RAMAI

 

Bisnis dengan omzet besar seringkali dikaitkan dengan ramai.  Sebuah jaringan toko penjual barang kebutuhan sehari-hari yang sekarang memiliki lebih dari 70 outlet mempunyai rumus dalam menentukan lokasi outletnya:  harus berada di pinggir jalan yang sulit untuk menyeberang karena itu merupakan pertanda jalan itu ramai.

 

Sebuah restoran baru yang ingin dianggap mempunyai makanan istimewa harus menunjukkan para tamu yang antri panjang.  Antri panjang itu akan mempersepsikan sebuah keinginan kuat  atas produk restoran itu sehingga layak dicoba. Sebagian berhasil menerapkan strategi ini. Sebagian lagi langsung terlihat kontras ketika awalnya banyak sekali para tamu yang antri tapi dua bulan kemudian sudah terlihat sangat sepi.

 

Pemutaran perdana sebuah film wajib hukumnya dibanjiri penonton. Kalau perlu belilah ratusan ribu tiket untuk dibagikan secara gratis pada malam perdana supaya terkesan meledak.  Pasti akan sangat menggoda banyak calon penonton untuk ikut mendatangi film tersebut.  Sebuah film yang di hari perdananya sepi, tamatlah riwayatnya, karena tak ada daya upaya yang cukup kuat  untuk mengkatrol jumlah penonton di hari kedua dan seterusnya.

 

Keramaian selalu menggiurkan. Tapi keramaian, masalahnya, identik dengan sesuatu yang massal. Sesuatu yang massal tentu saja sulit dikesankan spesial.

 

Sebuah hotel bintang lima di Ubud menawarkan privasi dan keheningan.  Untuk itu para tamu harus bayar  $ 3.000  per malam.  Sama sekali tidak ramai dalam artian terlihat dikerumuni banyak orang.  Namun untuk pesan kamarnya,  tujuh bulan ke depan sudah terisi penuh.    Tamunya adalah selebrities Hollywood dan kalangan milyarder.

 

Selalu ada bukti untuk aturan baru marketing:  Create remarkable products that the right people seek out.

 

(15 December 2016)

Spread the love
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

2 × four =