling memberi kabar terakhir.  Jadi ngapain 30 sampai 40 orang dalam satu kelas dikumpulkan lagi berulang-ulang setelah 30 tahun kemudian.  Apakah mereka pikir setelah puluhan tahun kita menjadi teman dekat.  Tidak.  Yang kita merasa tidak nyambung ya tetap tidak nyambung.  Yang kita merasa asing ya tetap asing berapa puluh tahun pun setelah itu.    Reuni cukup sekali dalam sepuluh tahun.  Setelah itu biarkan mereka secara alamiah berkumpul sendiri-sendiri berdasarkan apa yang mereka sebut sebagai persahabatan.

 

Antara konser dan nonton film:   “sungguh tak pernah terpikirkan untuk jingkrak-jingkrak bersama dengan dilihat banyak orang dalam sebuah keramaian yang terlalu berisik.  Saya lebih suka menonton film.  Saya bisa menikmati kedalamannya.  Saya bisa menikmati pesan-pesannya.  Kalau kemudian terhanyut sendirian,  itu melegakan bisa meneteskan air mata tanpa dilihat orang lain.

 

Rapat: “masih saja ada pemborosan waktu melakukan rapat dengan sangat banyak orang untuk menyelesaikan masalah.  Untuk mendapatkan gambaran mengenai akar permasalahan saja mesti menghabiskan waktu bermenit-menit untuk mendengarkan belasan versi berbeda mengenai sebuah masalah.  Mestinya  saya sendiri bisa mengidentifikasi masalah dan mencari solusinya dengan bicara dengan orang-orang yang punya kaitan tanggung jawab dengan masalah  itu satu per satu.  Itu lebih efektif.

(22 May 2017)