FIND YOUR WHY

“The goal is not  just to sell to people who need what you have; the goal is to sell to people who believe what you believe. The goal is not just to hire people who need a job but it’s hire people who believe what you believe.”

Itu kata-kata Simon Sinek yang menulis buku sangat populer Start with Why dan kemudian disusul Find Your Why.  Simon mengatakan ada tiga lingkaran  berlapis.  Yang inti adalah why, kemudian how dan paling luar adalah What.  Sebagian besar perusahaan yang biasa-biasa saja,  hanya berkutat di lingkaran how dan what saja.  Belum sampai pada tingkatan why.   Begitu juga dengan Apple.   Bagi Simon, Apple tak ada bedanya dengan perusahaan komputer yang lain.  Yang membuatnya berbeda jauh dengan kompetitornya adalah Apple menjual apa yang dipercayainya kepada orang-orang yang percaya pada Apple.

Penjelasan Simon Sinek ini bisa menjadi momen perenungan bagi siapapun yang berbisnis.  Apakah selama ini kita terfokus pada apa yang dijual ?  Apakah kita pernah mencari jalan untuk berkoneksi pada orang-orang yang percaya pada apa yang kita percayai ?  Apakah kita sudah menemukan why dari bisnis kita ?

Contoh yang sangat kelihatan adalah industri penyiaran televisi.   Apakah para stasiun tv itu sekadar menjual pada orang-orang yang membutuhkan apa yang stasiun tv punya (yaitu program hiburan )  ?  ataukah para stasiun tv menjual pada orang-orang yang percaya pada apa yang dipercayai stasiun tv ?  Langsung bisa ditemukan jawabannya pada stasiun tv hanya sekadar menjual program tv karena persaingan mereka adalah persaingan memperebutkan jumlah pasang mata yang menonton.  Karena sekadar menjual, penonton hanya mencari-cari program yang pada saat itu memenuhi kebutuhannya.  Tidak peduli dari stasiun tv mana.  Penonton tidak loyal.   Karena memang tidak ada stasiun tv yang mengkomunikasikan apa yang dipercayainya.  Stasiuns tv bisa berubah-ubah.  Setahun lalu jualan komedi, saat ini jualan horor.   Bagi stasiun tv bersangkutan, tidak adanya WHY membuatnya sangat pragmatis terbatas hanya sekadar menjual program.  Bagi penonton, tidak adanya WHY membuatnya tidak merasa perlu loyal pada stasiun tv tersebut.   Kalau ada program yang sesuai kebutuhan ya ditonton, kalau tidak ada ya tonton stasiun tv lain.

Bayangkan jika ada stasiun tv yang mengkomunikasikan Why-nya begini:  kami percaya bahwa kehidupan kita bersama akan menjadi lebih baik jika kualitas tontontan diperjuangkan untuk lebih baik dan lebih baik.  How-nya adalah  memproduksi program-program yang eksekusi produksinya berkualitas dan inspiratif.  What-nya  berbagai program-program tv.

Bayangkan jika penonton tv bukan sekadar “membeli”  program yang dibutuhkan saat itu, tapi menonton  tv  karena mempercayai apa yang dipercayai stasiun tv tersebut.  Ada nggak ya stasiun tv seperti itu  ?

 

(12 September 2017)

OUTPUT KREATIF

Orang bisa dengan gampang mengaku sebagai kreatif.  Tapi pada akhirnya pengakuan itu dicocokkan dengan outputnya.  Apa saja output kreatif  itu  ?  Segala hal dalam bentuk tulisan,  disain gambar,  strategi bisnis,  bentuk bisnis,  film, lagu,  notasi dan segala macam yang riel.

Orang bisa dengan gampang untuk loncat dari satu fokus ke fokus lain tapi pada akhirnya tetap dilihat outputnya.  Apakah outputnya konsisten ada atau sekadar  perpindahan dari pengalaman satu ke pengalaman lain tanpa output  ?   Di sini pada akhirnya konsistensi tetap diperlukan bagi orang-orang kreatif.  Bukan sekadar rutinitas tanpa ide-ide baru.  Tapi rutinitas menghasilkan ide-ide baru dalam bentuk output yang riel.

