KOMENTAR

 

Apakah komentar itu penting ?

 

Bisa jadi kita diminta secara khusus oleh seseorang untuk memberikan komentar mengenai sesuatu.    Tapi setelah kita bersungguh-sungguh memberikan komentar, ternyata orang tersebut sebenarnya tidak perlu-perlu amat dengan komentar itu.  Sehingga komentar itu tidak mengubah apapun atau tidak memberi pengaruh apapun.

 

Bisa jadi kita secara spontan memberi komentar pujian atas penampilan seseorang  kemudian setelah itu kita dikenang sebagai orang yang punya selera atas fashion.   Artinya,  komentar itu memberi pengaruh secara langsung.

 

Bisa jadi kita tergerak memberikan komentar atas sebuah masalah hangat di media sosial tapi tak ada satu pun yang menyingggung atau menyebut komentar kita. Komentar kita tenggelam dalam lautan komentar yang semuanya sekadar menjadi angka berapa banyak.

 

Bisa jadi kita menjadi bersemangat ketika banyak orang memberikan komentar yang setuju dan positif atas ide yang kita berikan.

 

Pada akhirnya komentar  hanya sampingan.  Komentar tidak pernah menjadi esensial.  Tak ada komentar pun dunia tetap berjalan biasa.   Karena itu tak semestinya kita meletakkan rasa percaya diri kita pada pondasi berupa komentar-komentar orang lain.  Tapi di sisi lain, komentar kita bisa mencuri perhatian orang lain atas kualitas diri kita.

(30 May 2017)

PENGULANGAN

Untuk media penyiaran tv,  bulan puasa adalah bulan seasonal untuk programnya.  Strategi programnya memang khusus selama 1 bulan puasa.  1 bulan yang dianggap spsesial.  Lokasi prime timenya pun berbeda dibandingkan 11 bulan lainnya.  Di bulan-bulan biasa prime time nya ada di pk 18.00 sampai 22.00. Sedangkan di bulan puasa ditambah lagi pk 03.00 – 05.00 yaitu waktu orang sahur.

 

Namun,  strategi khusus di  bulan spesial ini sekaligus menunjukkan pengulangan strategi program.   .  Jika tahun sebelumnya sukses dengan acara drama A, maka acara drama A harus dibuatkan sekuelnya untuk bisa tayang di tahun berikutnya. Begitu seterusnya sehingga tidak  heran ada sebuah drama yang sudah sampai 10 jilid alias 10 tahun.

 

Kesimpulannya:  masing-masing stasiun tv berlomba untuk menang di bulan special  ini agar ketika ketemu bulan ini lagi  di tahun  berikutnya tidak perlu starategi baru, cukup mengulang saja (tentu saja ini berpengaruh terhadap pendapatan iklan karena di tahun berikutnya dianggap punya strategi program yang terbukti ampuh).

 

Strategi baru diperlukan ketika ada program yang gagal di bulan ini, sehingga tahun berikutnya diperlukan ide baru dalam mengganti program ini.  Selebihnya sama seperti tahun lalu. Strategi program di bulan ini adalah keteraturan. Disusun satu per satu menjadi bangunan yang kokoh agar di tahun berikutnya tetap bisa di andalkan. Pengalaman membuktikan bahwa bangunan yang kokoh ini mempunyai pengaruh yang sangat besar dalam menjamin kemenangan sebuah stasiun tv di bulan ini.  Lalu dimana posisi kreativitas ?   Yang jelas kreativitas bukan berfungsi menghancurkan bangunan-bangunan yang kokoh dan nyaman  untuk  menghasilkan ide-ide yang benar-benar baru dan segar  tapi semata-mata sebagai alat untuk memecahkan persoalan ketika bangunan yang kokoh itu mempunyai masalah di beberapa bagiannya.  Selebihnya adalah pengulangan.

(29 May 2017)

PREDIKSI

 

Mungkinkah memprediksi tindakan manusia ?

 

Ide seperti itu yang menjadi inti dari cerita film seri Person of Interest karya Jonathan Nolan.  Menciptakan sebuah mesin yang menyerap semua video  yang merekam segala aktivitas manusia di seluruh dunia kemudian melalui perhitungan algoritma akan memberikan berbagai kesimpulan untuk mencegah terjadinya kejahatan atau bencana.

 

Mesin ini memang membantu memecahkan masalah, tapi mesin ini tidak bisa meramalkan dirinya sendiri.  Mesin tidak mampu memprediksi adanya campur tangan manusia lain terhadap dirinya.

 

Film seri ini seakan bicara tentang kecenderungan manusia untuk mampu memprediksi masa depan dengan cara memprediksi perilaku manusia. Tapi pada akhirnya masa depan tetap sebuah ketidakpastian.   Mungkin saja kita mampu mengumpulkan kepastian-kepastian kecil berdasarkan data untuk memprediksi masa depan.  Tapi begitu banyaknya variabel dalam perilaku manusia membuat masa depan akan tetap menjadi ketidakpastian.  Dan bukankah itu justru menariknya ketika masa depan seperti kejutan untuk kita

(23 May 2017)

DUNIA LEWAT MATA INTROVERT

 

Introvert adalah kecenderungan untuk lebih menyukai kesendirian dibandingkan bersama orang lain.  Seorang introvert, sebagian atau seutuhnya puas dengan kesendirian.   Banyak aktivitasnya membutuhkan ketenangan.    Orang-orang yang memisahkan diri dari kerumunan pesta hampir bisa dipastikan sebagai introvert.  Tapi orang yang sedang mengalami depresi bukan berarti introvert.  Introvert  bahagia dengan kesendiriannya.  Tentu saja orang introvert perlu teman seperti orang-orang lain dan butuh kehidupan sosial,  tapi dia tidak butuh harus bersama orang-orang lain untuk merasa bahagia.  Aktivitas yang melihatkan banyak orang membuat orang introvert cemas. Orang introvert bukannya punya kecemasan dalam berhubungan dengan orang ramai,  mereka hanya tidak menyukai itu.

 

Sehingga orang introvert cenderung sangat selektif dalam memilih aktivitas, yang pada gilirannya menjadikannya pandai dalam manajemen waktu.   Bill Gates dan Warren Buffet adalah termasuk introvert.  Karena itu menarik juga mencoba mendengar persepsi orang-orang introvert atas beberapa hal  (berdasarkan imajinasi atas karakter introvert)

 

Reuni:  “ini adalah aktivitas konyol.  Ngapain reuni berulang-ulang.  Seakan-akan orang-orang itu ingin mengawetkan masa lalu.  Iya benar kita pernah satu kelas saat SMP.   Kita kenal semuanya,  tapi ingat:  bukan semuanya teman dekat kita.  Kita paling bersahabat dengan dua atau tiga orang. Yang selalu bersama-sama dan saling memberi kabar terakhir.  Jadi ngapain 30 sampai 40 orang dalam satu kelas dikumpulkan lagi berulang-ulang setelah 30 tahun kemudian.  Apakah mereka pikir setelah puluhan tahun kita menjadi teman dekat.  Tidak.  Yang kita merasa tidak nyambung ya tetap tidak nyambung.  Yang kita merasa asing ya tetap asing berapa puluh tahun pun setelah itu.    Reuni cukup sekali dalam sepuluh tahun.  Setelah itu biarkan mereka secara alamiah berkumpul sendiri-sendiri berdasarkan apa yang mereka sebut sebagai persahabatan.

 

Antara konser dan nonton film:   “sungguh tak pernah terpikirkan untuk jingkrak-jingkrak bersama dengan dilihat banyak orang dalam sebuah keramaian yang terlalu berisik.  Saya lebih suka menonton film.  Saya bisa menikmati kedalamannya.  Saya bisa menikmati pesan-pesannya.  Kalau kemudian terhanyut sendirian,  itu melegakan bisa meneteskan air mata tanpa dilihat orang lain.

 

Rapat: “masih saja ada pemborosan waktu melakukan rapat dengan sangat banyak orang untuk menyelesaikan masalah.  Untuk mendapatkan gambaran mengenai akar permasalahan saja mesti menghabiskan waktu bermenit-menit untuk mendengarkan belasan versi berbeda mengenai sebuah masalah.  Mestinya  saya sendiri bisa mengidentifikasi masalah dan mencari solusinya dengan bicara dengan orang-orang yang punya kaitan tanggung jawab dengan masalah  itu satu per satu.  Itu lebih efektif.

(22 May 2017)

CERITA BURUK

 

Ada seorang teman yang berkarya sebagai sutradara dokumenter dan sesekali film iklan.  Hasil karyanya banyak yang layak diberi nilai  9 dalam skala 1 sampai 10 karena  detil, indah dan memiliki kealaman.   Suatu ketika dia berada dalam masa “berpuasa” karena tidak ada pesanan selama beberapa bulan. Akhirnya dia merelakan editornya untuk mengambil pekerjaan yang lain. Kali ini editor itu mengambil pekerjaan mengedit sinetron yang tayang setiap hari di sebuah  stasiun tv.

 

Beberapa bulan kemudian, editor ini telah “berubah”.   Beberapa aturan dasar yang ada dalam produksi video dilanggarnya karena pengalaman beberapa bulan belakangan mengijinkan dirinya untuk melanggar aturan-aturan itu.  Pemakluman yang sering keluar, “ayolah.  Nggak usah terlalu taat aturan dan pakem,  ini kan cuma sinetron.”      Padahal mereka semua sadar bahwa jika salah satu aturan dilanggar bisa mengurangi nilai kualitasnya.   Bagi mereka kualitas bukan prioritas.  Sehingga tak heran sering kali muncul keluhan mengenai kualitas sinetron yang di bawah rata-rata

 

Pelajaran yang bisa diambil:   misi untuk menghasilkan sebuah cerita yang baik bisa digagalkan oleh anggota-anggota tim yang punya mental sekadar menyelesaikan pekerjaannya.

