CERITA BURUK

 

Ada seorang teman yang berkarya sebagai sutradara dokumenter dan sesekali film iklan.  Hasil karyanya banyak yang layak diberi nilai  9 dalam skala 1 sampai 10 karena  detil, indah dan memiliki kealaman.   Suatu ketika dia berada dalam masa “berpuasa” karena tidak ada pesanan selama beberapa bulan. Akhirnya dia merelakan editornya untuk mengambil pekerjaan yang lain. Kali ini editor itu mengambil pekerjaan mengedit sinetron yang tayang setiap hari di sebuah  stasiun tv.

 

Beberapa bulan kemudian, editor ini telah “berubah”.   Beberapa aturan dasar yang ada dalam produksi video dilanggarnya karena pengalaman beberapa bulan belakangan mengijinkan dirinya untuk melanggar aturan-aturan itu.  Pemakluman yang sering keluar, “ayolah.  Nggak usah terlalu taat aturan dan pakem,  ini kan cuma sinetron.”      Padahal mereka semua sadar bahwa jika salah satu aturan dilanggar bisa mengurangi nilai kualitasnya.   Bagi mereka kualitas bukan prioritas.  Sehingga tak heran sering kali muncul keluhan mengenai kualitas sinetron yang di bawah rata-rata

 

Pelajaran yang bisa diambil:   misi untuk menghasilkan sebuah cerita yang baik bisa digagalkan oleh anggota-anggota tim yang punya mental sekadar menyelesaikan pekerjaannya.

 

Cerita adalah hasil kerja dari sebuah tim.  Bahkan seseorang yang tampil sendirian di atas panggung untuk bercerita , entah itu pendongeng atau komedian tunggal,  membutuhkan tim untuk mematangkan konsep cerita dan berceritanya.  Ada tahap demi tahap pencapaian yang harus dilalui sampai akhirnya cerita itu sampai ke audiensnya.  Pengabaian tahap-tahap ini akan menghasilkan cerita yang belum layak muncul.  Alias cerita buruk.

 

Mungkin benar audiens tidak terlalu peduli apakah pencahayaannya kurang , atau komposisi gambar tidak tepat,  atau  antar adegan yang tidak nyambung dan lain-lain.  Audiens hanya bisa menilai ceritanya baik atau buruk. Dan, percayalah,  cerita buruk seringkali terjadi akibat anggota tim tidak menjalankan komitmennya dalam memprioritaskan kualitas.

(5 May 2017)

SEINFELD

Dua komedian bekerja sama membuat acara tv  berdurasi  90 menit. Mereka tak berpengalaman menulis naskah tv  sehingga kemudian dengan cepat kehabisan bahan.   Karenanya mereka mengubah konsep   menjadi acara tv mingguan berdurasi 30 menit.    Ketika mereka mengirimkan naskah mereka, sebagian besar pejabat  jaringan televisi tidak menyukai atau tidak paham.   Tapi tetap disetujui untuk diproduksi satu episode pilot

 

Setelah ada  episode pilot,  lalu diadakan Focus Group Discussion (FGD).  Seratus orang  dikumpulkan di Los Angeles untuk mendiskusikan kekuatan dan kelemahan acara tv  tersebut.  Para penonton ini menyebut acara  ini sebagai kegagalan total.  Salah seorang penonton berkomentar terus terang,  ”mereka ini pelawak yang tidak lucu,  siapa yang mau menonton ?!”   Setelah 600 penonton diperlihatkan juga episode pilot ini di 4 kota berbeda, laporan ringkasnya menyimpulkan, “ Tak ada satu segmen penonton pun yang mau menonton acara ini untuk kedua kalinya”.  Dipastikan program ini akan mendapat rating rendah.

 

Episode pilot itu  akhirnya ditayangkan juga dan tak berhasil, seperti yang sudah diduga.  Jadi berdasarkan hasil FGD dan hasil penayangan itu,  sudah tidak ada  ampun lagi buat program ini. Namun salah satu pejabat jaringan tv justru mendorong untuk memproduksi 4 episode lagi. Setahun setelah penayangan episode pilot itu,  4 episode baru ini ditayangkan. Dan sekali lagi gagal.  Dengan waktu yang semakin menipis jaringan tv itu memesan setengah musim (6 episode) sebagai pengganti acara yang dibatalkan . Namun salah satu penulis naskah sudah mau berhenti karena kehabisan ide.  Untungnya dia berubah pikiran.

 

Setelah itu….yang tersisa hanyalah  kisah sukses:   selama sepuluh tahun berikutnya  mendominasi rating tv  Nielsen dan meraih   pendapatan lebih dari 1 miliar dolar AS.   Acara ini menjadi acara tv paling populer  di Amerika Serikat  dan majalah TV Guide menobatkannya sebagai program terbaik sepanjang masa. Itulah acara tv Seinfeld.

 

Banyak hal bisa disimpulkan dari pelajaran Seinfeld ini.  Yang terutama adalah sehebat apapun seorang manager tv tetap tidak bisa memastikan sebuah program sukses atau tidak.  Yang kedua, bahkan FGD yang melibatkan 600 orang pun tak mampu mencium sedikit bau kesuksesan dari program tesebut.  Lalu apa implikasinya dari dua hal poin tersebut  ?

 

Itu bisa mewakili beberapa pilihan. Pertama,   karena FGD atau  penelitian kualitatif  apapun  tidak mampu mendeteksi keberhasilan sebuah program, maka setiap program tv baru tidak perlu mengadakan FGD, cukup produksi 10 episode lalu tayangkan dan lihat hasilnya.  Kedua,   FGD gagal mendeteksi 1 episode pilot karena masih merasa asing dengan ide baru yang ditawarkan sebuah program tv, karena itu minimal dalam sebuah FGD harusnya ada 3 episode pilot.  Ketiga,  buang semua asumsi-asumsi dasar mengenai pola keberhasilan program tv, dan berilah ruang eksperimen untuk program tv yang benar-benar original dan berbeda dari program tv yang pernah ada.

(8 June 2017)