BERITA

 

Saya termasuk yang pesimis terhadap berita.  Berita begitu berkelimpahan tanpa saya rasakan manfaatnya.  Manfaatnya hanya sekadar menjadi lebih tahu, tidak lebih jauh dari itu.  Dalam pengalaman saya,   mengikuti perkembangan sebuah perisiwa adalah sesuatu yang absurd.  Mengapa harus terus-menerus mengikuti peristiwa yang berputar-putar jika  yang benar-benar kita perlu tahu itu sekadar bagaimana posisi peristiwa itu pada akhirnya.   Dalam uji coba saya untuk tidak baca berita koran, melihat berita tv,  selama setahun ini minimal     saya tidak merasa ketinggalan tapi justsru merasa lebih produktif karena tidak dirongrong oleh berita-berita yang tak perlu.

 

Bagi saya,  berita telanjur sekadar fakta.  Fakta tidak bicara apa-apa jika hanya dipaparkan begitu saja tanpa dikaitkan dengan ide-ide tertentu.   Sulit membuktikan premis saya ini sampai akhirnya saya bertemu dengan film dokumenter Where to Invade Next karya Michael Moore.   Michael Moore  punya reputasi sebagai pembuat dokumenter nyeleneh karena memaparkan fakta-fakta menjadi sebuah cerita yang sangat memojokkan pemerintah AS.  Lewat film tersebut,  Michael Moore  tetap menyajikan fakta-fakta menjadi sebuah cerita, tapi kali ini bukan untuk menyerang siapapun tapi memprovokasi penontonnya dengan sangat brilian.

 

Ide Michael Moore sederhana:   Amerika Serikat tidak boleh berbangga sebagai negara adikuasa sehingga menutup mata terhadap kemungkinan negara-negara tertentu lebih baik daripada AS.    Di negara masa saja Amerika Serikat bisa mengadopsi ide-ide luar biasa yang telah dijalankan ?   Michael Moore menunjuk negara-negara  Italia, Finlandia, Jerman,  Slovenia,  Portugal, Tunisia.

 

Fakta-fakta satu demi satu ditampilkan. Di Finlandia misalnya, fakta-fakta menunjukkan betapa hebatnya sistem pendidikan di Finlandia.  Pemerintah Finlandia berpandangan bahwa pendidikan adalah kebutuhan dasar warga Finlandia sehingga pendidikan merupakan pelayanan publik. Pengelolaan sekolah diambil alih oleh negara, dan sepenuhnya diusahakan dan dikerjakan demi kebaikan anak didik. Seorang guru Finlandia mengatakan, “waktu saya dapat kesempatan pelatihan sebagai guru di Amerika Serikat,  saya mendengar tetangga saya menasehati anaknya.  Dia bilang, “nak kamu bisa menjadi apa saja yang kamu saat dewasa nanti.”  Saya menganggap ini bohong.  Sampai kemudian saya mendapatkan kesempatan untuk mengajar di Finlandia.  Sekolah-sekolah di Finlandia  mendasarkan filosofi pengajarannya pada apa yang disukai anak dan bagaimana anak memandang masa depannya. Atas filosofi itu, saya kemudian merasakan bahwa sama sekali tidak salah jika kita mengatakan pada anak-anak “kamu bisa menjadi apapun yang kamu mau saat dewasa nanti”  karena sejak dini anak-anak sudah disemangati dan dibimbing untuk mewujudkan itu.”

 

Fakta-fakta ketika disusun untuk sebuah konteks yang inspiratif, cerita yang  dihasilkannya bisa kuat dan positif.   Dan cerita seperti itu tidak mungkin diadakan setiap hari.

 

(6 March 2017)

Spread the love
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

5 × three =