POLITIK

 

Ada beberapa macam tipe orang dalam memandang pemilu dan pilkada

 

Tipe pengikut,  menganggap ada kebenaran dari salah satu calon peserta pemilu sehingga merasa sangat sepadan untuk  ikut berjuang membuat  calon peserta pemilu ini menang.  Kemenangan si peserta pemilu adalah kemenangan dirinya. Dia dengan sukarela menjadi pembela jika ada serangan terhadap calon peserta pemilu yang diikutinya.

 

Tipe pengamat,  menganggap pemilu atau pilkada adalah laboratorium dari segala analisisnya.   Pemilu adalah kesempatan untuk menunjukkan kejelian dalam memandang berbagai aktivitas dan tindakan peserta pemilu.   Jika kejelian dan kecermatan itu terlihat publik, maka akibatnya bisa sangat positif dan langsung terhadap prestis dan penghasilan mereka.

 

Tipe pebisnis, menganggap pemilu atau pilkada  adalah sebuah momen menuju perubahan yang mendukung atau membahayakan bisnisnya selama ini.   Kalau pun mereka merasa tidak mampu menjadi aktor utama yang mengendalikan perubahan tersebut,  maka mereka akan mempersiapkan diri agar mampu beradaptasi terhadap perubahan yang terjadi.

 

Selain dari 3 golongan ini adalah golongan yang menganggap pemilu atau pilkada sekadar pernik-pernik demokrasi yang menganggap sikap apolitik adalah sah-sah saja.

 

3 golongan ini mewakili kepetingan apa yang sedang diperjuangkannya dalam kaitan dengan pemilu. Dan golongan pebinis lah yang selalu sadar mengenai perubahan (politik) sehingga dengan sadar pula harus mengumpulkan kekuatan dalam merealisasikan ide yang mendukung kepentingan mereka. Golongan pebisnis harus selalu menemukan ide-ide baru, bahkan dalam dunia politik.

(21 March 2017)

KONSISTENSI

 

Kalau anda menganggap  pencapaian kreatif itu membutuhkan konsistensi, belajarlah pada  Dr. Andre Geim:  Satu-satunya orang yang pernah meraih penghargaan Ig Nobel dan penghargaan Nobel Fisika.   Kita tahu ada Penghargaan Nobel  ada juga penghargaan Ig Nobel.   Penghargaan Ig Nobel adalah parodi terhadap penghargaan nobel yang diberikan setiap musim gugur untuk 10 pencapaian yang tidak biasa atau aneh dalam riset sains.  Penghargaan ini diberikan sejak tahun 1991 dengan tujuan untuk “menghargai pencapaian yang membuat orang tertawa dan kemudian membuat kita berpikir.”

 

Dr Andre Geim mendapatkan penghargaan Ig nobel pada tahun 2000 karena upayanya  mengangkat seekor katak hidup dengan magnet.    Gambar katak terbang pertama kali muncul di majalah Physics World edisi April 1997,  meskipun banyak yang menduga ini adalah bagian April Mob,  ngerjain orang di bulan April. Kebanyakan dari kita diajarkan bahwa sifat magnetis dari air itu  milyaran kali lebih lemah dari besi,  bahkan tidak cukup kuat untuk melawan gravitasi,  tapi demontrasi menunjukkan kekuatan yang sesungguhnya dari sifat magnetis air..

 

Geim menjadi sangat ingin tahu mengenai magnetism ketika dia tidak mendapatkan peralatan untuk melanjutkan eksperimenya saat bekerja di Radboud University Nijmegen’s High Field Magnet Laboratory di Belanda.    Jadi  di suatu jumat malam dia menyetel   elektromagnet hingga kekuatan maksimum  lalu menuangkan air langsung ke mesin mahal tesebut.  Dia lupa  mengapa dia “bertindak sangat tidak profesional”  seperti itu tapi dia bisa melihat  bagaimana air yang mengucur itu “terdiam”  dalam lobang bertikal.  Bola bola air mulai mengapung. Bola-bola air itu terangkat.   Dia menemukan “kekuatan responsive magnetik air”  yang bisa bertindak melawan kekuatan gravitasi bumi.   Seekor katak terangkat dalam lobang vertikal dalam sebuah medan magnet di  Nijmegen High Field Magnet Laboratory.

 

Apa yang kelihatannya seperti becandaan dan tidak serius ini kemudian berubah menjadi aktivitas yang disebut Geim sebagai “Friday Night Experiment”.  Dalam eksperimen ini,  laboratorium Geim mengerjakan “hal-hal gila yang mungkin remeh temeh tapi jika dilakukan mungkin bisa memberikan hasil yang  sangat-sangat mengejutkan”.  Dari awal karir Geim,  setidaknya dia mencurahkan 10 persent dari waktu laboratoriumnya untuk riset semacam itu.

 

Dalam perspektif Geim “lebih baik salah daripada membosankan”.  dari 24 lebih eksperimen yang pernah dilakukan di Friday Night Experiment, ada yang berhasil,  tingkat keberhasilannya 12,5%.  Katak terbang itu keberhasilannya yang pertama,  yang kedua adalah penciptaan “gecko tape” zat perekat  yang bisa memberi kemampuan memanjat seperti kadal.  Ketiga, isolasi terhadap Graphene.  Yang ketiga inilah penemuan sangat penting yang mengantar Geim mendapatkan penghargaan Nobel Fisika yang sesungguhnya pada tahun 2010.

