UNICORN

 

Kalau kita memulai usaha dengan mendirikan sebuah warung kopi, katakanlah, berapa lama kita akan mampu menjadi sebuah perusahaan unicorn ?

 

Unicorn dalam pengertian harafiah adalah  makhluk mitologis yang berwujud kuda dengan sebuah tanduk di dahi. Jika kata cornus dihubungkan dengan kata horn, maka berarti tanduk. Biasanya, bulu Unicorn berwarna putih dan tanduknya berbentuk spiral.

 

Namun unicorn dalam pengertian bisnis adalah sebuah perusahaan start-up yang mempunyai nilai lebih dari US $ 1 miliar  atau sekitar  Rp 13 triliun.  Gojek berhasil membuktikan sebagai unicorn ketika nilai valuasinya  US $ 1,2 miliar.  Bahkan tidak tanggung-tanggung,  Gojek mendapatkan kucuran dana segar sebesar   US $  500 juta atau sekitar Rp 7,2 triliun.

 

Gojek berdiri tahun 2010 .  Kok bisa melesat secepat itu  ?  Seorang ahli mengatakan bahwa momentum Gojek itu tahun 2014 ketika Jakarta benar-benar gila macetnya karena terjadi pembangunan infrastruktur jalan di banyak titik.   Penjelasan apapun, ini tetap keajaiban.

 

Untuk membayangkan betapa besarnya Rp 7,2 triliun, mari bermain angka.  Seorang  top manajemen sebuah stasiun tv memberi ilustrasi:  sebuah perusahaan stasiun tv yang baru didirikan dengan teknologi yang paling mutakhir saat ini,  dengan membangun transmisi di seluruh provinsi Indonesia yang ada 33 itu dan mampu menjalankan operasional siaran tanpa pemasukan sama sekali selama 3 tahun, berdasarkan hitung-hitungan di atas kertas  menghabiskan uang Rp 3 triliun.  Berarti Rp 7,2 triliun mampu membangun 2 stasiun tv tingkat nasional  sekaligus dan masih ada sisa.  Bahkan kalau dibayangkan uang Rp 7 triliun digunakan untuk membeli motor bagi para pengemudinya,  maka itu pun sangat berlebih.  Katakanlah ada 200.000 pengendara semuanya dibelikan motor baru:   Rp 11.000.000 x  200.000 pengendara = Rp 2.200.000.000.000.

 

Bisnis baru adalah keajaiban baru. Keajaiban itu kadang-kadang kombinasi antara misteri dan teka-teki. Seperti dikatakan Aileen Lee yang mempopulerkan istilah unicorn, “Yes we know the term “unicorn” is not perfect – unicorns apparently don’t exist, and these companies do – but we like the term because to us, it means something extremely rare, and magical.”

 

(8 September 2016)

KEJUJURAN

 

“It takes 20 years to build a reputation and five minutes to ruin it. If you think about that, you’ll do things differently.”

 

Yang mengatakan itu Warren Buffet.  Seorang legenda dalam dunia investasi dan orang nomer tiga terkaya dunia.    Perlu waktu 20 tahun untuk membangun sebuah reputasi dan hanya perlu waktu 5 menit untuk menghancurkan semua itu.

 

Rasanya kita perlu menantang diri untuk mempertanyakan reputasi kita selama ini dengan berbagai pertanyaan berikut ini :

 

Bagaimana kita membangun reputasi ?

 

Apakah melalui kejujuran atau melalui bangunan yang terdiri dari pintu-pintu rahasia menuju ruang gelap kebohongan ?

 

Jika jejak-jejak digital kita dikumpulkan,  apakah akan memperlihatkan ada masa gelap yang kita ingin kabur darinya ?

 

Apakah ada kata-kata  yang awalnya menjadi simbol dari  prinsip/ideologi kita  tapi  kemudian muncul  tindakan-tindakan kita yang justru menabrak prinsip/ideologi tersebut  ?

 

Apakah ada rekaman atau catatan  yang coba kita hapus demi koherensi  dengan  konstruksi reputasi yang kita inginkan ?

 

Pertanyaan-pertanyaan ini menjadi penting ketika akhirnya menyadari bahwa reputasi sehebat apapun akan mampu bertahan jika ditopang oleh tiang-tiang kejujuran.  Seperti kata petuah lama:  kejujuran adalah mata uang yang akan bertahan sampai kapan pun,  apalagi di era sekarang yang memungkinkan setiap orang bisa melacak jejak-jejak digital dari orang lain.

 

(15 September 2016)

 

SUSTAINABLE ENGAGEMENT

 

Di Amerika Serikat hanya 30 persen dari pegawai yang merasa terlibat (engaged) di tempat kerja.  Penelitian ini dilakukan oleh Gallup pada tahun 2013.  Di dunia ada 142 negara,  prosentase pegawai yang merasa keterikatan di tempat kerja hanya 13 persen.

 

Setahun sebelumnya sebuah penelitian angkatan kerja atas 32.000 melalui perusahaan konsultan Towers Watson mendapati bahwa definisi tradisional atas engagement – kemauan pegawai untuk mengeluarkan usaha ekstra secara sukarela – tidak memadai lagi untuk mendukung kinerja tingkat tertinggi. Kemauan pada gilirannya tidak akan menjamin apa-apa.  Perusahaan-perusahaan dalam penelitian Towers Watson dengan nilai tinggi keterlibatan dalam pengertian tradisional ternyata hanya mencapai 14% dalam operating margin (kemampuan perusahaan dalam menghasilkan keuntungan). Sebaliknya perusahaan-perusahaan yang mendapat angka tinggi untuk pegawai-pegawai “sustainably engaged” berhasil meraih 27%  dalam operating margin.

 

Salah satu kesimpulan dari Towers Watson adalah  sustainable engagement dalam pelaksanaannya menuntut keberadaan peran efektif dari leader dan manager. Dengan dijalankannya peran tersebut akan mampu membuat sekitar 72% karyawan engaged.

 

Sebagai pemimpin dalam area dan levelnya masing-masing, kita  seringkali tidak peduli dengan engagement ini.   Seakan-akan dalam benak kita adalah selama pekerjaan berjalan sebagaimana normalnya, maka tidak perlu menyelidik lebih jauh soal engagement.  Kita tidak peduli apakah karyawan melakukan pekerjaan dengan terpaksa atau tidak. