SUSTAINABLE ENGAGEMENT

 

Di Amerika Serikat hanya 30 persen dari pegawai yang merasa terlibat (engaged) di tempat kerja.  Penelitian ini dilakukan oleh Gallup pada tahun 2013.  Di dunia ada 142 negara,  prosentase pegawai yang merasa keterikatan di tempat kerja hanya 13 persen.

 

Setahun sebelumnya sebuah penelitian angkatan kerja atas 32.000 melalui perusahaan konsultan Towers Watson mendapati bahwa definisi tradisional atas engagement – kemauan pegawai untuk mengeluarkan usaha ekstra secara sukarela – tidak memadai lagi untuk mendukung kinerja tingkat tertinggi. Kemauan pada gilirannya tidak akan menjamin apa-apa.  Perusahaan-perusahaan dalam penelitian Towers Watson dengan nilai tinggi keterlibatan dalam pengertian tradisional ternyata hanya mencapai 14% dalam operating margin (kemampuan perusahaan dalam menghasilkan keuntungan). Sebaliknya perusahaan-perusahaan yang mendapat angka tinggi untuk pegawai-pegawai “sustainably engaged” berhasil meraih 27%  dalam operating margin.

 

Salah satu kesimpulan dari Towers Watson adalah  sustainable engagement dalam pelaksanaannya menuntut keberadaan peran efektif dari leader dan manager. Dengan dijalankannya peran tersebut akan mampu membuat sekitar 72% karyawan engaged.

 

Sebagai pemimpin dalam area dan levelnya masing-masing, kita  seringkali tidak peduli dengan engagement ini.   Seakan-akan dalam benak kita adalah selama pekerjaan berjalan sebagaimana normalnya, maka tidak perlu menyelidik lebih jauh soal engagement.  Kita tidak peduli apakah karyawan melakukan pekerjaan dengan terpaksa atau tidak. Bahkan  dalam hati kecil kita merasa bekerja itu memang ‘tidak enak’ sehingga ‘keterpaksaan’ itu bagian tidak terpisahkan dari ketidakenakan itu.  Engagement pun menjadi barang mewah untuk diperhatikan. Dalam kondisi seperti ini kreativitas kecil kemungkinan untuk hadir.  Apa perlunya kreativitas jika pekerjaan bisa dilaksanakan secara normal ?   Apa perlunya ide-ide baru jika yang penting adalah ‘pekerjaan dilakukan’  ?    Dalam situasi perusahaan seperti ini,  yang ada hanya ‘problem solving’,  tidak akan ada ide-ide baru untuk perubahan.

 

Pemimpin mempunyai tanggung jawab untuk membuat para bawahannya setiap waktu merasa terlibat sehingga mau dan sukarela memberikan usaha ekstra demi target tertentu.  Lebih lanjut lagi,  bagaimana keterlibatan ini berkesinambungan, tentu saja pemimpin tidak boleh kehabisan ide dalam mendorong dan menciptakan para bawahan yang terlibat.

 

(1 September 2016)

Spread the love
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

5 − 5 =