EKONOMI YOGA

 

Secara kasat mata di sekitar kita terlihat yoga sebagai sebuah tren.   Sebagian orang merasa ketinggalan kalau tidak pernah mencoba berlatih yoga.  Sebagian yang lain sudah menjadi peserta tetap latihan yoga.   Sebuah tren tentu saja berimplikasi bisnis.  Pada Juli 2012 ada sekitar  15 juta individu yang berlatih yoga.  Di tahun 2008 total pengeluaran dari orang-orang yang berlatih yoga ini mencapa  $ 5,7 miliar dan menjadi $ 10,3 miliar di tahun 2010.  Yang artinya industri ini tumbuh sekitar 80,7% dalam 4 tahun.  Salah satu pemimpin pasar dalam industri ini adalah pakaian yoga dengan merek Lululemon. Sejak tahun 2004 Lululemon tumbuh 55% dari  $ 40,7 juga menjadi  $ 1,37 miliar di tahun 2012.

Ilustrasi lain berasal dari New York. Selama musim panas 2014  pemilik studio yoga Raquel Vamos dan Dov Vargas membuat situs sederhana yang menjual roda plastik seharga $ 35.  Roda plastik ini membantu orang-orang berlatih yoga melenturkan punggungnya ke belakang.   Harapan mereka tidak muluk-muluk, setidaknya mendapatkan beberapa puluh pesanan untuk alat yoga lain seharga $99  dari  teman dan mahasiswa.  Tapi setelah beberapa bulan,   mereka mampu menjual  100 Dharma Yoga Wheels (sebutan untuk roda plastik ini)   per hari.  Setelah setahun, mereka mampu menghasilkan $ 1,3 juta dan dimeriahkan di Instagram oleh bintang pop Britney Spears dan sejumlah pemain NFL.

Tapi mereka sadar perusahaan tidak mungkin besar hanya dengan satu produk. Sehingga Vamos berhenti dari pekerjaannya sebagai perawat dan terjun total di bisnis ini.  Vamos mempekerjakan seorang ahli pemasaran untuk membantu perusahaan terus bersinar, dan berusaha menciptakan berbagai roda yoga lain untuk pengembangan dari produk yang ada,  termasuk program pelatihan guru  yoga berbasis ciptaan mereka ini.

“Anda tidak bisa  terlalu basi dalam bisnis ini,” kata Vamos “ Anda  harus terus-menerus mencipta.”      Satu-satunya saat yang tepat untuk mengetahui sebuah produk sudah tepat atau harus diriset lebih mendalam lagi adalah ketika produk itu diluncurkan.  Karena itu mau tidak mau harus terus mencipta.  Vamos berharap dengan cara pandang seperti itu akan membuat perusahaannya terus bergerak maju, dengan potensi untuk mendapatkan  $ 1,7 juta tahun ini.

Dalam tren yang sudah sedemikian besar seperti Yoga,  selalu ada peluang-peluang baru untuk menciptakan inovasi

 

(24 October 2016)

MITOS

 

Claude Lévi-Strauss,  antropolog sosial,  percaya bahwa semua mitos itu benar dan semua versi  dari sebuah mitos adalah versi yang benar.   Ada sebuah alasan  bahwa orang menceritakan kisah-kisah yang bertentangan mengenai  dewa gunung  — apakah dia kawin dengan dewi laut  atau dia kawin dengan dewi hujan  ?   kedua versi itu diceritakan dan diceritakan berulang-ulang karena para pendengar menangkap sebuah kebenaran dari kedua versi itu.

 

Setiap saat kita mendengar mitos, kita menceritakan ulang mitos dan kadang-kadang kita mempercayai sebuah mitos yang tak kita sadari kapan masuknya dalam otak kita. Seorang penulis yang percaya pada mitos adanya writer’s block maka suatu saat dia pasti mengalami itu dan pengalaman itu makin menegaskan bahwa writer’s block itu memang ada dan seterusnya dia akan dibayang-bayangi oleh kemungkinan writer’s block.  Sebagian penulis lain tidak percaya mitos writer’s block.  Penulis jenis ini merasa lucu kalau ada yang kehabisan akal memulai tulisan karena tersedia ratusan ribu kata-kata yang bisa dimulai sebagai pemicu awal menuliskan sebuah kisah. Kedua mitos itu benar.

 

Karena itu berhati-hatilah terhadap mitos yang anda pilih.  Semua mitos itu benar, dengan demikian pilihlah mitos yang mendukung produktivitas dan kreativitas anda.

 

(6 October 2016)

HARI TERAKHIR

 

Seorang karyawan mengeluh bahwa dia melihat beberapa orang mengundurkan diri dari perusahaannya dan perusahaan sama sekali tidak memberi ucapan apa-apa terhadap orang-orang ini.  Dia merasa bahwa perusahaan telah memperlakukan karyawan seperti sebuah alat yang bisa dipasang dan dibuang.   Karyawan ini measa kehilangan semangat bekerja karena m embayangkan pada suatu saat nanti dia akan diperlakukan sama:  keluar dari perusahaan tanpa diiringi ucapan atau surat apapun. Bahkan di hari terakhir,  karyawan itu dibiarkan berkeliaran di lingkungan kantor tanpa satu pun orang yang perlu mengucapkan sesuatu.  Karyawan menjelma menjadi komponen yang tidak penting karena bisa dengan segera digantikan.

 

Harvard Business Review menyoroti bahwa penting  mengumpulkan tim di hari terakhir karyawan yang  mengundurkan diri itu untuk mengadakan perayaan kecil.  Mungkin cukup kue dan kopi.  Untuk menyampaikan apresiasi terhadap karyawan yang mengundurkan diri atas kerjanya selama ini. Tapi yang lebih penting adalah menyemangati semua karyawan yang tetap tinggal dan mungkin akan menghadapi hari-hari berat ke depan karena ada yang mengundurkan diri.  Pelajarannya adalah bagaimana menghumanisasi hubungan kerja.

 

Dalam pekerjaan tidak mungkin hanya ada logika. Berbagai emosi seringkali terlibat di sana.  Sedih,  kecewa,  marah, senang,  bangga dan lain-lain.  Dinamika naik turun perasaan ini pasti menjadi kumpulan kenangan yang melekat dalam bawah sadar.  Sehingga mengundurkan diri tidak pernah menjadi sesuatu yang biasa.  Ada waktu bertahun-tahun bekerja,  hanya ada satu hari yang disebut hari terakhir. Ketika perusahaan gagal memberi penghormatan pada hari terakhir karyawan,  maka ini bisa memberi pesan pada semua karyawan:  “perusahaan sebenarnya tidak benar-benar menghargai pekerjaan kita, lalu untuk apa bekerja keras untuk perusahaan ?”    Pada akhirnya perusahaan yang tumbuh dan besar adalah perusahaan yang mampu menghumanisasi hubungan kerja dan itu tercermin dalam bagaimana perusahaan bersikap terhadap hari terakhir karyawan.

 

(4 October 2016)