 

Cerita adalah hasil kerja dari sebuah tim.  Bahkan seseorang yang tampil sendirian di atas panggung untuk bercerita , entah itu pendongeng atau komedian tunggal,  membutuhkan tim untuk mematangkan konsep cerita dan berceritanya.  Ada tahap demi tahap pencapaian yang harus dilalui sampai akhirnya cerita itu sampai ke audiensnya.  Pengabaian tahap-tahap ini akan menghasilkan cerita yang belum layak muncul.  Alias cerita buruk.

 

Mungkin benar audiens tidak terlalu peduli apakah pencahayaannya kurang , atau komposisi gambar tidak tepat,  atau  antar adegan yang tidak nyambung dan lain-lain.  Audiens hanya bisa menilai ceritanya baik atau buruk. Dan, percayalah,  cerita buruk seringkali terjadi akibat anggota tim tidak menjalankan komitmennya dalam memprioritaskan kualitas.

(5 May 2017)

SEINFELD

Dua komedian bekerja sama membuat acara tv  berdurasi  90 menit. Mereka tak berpengalaman menulis naskah tv  sehingga kemudian dengan cepat kehabisan bahan.   Karenanya mereka mengubah konsep   menjadi acara tv mingguan berdurasi 30 menit.    Ketika mereka mengirimkan naskah mereka, sebagian besar pejabat  jaringan televisi tidak menyukai atau tidak paham.   Tapi tetap disetujui untuk diproduksi satu episode pilot

 

Setelah ada  episode pilot,  lalu diadakan Focus Group Discussion (FGD).  Seratus orang  dikumpulkan di Los Angeles untuk mendiskusikan kekuatan dan kelemahan acara tv  tersebut.  Para penonton ini menyebut acara  ini sebagai kegagalan total.  Salah seorang penonton berkomentar terus terang,  ”mereka ini pelawak yang tidak lucu,  siapa yang mau menonton ?!”   Setelah 600 penonton diperlihatkan juga episode pilot ini di 4 kota berbeda, laporan ringkasnya menyimpulkan, “ Tak ada satu segmen penonton pun yang mau menonton acara ini untuk kedua kalinya”.  Dipastikan program ini akan mendapat rating rendah.

 

Episode pilot itu  akhirnya ditayangkan juga dan tak berhasil, seperti yang sudah diduga.  Jadi berdasarkan hasil FGD dan hasil penayangan itu,  sudah tidak ada  ampun lagi buat program ini. Namun salah satu pejabat jaringan tv justru mendorong untuk memproduksi 4 episode lagi. Setahun setelah penayangan episode pilot itu,  4 episode baru ini ditayangkan. Dan sekali lagi gagal.  Dengan waktu yang semakin menipis jaringan tv itu memesan setengah musim (6 episode) sebagai pengganti acara yang dibatalkan . Namun salah satu penulis naskah sudah mau berhenti karena kehabisan ide.  Untungnya dia berubah pikiran.

 

Setelah itu….yang tersisa hanyalah  kisah sukses:   selama sepuluh tahun berikutnya  mendominasi rating tv  Nielsen dan meraih   pendapatan lebih dari 1 miliar dolar AS.   Acara ini menjadi acara tv paling populer  di Amerika Serikat  dan majalah TV Guide menobatkannya sebagai program terbaik sepanjang masa. Itulah acara tv Seinfeld.

 

Banyak hal bisa disimpulkan dari pelajaran Seinfeld ini.  Yang terutama adalah sehebat apapun seorang manager tv tetap tidak bisa memastikan sebuah program sukses atau tidak.  Yang kedua, bahkan FGD yang melibatkan 600 orang pun tak mampu mencium sedikit bau kesuksesan dari program tesebut.  Lalu apa implikasinya dari dua hal poin tersebut  ?

 

Itu bisa mewakili beberapa pilihan. Pertama,   karena FGD atau  penelitian kualitatif  apapun  tidak mampu mendeteksi keberhasilan sebuah program, maka setiap program tv baru tidak perlu mengadakan FGD, cukup produksi 10 episode lalu tayangkan dan lihat hasilnya.  Kedua,   FGD gagal mendeteksi 1 episode pilot karena masih merasa asing dengan ide baru yang ditawarkan sebuah program tv, karena itu minimal dalam sebuah FGD harusnya ada 3 episode pilot.  Ketiga,  buang semua asumsi-asumsi dasar mengenai pola keberhasilan program tv, dan berilah ruang eksperimen untuk program tv yang benar-benar original dan berbeda dari program tv yang pernah ada.

(8 June 2017)