Mari berkaca pada pengarang-pengarang  produktif yang pada masa hidupnya  mampu menghasilkan ribuan cerpen dan puluhan novel.  Bagaimana mungkin bisa seproduktif itu tanpa rutinitas untuk menghasilkan output ?  yang rutin adalah aktivitasnya.  Olah pikirnya selalu baru.  Pasti sesekali terjadi  tubuh menolak untuk menjalankan rutininitas, entah karena kebosanan atau rasa malas.  Jika rutinitas dalam menghasikan output terhenti,   output pun terhenti untuk bertambah.

Sehingga, perbedaan antara orang kreatif satu dengan orang kreatif lain adalah konsistensi dan persistensi dalam melakukan aktivitas-aktivitas yang menghasilkan pertambahan output kreatif.  Dalam  konsistensi dan persistensi pasti ada pemaksaan (dalam istilah Seth Godin adalah penaklukan terhadap otak reptil)  sekaligus kemampuan mengolah pikiran untuk fokus menuntaskan sebuah output seiring waktu.

 

(23 August 2017)

ORANG DAN IDE

Setidaknya ada 3 macam orang dalam kaitan dengan  ide.

Pertama,  orang yang merasa bahwa dirinya adalah satu-satunya penghasil ide yang kompeten.  Alhasil,  ide terbaik hanya berasal dari dirinya.  Siapapun yang mendengar  idenya harus merasa beruntung karena diberi ide yang sangat hebat  itu.  Jika ada orang  yang menunjukkan respons negatif terhadap ide itu, maka orang itu   tidak mempunyai imajinasi cukup baik dalam memahami  hebatnya ide itu .

Kedua, orang yang merasa bahwa ide baru itu tidak penting:   dunia sudah berjalan dengan sendirinya sehingga tidak ada gunanya berusaha menghadirkan ide-ide baru dalam menciptakan cara baru  dunia berjalan.  Berbagai pemikiran (tak perlu baru) hanya muncul sebagai respons terhadap problem yang menghambat jalannya dunia. Ketika mesin produksi ngadat, baru direspons untuk mencari cara membuat mesin itu berjalan normal lagi.  Tapi selama mesin itu tak bermasalah,  maka tidak perlu  pemikiran-pemikiran baru untuk efisiensi atau apapun.

Ketiga, orang yang merasa bahwa ide adalah bagian terpenting dirinya dalam beraktualisasi:  apapun bidangnya dia selalu merasa berkebutuhan untuk mendengar ide-ide dari banyak orang.  Dari kolega, bawahan bahkan orang-orang di luar perusahaan. Rutinitas tak ubahnya arus sungai yang membuat orang lengah.   Setiap ide baru dihargai sebagai sebuah kesempatan untuk menjadi lebih baik dan lebih baik.  Sehingga orang ini cenderung menjadi pendengar yang baik meski kadang-kadang pengalaman menunjukkan bahwa ide yang bisa diterapkan dengan sangat baik tak lebih dari 1% dari seluruh ide yang muncul.     Orang seperti ini mengalir riang di antara kegagalan dan keberhasilan ide-ide sepanjang hidupnya.  Kegagalan dan keberhasilan tak akan menghentikannya  untuk menghasilkan ide-ide. Karena, menurut pemahamannya,  dalam hati setiap manusia pada dasarnya tersimpan hasrat untuk mencipta.

(8 August 2017)

VAD MODEL

Kita selalu penasaran dengan mengapa materi-materi tertentu bisa viral –bahkan luarbiasa viral—di media sosial sedangkan materi yang lain tidak sama sekali.  Dari berbagai  berita viral belakangan ini ada 3 berita (video) viral yang bisa jadikan contoh.   Ketiganya berkaitan dengan kekerasan fisik dan bullying.  Yang pertama  kasus seorang perempuan yang menampar petugas bandara,  dan 2 yang lain merupakan kasus  perundungan (bullying) yaitu yang menimpa salah satu siswi SMP  di sebuah mall dan seorang mahasiswa berkebutuhan khusus di sebuah universitas terkenal.  Mengapa ketiganya begitu sangat viral  hingga pihak berwenang harus bertindak ?

