PENUNDA

 

Manusia adalah makhluk penunda yang parah.  Seakan-akan ada mantra yang tertanam dalam benak kita “kalau bisa dikerjakan nanti, mengapa harus dikerjakan sekarang ?”.     Bahkan ketika sudah dimulai pun, godaannya begitu besar untuk tidak menuntaskan.  Macam-macam yang berkecamuk dalam pikiran “jika nanti benar-benar sudah selesai apakah mendapat respons yang sebanding dengan segala kerja keras ini”,  “jangan-jangan apa yang sedang aku kerjakan ini bukan sesuatu yang benar-benar berarti.”   Setiap 3 menit kita mengalami interupsi.  Dalam pekerjaan apapun, setiap 3 menit ada godaan untuk teringat hal-hal lain di luar yang kita kerjakan pada saat tersebut.  Itu hasil penelitian Gloria mark guru besar informatika dari University of California.  Untuk mampu menuntaskan pekerjaannya,  manusia perlu tenggat waktu.

 

Untuk membuat tenggat waktu yang positif, Scott H Young punya 22 tips.  Kali ini cukup 10 tips saja dulu.

 

  1. Use Parkinson’s Law –    Hukum Parkison menyatakan bahwa tugas-tugas  cenderung merambah ke luar dari  waktu-waktu yang telah disediakan.    Dengan menetapkan tenggat waktu yang ketat di awal,  anda bisa menghentikan perambahan waktu ini dan fokus pada hal-hal yang paling penting.

 

  1. Timebox –   Tetapkan  tenggat waktu singkat antara 60 -90 menit untuk mengerjakan sebuah tugas yang spesifik.  Setelah waktunya habis, berhentilah.  Cara ini bisa menghentikan penundaan  dan memaksa anda untuk menggunakan waktu dengan bijaksana.

 

  1. 80/20 –   Prinsip Pareto menyatakan bahwa 80% dari nilai itu merupakan  20% dari input.  Tetapkan aturan terhadap proyek-proyek anda untuk fokus pada 20% yang penting ini baru kemudian kerjakan yang 80% jika masih ada waktu.

 

  1. Project VS Deadline –   Semakin fleksibel proyek anda, semakin ketat tenggat waktu yang harus anda tetapkan.  Jika sebuah tugas mempunyai fleksibilitas yang terbatas dalam penyelesaiannya,  tenggat waktu yang lunak  akan membuat anda merasa nyaman.

 

  1. Break it Down –   Setiap tenggat waktu yang lebih dari 1 hari  harus diurai dalam unit-unit yang lebih kecil.  Tenggat waktu panjang seringkali gagal untuk menggerakkan  anda jika tidak diuraikan dalam unit-unit yang bisa dikelola.

 

  1. Hofstadter’s Law –  Pada dasarnya hukum ini menyatakan bahwa kenyataannya kita selalu melakukan lebih lama dari waktu yang kita pikirkan.  Bahkan sebuah aturan dari  pengembangan piranti lunak adalah waktunya  dua kali lebih lama daripada yang dipikirkan atau direncanakan.  Lalu tambahkan enam bulan.  Karena itu, bersabarlah dan beri waktu yang longgar untuk proyek-proyek yang kompleks.

 

  1. Backwards Planning –   Tetapkan tenggat waktu lebih dulu baru kemudian putuskan bagaimana mencapainya. Pendekatan ini sangat baik ketika pilihan sangat banyak dan proyek itu mempunyai kemungkinan-kemungkinan yang tak terbatas.

 

  1. Prototype –   Jika anda mencoba sesuatu yang baru,  lakukan   percobaan atas versi yang lebih kecil  dari proyek tersebut untuk memutuskan sebuah tenggat waktu final.  Tulislah sebuah e-book 10 halaman sebelum menulis novel 300 halaman atau coba untuk meningkatkan 10% penghasilan anda sebelum menjadikannya dua kali lipat

 

  1. Find the Weak link –  Cari tahu apa yang bisa merusak berbagai perencanaan anda dan  temukan solusinya.  Mengetahui apa yang tidak diketahui akan membantu anda  memformat tenggat waktu anda.

 

  1. No Robot Deadlines –   Robot bisa bekerja tanpa tidur, rilaksasi atau distraksi.  Kita semua bukan robot. Jangan membuat jadwal tenggat waktu dengan mengharapkan anda bisa bekerja 16 jam setiap hari untuk menyelesaikan itu.

(25 January 2017)

LEBIH MURAH

 

Untuk produk yang sama,  bagaimana membuatnya bisa terjual selain lebih murah ?

