INSTING PERTAMA

 

Ketika naskah skrip Seinfeld diterima,  para eksekutif NBC tidak tahu apa yang mesti dilakukan dengan skrip itu.  Skrip tersebut dinilai  “totally unconventional”. Petinggi NBC Warren Littlefield mengatakan  “sama sekali tidak ada padanannya  dengan apapun yang ada di tv.  Tidak ada preseden historis.”   Staf penulis yang mengevaluasi  naskah awal Seinfeld memberi penilaian di batas antara “weak”  dan “moderate”.  Dia lebih condong ke “moderate” tapi pimpinannya menganggap itu “weak”.  Dan kita tahu kemudian seri Seifeld menjadi sesuatu yang fenomenal dalam sejarah pertelevisian AS.

 

Menurut Adam Grant dalam bukunya Originals: dalam menghadapi ketidakpastian,  insting pertama kita seringkali menolak kebaruan,  dan cenderung berusaha menemukan alasan bagi ketidakberhasilan sebuah konsep yang tidak familiar.    Ketika menelaah ide-ide baru,  para manajer berada dalam  pola pikir evaluatif:   demi  melindungi dirinya sendiri atas  kemungkinan pertaruhan yang gagal, mereka membandingkan ide-ide baru dengan berbagai proposal  yang merupakan tiruan dari  ide-ide yang berhasil di masa lalu.

 

Insting pertama seperti ini akan dengan mudah ditemui di stasiun tv Indonesia. Seorang pemilik rumah produksi mengatakan bahwa dia tidak pernah bisa mempresentasikan sebuah ide.  Hampir semua tv Indonesia mau gampangnya dengan pertanyaan:  “bisa nggak bikin program seperti A ?”   atau “berani nggak bikin program persis seperti B dengan rating yang lebih bagus dari itu ?”

 

Dengan cara seperti stasiun tv tentu saja bisa terus hidup, bisa terus menghasilkan program-program yang rating lumayan, tapi tentu saja konsekuensinya adalah  ruang menjadi sangat kecil untuk menghasilkan program-program yang “totally unconvensional”  dan cukup fenomenal untuk dicatat sejarah.

 

(28 November 2016)

MENYATUKAN

 

Dalam hal tertentu ide menyatukan dua hal berbeda –bahkan bertentangan–  terkesan mustahil.

 

Dalam cerita dikenal istilah protagonis dan antagonis.  Keduanya mewakili dua karakter/dua pihak yang bertarung, berkonflik atau berinteraksi untuk membentuk cerita.  Bagaimana jika protagonis dan antagonis disatukan ?   Kelihatannya mustahil.  Tapi itu dilakukan oleh sebuah serial berjudul Breaking Bad yang mulai tayang 2008  di AMC Network Amerika Serikat.   Breaking Bad bercerita tentang seorang guru kimia bernama Walter White yang tiba-tiba divonis mengidap sakit kanker paru-paru stadium 3.  Sebagai upayanya bertahan hidup dan melindungi keluarganya, dia memutuskan menjadi pengedar narkota.  Protagonis dan antagonis silih berganti ada dalam diri satu karakter: Walter White.

 

Serial ini akhirnya di tahun 2013 tercatat di Guinnes Book of Record sebagai  serial tv dengan rating tertinggi sepanjang masa.  Pada musim pertama,  73 dari 100 orang menonton serial ini.  Dan di musim ke lima,  99 dari 100 orang menonton serial ini.  Nyaris sempurna mencapai 100.

 

Untuk konsep protaganis dan antagonis yang menyatu ini ada 2 hal yang perlu disoroti:  akting dan penulisan skenario.  Untuk memerankan karakter yang sekaligus protagonist dan antagonis tentu butuh kemampuan akting yang luar biasa.  Bryan Cranston yang memerankan Walter White mendapat banyak pujian.  Salah satunya pujian dari Forbes:

 

Bryan Cranston plays Walter White with extraordinary subtlety. He’s a shape-shifter, alternating from twitchy, awkward husband to thuggish drug dealer as easily as changing a shirt.