Penelitian  Jacopo Staino dari Sorbonne University dan Marco Guerini dari Trento Rise menyoroti peran dari  valensi (valence), gugahan (arousal) dan dominasi secara bersama-sama dalam menyebabkan viral. Temuan penelitian ini mengindikasikan bahwa satu emosi saja tidak akan menyebabkan viralitas.  Yang paling berpengaruh terhadap viralitas adalah ketika emosi itu berada dalam  Valence-Arousal-Dominance (VAD) model.   Model ini sering digunakan dalam psikologi untuk mengkategorisasi emosi.   Emosi manusia adalah kombinasi dari 3 karakteristik:

– Valensi (valence)  adalah sisi positif atau negatif dari sebuah emosi.  Kebahagiaan adalah valensi positif.  Sedangkan takut adalah valensi negatif

– Gugahan (arousal)  berkisar antara  kegairahan (excitement) hingga proses rileks.  Marah itu  emosi gugahan tinggi sedangkan  sedih itu gugahan rendah

– Dominasi (dominance) berkisar antara kepasrahan hingga merasa pegang kendali.  Takut atau dominasi rendah, sedangkan kekaguman termasuk dominasi tinggi.

Penelitian ini memeriksa 65.000 artikel di dua situs baru dimana pembaca diberi tugas untuk memberikan nilai emosi terhadap artikel-artikel itu.  Kemudian mereka mencari pola di antara cerita-cerita vial,  mengukur viralitas dengan jumlah komentar dan berbagi sosial dari setiap artikel yang diterima.  Jelas sekali ada keterkaitan dari beberapa konten viral dengan konfigurasi tertentu dari valensi-gugahan-dominasi

Temuan utama dari penelitian ni adalah mengenai berbedanya peran yang dimainkan gugahan dan dominasi dalam perilaku mengomentari  dibandingkan dengan perilaku berbagi sosial.  Artikel yang punya banyak komentar tercatat mempunyai kemampuan memunculkan emosi gugahan tinggi seperti kemarahan dan kebahagiaan digabung dengan emosi-emosi dominasi renda dimana orang merasa kurang pegang kendali, seperti takut.  Ketiga kasus viral yang disebutkan di atas mewakili konfigurasi ini:  ada kemarahan sangat tinggi (terhadap kesewenang-wenangan yang terjadi) sekaligus takut ini terjadi pada diri mereka sehingga mereka tergerak untuk mengomentarinya.

Di sisi lain, perilaku berbagi sosial sangat terkait dengan perasaan dominasi tinggi, dimana orang merasa pegang kendali,  seperti perasaan terinspirasi atau kekaguman.  Ini sejalan dengan buku Contagious karya Jonah berger bahwa orang  berbagi di media sosial ketika merasa sangat kagum .  Sehingga ketika seorang peserta Britain Got Talent,  Susan Boyle — yang penampilannya sangat tidak meyakinkan–  membius ribuan penonton dengan suaranya yang sangat merdu, maka dalam waktu bersamaan ada ratusan ribu orang menyebarkan video Susan Boyle bernyanyi.

Valensi emosi kurang punya keterkaitan dengan viralitas.  Cerita-cerita viral ada yang positif, ada juga yang negatif.  Tapi setidaknya peneliti melihat bahwa emosi negatif mempunyai peluang lebih besar untuk menghasilkan cerita-cerita viral.

VAD Model tentu sangat berguna bagi siapapun yang punya kepentingan untuk merancang strategi komunikasi di media sosial.

 

(19 July 2017)

REVERSE THINKING

 

Ada beberapa penulis mempromosikan teknik reverse thinking (berpikir terbalik). Salah satunya adalah Cyriel Kortleven. Kita tidak mengikuti logika normal dari sebuah masalah (atau elemen penting dari masalah)  tapi membaliknya dan menemukan ide-ide yang berlawanan.  Berbagai pengalaman menunjukkan selalu menyenangkan untuk melihat sisi berlawanan atau negatif dari sebuah masalah. Menurut Cyriel, ada 2 hal yang bisa dilakukan dalam kaitan dengan reverse thinking ini.