 

Salah satunya lewat penipuan.  Di sebuah pasar yang menjual beragam tas, seorang pengunjung mampir di toko paling depan.  Dia melihat-lihat sebuah koper.  Penjual bergaya tak terlalu semangat  menjual koper itu.  “ini memang berkualitas pak. Karena itu harganya agak tinggi.”    Dia menyebut angka satu juta enam ratus ribu rupiah.  Pengunjung tampak tak tertarik dengan angka semahal itu.   Penjual memaksa untuk memberi angka penawaran.  Pengunjung tampak enggan menawar.   Penjual langsung menurunkan hingga Rp 850.000.  Dari sini saja sudah mencurigakan karena harga turun dengan sangat drastis.  Tapi lumayan membuat pengunjung itu merasa bersalah jika tidak memberi penawaran.  Dalam waktu yang genting ini,  pengunjung jadi terburu-buru hingga menyebut angka yang sembarangan “saya pikir harganya tidak lebih dari Rp 700.000”.   Angka itu dianggap angka penawaran.  Penjual pun merespons “ya sudahlah, agar jadi,  750 ribu saja.”   Pengunjung tidak mau mengubah tawaran (dalam hatinya merasa menyesal telah menyebut angka Rp 700 ribu).  Penjual pun melepas dengan harga Rp 700 ribu.   Ketika mengunjungi toko lain di belakang, pengunjung ditawari harga Rp 600 ribu untuk barang sejenis.

 

Menipu adalah cara putus asa untuk menjual. Penjual ini merasa satu-satunya peluang adalah posisi tokonya di depan sehingga merupakan kunjungan pertama dari pengunjung.  Dia harus cari cara agar terjadi closing sebelum pengunjung berkeliling membandingkan harga-harga.  Penjual ini tidak sadar bahwa membandingkan harga  semudah membuka internet di  ponsel.  Ada banyak toko online yang menyebutkan harga.  Mungkin dia merasa beruntung bisa menipu salah seorang pengunjung – yang kebetulan lengah– tapi itu pasti kejadian yang tidak bisa diulang-ulang.

 

Seorang pengusaha restoran memberi resep lain,  yang penting itu bukan lebih  murah tapi tidak lebih mahal.  Jelas itu berbeda.  Anda tidak perlu berusaha membuat produk anda semurah mungkin.  Tapi bagaimana agar terkesan tidak mahal.  Pengusaha ini memberi ilustrasi:  di toko material manapun harga semen adalah sama. Kalau sampai harga semen di sebuah toko material itu lebih mahal dari toko material lain, maka seluruh barang jualan toko material itu akan dipersepsi lebih mahal.   Begitu juga dengan restoran,  ada menu-menu tertentu yang harus dijaga untuk tidak mahal agar seluruh produk lain dipersepsi tidak mahal.

 

Tentu saja harga tidak bisa disamakan untuk semua daerah.  Setiap daerah mempunyai biaya yang berbeda-beda.   Antara toko di Kemang dan toko di Mangga Dua tentu sangat berbeda dalam menanggung biayanya.  Tapi bagaimana caranya sebuah toko kamera di Kemang tetap bisa bertahan meski menjual kamera yang sama dengan kamera yang dijual di toko Mangga Dua ?   Harga kamera pasti sama tapi yang membedakan adalah harga-harga asesorisnya.

 

Berusaha menjadi lebih murah bisa bikin frustrasi. Permainannya adalah bagaimana caranya agar tidak dipersespsi lebih mahal. Di sinilah tetap diperlukan olah kreativitas.

(24 January 2017)

ROLF SMITH

 

Di awal tahun 1990-an Rolf Smith sudah bicara mengenai 7 level of change.  Ada 7 tingkatan dalam melakukan inovasi.  Inovasi bukan sesuatu yang tiba-tiba.  Inovasi bukan sesuatu yang dilakukan dengan cara melompat tanpa pondasi apapun.   7 level of change ini lah yang bisa disebut pondasi.

 

LEVEL 1:                Effectiveness                     DOING the right things

 

LEVEL 2:                Efficiency                             DOING things right

 

LEVEL 3:                Improving                           DOING things better

 

LEVEL 4:                Cutting Stopping              DOING things

 

LEVEL 5:                Copying                           DOING things other people are doing

 

LEVEL 6:                Different                            DOING things no one else is doing

 

LEVEL 7:                Impossible                          DOING things that can’t be done

 

Dalam paradigma Rolf Smith ini kita tidak bisa tiba-tiba loncat ke level 5. Dalam contoh yang ekstrim, kita tidak bisa loncat ke level 5 mencontek perusahaan sebesar Apple.   Harus dimulai dari level 1.

Mari coba menggunakan ilustrasi ini.  Sebuah stasiun tv swasta baru terbentuk.   Lebih dari 50% karyawan berasal dari stasiun tv lain sehingga stasiun tv ini terkesan bisa langsung “running”.  Dengan sangat percaya diri stasiun tv baru ini langsung ke level 6.  Dia yakin mempunyai sesuatu yang berbeda dari stasiun-stasiun tv yang ada.  Akibatnya,    stasiun tv ini melupakan level 1 hingga level 5.  Banyak sekali pertanyaan yang harus dijawab:   Apakah stasiun tv itu sudah menerapkan prinsip efektivitas ?   Sudah efisien ?  sudahkah dilakukan perbaikan-perbaikan atas evaluasi efektivitas dan efisiensi sebelumnya ?    dan seterusnya.

Tentu saja akan muncul bantahan:   kalau harus menuruti level-level itu,   kapan bisa mengejar stasiun tv yang lain ?    bagaimana pun 7 level of change ini adalah sebuah pendekatan.  Pendekatan ini berasumsi kita tidak bisa mengejar atau melompat tanpa susunan pondasi yang kokoh.  Sampai detik ini, paradigma ini masih belum ada yang membuktikan kesalahannya.

 

(20 January 2017)