 

Hal kedua adalah penulisan skenario.   Vince Gilligan sebagai penggagas sekaligus penulis skenario,  merancang episode demi episode dengan sangat brilian dan detail.  Tantangan terbesar dari seorang penulis skenario drama seri adalah bagaimana membuat penonton mau –bahkan sangat mau—untuk melihat episode berikutnya meski harus menunggu 1 minggu ke depan (ingat,  drama seri di Amerika Serikat sampai sekarang masih masih diputar mingguan).  Ini seni cliff hanger:  bagaimana membuat akhir sebuah episode menggantung untuk mengetahui lanjutan ceritanya di episode berikutnya.

 

Nir Eyal menjelaskan dalam bukunya Hooked: “Konflik utama di setiap episode selalu diselesaikan menjelang akhir acara, yang kemudian disusul dengan munculnya tantangan lain untuk menggelitik rasa penasaran penonton. Dengan demikian  satu-satunya cara untuk tahu bagaimana Walter keluar dari permasalahan yang muncul di akhir sebuah episode adalah dengan cara menonton episode selanjutnya. “

 

Pada akhirnya  tersedia  banyak  kemungkinan menyatukan dua bidang, dua aspek,  dua unsur,  namun pada akhirnya yang menentukan adalah eksekusinya.  Dalam hal ini adalah eksekusi untuk membuat penonton merasa penasaran dan terus terikat untuk mengikuti hingga akhir cerita.

 

(17 November 2016)

QWERTY

 

Rata-rata kita mengenal QWERTY, sebuah sebutan untuk papan ketik konvensional dengan huruf Q-W-E-R-T-Y sebagai huruf di barisan atas kiri.  Papan ketik ini  masih digunakan.sampai sekarang.  Papan ketik ini pertama kali dikembangkan pada tahun 1890-an untuk jenis mesin ketik yang pada saat ini tentu saja bisa dianggap sebagai barang kuno yang selayaknya ada di museum.  Dalam susunan QWERTY   huruf-huruf yang biasa digunakan letaknya berjauhan.  Disain seperti ini justru disengaja untuk mencegah pengetik merusak batang logam yang ada di mesin ketik pada masa itu.

 

Ketika jaman berganti menjadi digital seharusnya tidak perlu disain seperti ini karena papan ketik kita bukan mesin ketik yang ada batang logamnya.  Namun  tetap saja kita menggunakan papan ketik QWERTY.  Padahal tahun  1930an sudah ada disain papan ketik tandingan.  Disain yang diciptakan Profesor August Dvorak ini menempatkan  huruf-huruf vokal di baris tengah sehingga meningkatkan  kecepatan dan ketepatan dalam mengetik.  Namun ciptaan yang dipatenkan dengan nama  Dvorak Simplified Keyboard pada tahun 1932 ini ,  papan ketik  ini hilang begitu saja ditelan jaman.

 

Menurut Nir Eyal dalam bukunya Hooked,  QWERTY bertahan karena tingginya biaya mengubah perilaku pengguna.   Ketika pertama kali diperkenalkan dengan papan ketik,  kita menekan satu per satu huruf tertatih-tatih.  Perlu pembiasaan selama sehari atau dua hari. Setelah itu berpraktek selama berbulan-bulan dan bertahun-tahun mengaktifkan semua jari.  Namun berpindah ke papan ketik yang tidak familiar,  meskipun teruji lebih efisien,  akan memaksa kita untuk belajar mengetik kembali mulai dari nol.

 

Untuk saya yang bisa mengetik sepuluh jari (berkat kursus mengetik)  pasti saya akan menolak jika ditawarkan sebuah papan ketik baru yang teruji lebih efisien.  Saya sudah telanjur merasa nyaman dan efektif dengan disain QWERTY.

 

Ada berapa banyakkah produk yang ingin kita ciptakan untuk mengganti produk lama sebagaimana disain QWERTY  ini ?   Inovasi menemukan batu yang terlalu tinggi untuk dilewati ketika kita mengabaikan biaya  tinggi dari mengubah perilaku pengguna.

 

(14 November 2016)