  1.  kita membalik  “ide-ide salah” itu sekali lagi dan pada saat bersamaan kita  buat ide-ide itu lebih kuat (membuat ide menjadi lebih kuat ini sangat penting karena kalau tidak kita hanya mendapatkan ide rata-rata yang sudah ada sebelumnya )

Contoh:  “saya tidak akan pernah bawa kartu nama lagi”

Dibalik menjadi  “saya akan selalu bawa kartu nama dalam jumlah banyak.”

Dan membuat ide itu menjadi lebih kuat:  “saya akan memberi kartu nama pada setiap orang yang saya temui dalam kegiatan  bersama”

atau

“saya bawa sebuah printer kecil dan bisa mencetak kartu nama dimanapun saya inginkan”

  1.  Kita sengaja berada dalam atmosfer  “ide yang dibalik” itu dan memunculkan ide-ide baru.

Contoh:  “Saya tidak akan pernah bawa kartu nama lagi.”

Dibalik  menjadi   “saya akan mengikuti pelatihan ingatan  dan akan mengingat semua detail kontak dari orang-orang yang pernah saya ajak  bicara  (dan mengirimkan email kepada orang tersebut dalam waktu 24 jam)”

atau

“saya akan selalu mengenakan kaos bertuliskan detail kontak saya  dan meminta orang lain untuk memotret kaos saya”

atau

“di setiap kegiatan jaringan, saya melakukan  sesuatu yangt luar biasa sehingga setiap orang akan ingat dan pada saat itulah saya  meneriakkan alamat website saya (peluangnya besar orang-orang akan ingat.)

 

Intinya, dalam reverse thinking, sebuah ide bisa dibalik lebih dari satu kali untuk merangsang ide yang unik.  Sejalan dengan berbagai teknik lain dalam kreativitas, sebuah metode akan sangat bermanfaat dalam menghasilkan berbagai ide baru. Dan semua itu dalam kerangka cara berpikir divergen dengan adagiumnya yang terkenal: cara paling tepat untuk menghasilkan ide terbaik adalah memproduksi ide sebanyak-banyaknya.

 

(15 June 2017)

ORIGINALS

Adam Grant dalam bukunya Originals memberi analogi yang sangat tepat mengenai  ide baru sulit sekali untuk bisa dipresentasikan agar diterima orang lain.  Ibaratnya kita melakukan ketukan dengan jari tangan  kita di meja mengikuti irama sebuah lagu dan orang lain diminta merasakan lagu yang sama.  Ada variasi jutaan lagu yang ada di benak orang lain. Tak mungkin tertebak. Kecuali jika kita memberi kode atas lagu yang kita mainkan lewat ketuk jari tersebut.

 

Misalnya,  kita menyebutkan 2  lagu yang sangat populer “nina bobo” dan  “bintang kecil, maka dengan mudah kita akan mengarahkan persepsi orang lain untuk menebak  lagu yang kita mainkan lewat ketukan jari tersebut.  Dengan kata lain,   pendengar harus dibuat merasa familiar dengan ide baru tersebut.  Berdasarkan penelitian, setidaknya ide baru itu harus disebut selama minimal 20 kali agar pendengar merasa akrab dengan ide baru tersebut. Setelah itu pendengar terbukti lebih siap untuk mendengarkan ide baru yang akan disampaikan.

 

Tentu saja cara untuk membuat ide baru itu menjadi familier itu bisa macam-macam.  Misalnya dalam pertemuan informal sebelum presentasi resmi beberapa kali melontarkan atau menyebut  ide baru tersebut.  Intinya,  otak perlu mendapatkan pembiasaan atas sebuah ide.  Ide yang terlalu asing atau tidak dikenali akan mengalami penolakan yang sangat kuat.

(5 June 2017)

KOMENTAR

 

Apakah komentar itu penting ?

 

Bisa jadi kita diminta secara khusus oleh seseorang untuk memberikan komentar mengenai sesuatu.    Tapi setelah kita bersungguh-sungguh memberikan komentar, ternyata orang tersebut sebenarnya tidak perlu-perlu amat dengan komentar itu.  Sehingga komentar itu tidak mengubah apapun atau tidak memberi pengaruh apapun.