 

Secara sederhana, graphene (grafena) adalah molekul yang terdiri dari atom karbon murni.  Atom-atom ini terkait satu sama lain, membentuk pola heksagonal dua dimensi menyerupai sarang lebah. Singkatnya, dapat dikatakan bahwa graphene merupakan unit struktural dari grafit.    Setelah penemuan isolasi Graphene oleh Geim itu,  graphene telah menjadi subyek dari penelitian yang tak terhitung jumlahnya dalam beberapa tahun terakhir.   Pemanfaatan graphene di masa depan bisa menjadi akhir bagi plastik, berbagai komponen elektronik, dan banyak teknologi yang kita gunakan saat ini.

 

“Perjalanan terbesarnya adalah bergerak ke dalam area yang anda bukan ahlinya, “kata Geim.  “Kadangkala saya bercanda bahwa saya tidak tertarik dalam melakukan riset (re-search) tapi hanya tertarik melakukan pencarian (seach).   Filosofi karir  Geim adalah “bermain di air dangkal”:  “Lakukan sesuatu di sebuah bidang baru selama beberapa tahun lalu tinggalkan !”

 

(16 March 2017)

POTENSI TERBAIK

 

Sekali lagi belajar dari Seth Godin.  Kita seringkali sengaja masuk dalam sebuah komunitas agar potensi terbaik kita muncul.  Bersama anggota komunitas lain yang lebih senior atau lebih ahli, kita berharap ada peningkatan dalam wawasan dan keahlian kita.

 

Tapi adakalanya kita masuk dalam sebuah komunitas yang justru menguatkan semangat eksklusif,  berpandangan picik dan bersikap tidak toleran terhadap perbedaan.

 

Begitu kita masuk dalam sebuah komunitas, pilihannya adalah hanyut sebagai anggota atau sekadar menjadi penonton yang tidak  ambil peran.  Tidak mungkin mengubah budaya yang telanjur dikembangkan dan berkembang dalam komunitas itu.

 

Tantangannya pada akhirnya adalah memilih komunitas yang  paling sesuai.  Jika kita tidak mampu menemukan,   mengapa tidak membentuk komunitas baru yang sesuai dengan bayangan ideal mengenai budaya seperti apa yang akan memunculkan potensi terbaik kita ?

 

(12 March 2017)

BERITA

 

Saya termasuk yang pesimis terhadap berita.  Berita begitu berkelimpahan tanpa saya rasakan manfaatnya.  Manfaatnya hanya sekadar menjadi lebih tahu, tidak lebih jauh dari itu.  Dalam pengalaman saya,   mengikuti perkembangan sebuah perisiwa adalah sesuatu yang absurd.  Mengapa harus terus-menerus mengikuti peristiwa yang berputar-putar jika  yang benar-benar kita perlu tahu itu sekadar bagaimana posisi peristiwa itu pada akhirnya.   Dalam uji coba saya untuk tidak baca berita koran, melihat berita tv,  selama setahun ini minimal     saya tidak merasa ketinggalan tapi justsru merasa lebih produktif karena tidak dirongrong oleh berita-berita yang tak perlu.

 

Bagi saya,  berita telanjur sekadar fakta.  Fakta tidak bicara apa-apa jika hanya dipaparkan begitu saja tanpa dikaitkan dengan ide-ide tertentu.   Sulit membuktikan premis saya ini sampai akhirnya saya bertemu dengan film dokumenter Where to Invade Next karya Michael Moore.   Michael Moore  punya reputasi sebagai pembuat dokumenter nyeleneh karena memaparkan fakta-fakta menjadi sebuah cerita yang sangat memojokkan pemerintah AS.  Lewat film tersebut,  Michael Moore  tetap menyajikan fakta-fakta menjadi sebuah cerita, tapi kali ini bukan untuk menyerang siapapun tapi memprovokasi penontonnya dengan sangat brilian.

 

Ide Michael Moore sederhana:   Amerika Serikat tidak boleh berbangga sebagai negara adikuasa sehingga menutup mata terhadap kemungkinan negara-negara tertentu lebih baik daripada AS.    Di negara masa saja Amerika Serikat bisa mengadopsi ide-ide luar biasa yang telah dijalankan ?   Michael Moore menunjuk negara-negara  Italia, Finlandia, Jerman,  Slovenia,  Portugal, Tunisia.

 

Fakta-fakta satu demi satu ditampilkan. Di Finlandia misalnya, fakta-fakta menunjukkan betapa hebatnya sistem pendidikan di Finlandia.  Pemerintah Finlandia berpandangan bahwa pendidikan adalah kebutuhan dasar warga Finlandia sehingga pendidikan merupakan pelayanan publik. Pengelolaan sekolah diambil alih oleh negara, dan sepenuhnya diusahakan dan dikerjakan demi kebaikan anak didik. Seorang guru Finlandia mengatakan, “waktu saya dapat kesempatan pelatihan sebagai guru di Amerika Serikat,  saya mendengar tetangga saya menasehati anaknya.  Dia bilang, “nak kamu bisa menjadi apa saja yang kamu saat dewasa nanti.”  Saya menganggap ini bohong.  Sampai kemudian saya mendapatkan kesempatan untuk mengajar di Finlandia.  Sekolah-sekolah di Finlandia  mendasarkan filosofi pengajarannya pada apa yang disukai anak dan bagaimana anak memandang masa depannya. Atas filosofi itu, saya kemudian merasakan bahwa sama sekali tidak salah jika kita mengatakan pada anak-anak “kamu bisa menjadi apapun yang kamu mau saat dewasa nanti”  karena sejak dini anak-anak sudah disemangati dan dibimbing untuk mewujudkan itu.”

 

Fakta-fakta ketika disusun untuk sebuah konteks yang inspiratif, cerita yang  dihasilkannya bisa kuat dan positif.   Dan cerita seperti itu tidak mungkin diadakan setiap hari.

 

(6 March 2017)