 

Bisa jadi kita secara spontan memberi komentar pujian atas penampilan seseorang  kemudian setelah itu kita dikenang sebagai orang yang punya selera atas fashion.   Artinya,  komentar itu memberi pengaruh secara langsung.

 

Bisa jadi kita tergerak memberikan komentar atas sebuah masalah hangat di media sosial tapi tak ada satu pun yang menyingggung atau menyebut komentar kita. Komentar kita tenggelam dalam lautan komentar yang semuanya sekadar menjadi angka berapa banyak.

 

Bisa jadi kita menjadi bersemangat ketika banyak orang memberikan komentar yang setuju dan positif atas ide yang kita berikan.

 

Pada akhirnya komentar  hanya sampingan.  Komentar tidak pernah menjadi esensial.  Tak ada komentar pun dunia tetap berjalan biasa.   Karena itu tak semestinya kita meletakkan rasa percaya diri kita pada pondasi berupa komentar-komentar orang lain.  Tapi di sisi lain, komentar kita bisa mencuri perhatian orang lain atas kualitas diri kita.

(30 May 2017)

PENGULANGAN

Untuk media penyiaran tv,  bulan puasa adalah bulan seasonal untuk programnya.  Strategi programnya memang khusus selama 1 bulan puasa.  1 bulan yang dianggap spsesial.  Lokasi prime timenya pun berbeda dibandingkan 11 bulan lainnya.  Di bulan-bulan biasa prime time nya ada di pk 18.00 sampai 22.00. Sedangkan di bulan puasa ditambah lagi pk 03.00 – 05.00 yaitu waktu orang sahur.

 

Namun,  strategi khusus di  bulan spesial ini sekaligus menunjukkan pengulangan strategi program.   .  Jika tahun sebelumnya sukses dengan acara drama A, maka acara drama A harus dibuatkan sekuelnya untuk bisa tayang di tahun berikutnya. Begitu seterusnya sehingga tidak  heran ada sebuah drama yang sudah sampai 10 jilid alias 10 tahun.

 

Kesimpulannya:  masing-masing stasiun tv berlomba untuk menang di bulan special  ini agar ketika ketemu bulan ini lagi  di tahun  berikutnya tidak perlu starategi baru, cukup mengulang saja (tentu saja ini berpengaruh terhadap pendapatan iklan karena di tahun berikutnya dianggap punya strategi program yang terbukti ampuh).

 

Strategi baru diperlukan ketika ada program yang gagal di bulan ini, sehingga tahun berikutnya diperlukan ide baru dalam mengganti program ini.  Selebihnya sama seperti tahun lalu. Strategi program di bulan ini adalah keteraturan. Disusun satu per satu menjadi bangunan yang kokoh agar di tahun berikutnya tetap bisa di andalkan. Pengalaman membuktikan bahwa bangunan yang kokoh ini mempunyai pengaruh yang sangat besar dalam menjamin kemenangan sebuah stasiun tv di bulan ini.  Lalu dimana posisi kreativitas ?   Yang jelas kreativitas bukan berfungsi menghancurkan bangunan-bangunan yang kokoh dan nyaman  untuk  menghasilkan ide-ide yang benar-benar baru dan segar  tapi semata-mata sebagai alat untuk memecahkan persoalan ketika bangunan yang kokoh itu mempunyai masalah di beberapa bagiannya.  Selebihnya adalah pengulangan.

(29 May 2017)

PREDIKSI

 

Mungkinkah memprediksi tindakan manusia ?

 

Ide seperti itu yang menjadi inti dari cerita film seri Person of Interest karya Jonathan Nolan.  Menciptakan sebuah mesin yang menyerap semua video  yang merekam segala aktivitas manusia di seluruh dunia kemudian melalui perhitungan algoritma akan memberikan berbagai kesimpulan untuk mencegah terjadinya kejahatan atau bencana.

 

Mesin ini memang membantu memecahkan masalah, tapi mesin ini tidak bisa meramalkan dirinya sendiri.  Mesin tidak mampu memprediksi adanya campur tangan manusia lain terhadap dirinya.

 

Film seri ini seakan bicara tentang kecenderungan manusia untuk mampu memprediksi masa depan dengan cara memprediksi perilaku manusia. Tapi pada akhirnya masa depan tetap sebuah ketidakpastian.   Mungkin saja kita mampu mengumpulkan kepastian-kepastian kecil berdasarkan data untuk memprediksi masa depan.  Tapi begitu banyaknya variabel dalam perilaku manusia membuat masa depan akan tetap menjadi ketidakpastian.  Dan bukankah itu justru menariknya ketika masa depan seperti kejutan untuk kita

(23 May 2017)

DUNIA LEWAT MATA INTROVERT

 

Introvert adalah kecenderungan untuk lebih menyukai kesendirian dibandingkan bersama orang lain.  Seorang introvert, sebagian atau seutuhnya puas dengan kesendirian.   Banyak aktivitasnya membutuhkan ketenangan.    Orang-orang yang memisahkan diri dari kerumunan pesta hampir bisa dipastikan sebagai introvert.  Tapi orang yang sedang mengalami depresi bukan berarti introvert.  Introvert  bahagia dengan kesendiriannya.  Tentu saja orang introvert perlu teman seperti orang-orang lain dan butuh kehidupan sosial,  tapi dia tidak butuh harus bersama orang-orang lain untuk merasa bahagia.  Aktivitas yang melihatkan banyak orang membuat orang introvert cemas. Orang introvert bukannya punya kecemasan dalam berhubungan dengan orang ramai,  mereka hanya tidak menyukai itu.

 

Sehingga orang introvert cenderung sangat selektif dalam memilih aktivitas, yang pada gilirannya menjadikannya pandai dalam manajemen waktu.   Bill Gates dan Warren Buffet adalah termasuk introvert.  Karena itu menarik juga mencoba mendengar persepsi orang-orang introvert atas beberapa hal  (berdasarkan imajinasi atas karakter introvert)

 

Reuni:  “ini adalah aktivitas konyol.  Ngapain reuni berulang-ulang.  Seakan-akan orang-orang itu ingin mengawetkan masa lalu.  Iya benar kita pernah satu kelas saat SMP.   Kita kenal semuanya,  tapi ingat:  bukan semuanya teman dekat kita.  Kita paling bersahabat dengan dua atau tiga orang. Yang selalu bersama-sama dan saling memberi kabar terakhir.  Jadi ngapain 30 sampai 40 orang dalam satu kelas dikumpulkan lagi berulang-ulang setelah 30 tahun kemudian.  Apakah mereka pikir setelah puluhan tahun kita menjadi teman dekat.  Tidak.  Yang kita merasa tidak nyambung ya tetap tidak nyambung.  Yang kita merasa asing ya tetap asing berapa puluh tahun pun setelah itu.    Reuni cukup sekali dalam sepuluh tahun.  Setelah itu biarkan mereka secara alamiah berkumpul sendiri-sendiri berdasarkan apa yang mereka sebut sebagai persahabatan.

 

Antara konser dan nonton film:   “sungguh tak pernah terpikirkan untuk jingkrak-jingkrak bersama dengan dilihat banyak orang dalam sebuah keramaian yang terlalu berisik.  Saya lebih suka menonton film.  Saya bisa menikmati kedalamannya.  Saya bisa menikmati pesan-pesannya.  Kalau kemudian terhanyut sendirian,  itu melegakan bisa meneteskan air mata tanpa dilihat orang lain.

 

Rapat: “masih saja ada pemborosan waktu melakukan rapat dengan sangat banyak orang untuk menyelesaikan masalah.  Untuk mendapatkan gambaran mengenai akar permasalahan saja mesti menghabiskan waktu bermenit-menit untuk mendengarkan belasan versi berbeda mengenai sebuah masalah.  Mestinya  saya sendiri bisa mengidentifikasi masalah dan mencari solusinya dengan bicara dengan orang-orang yang punya kaitan tanggung jawab dengan masalah  itu satu per satu.  Itu lebih efektif.

(22 May 2017)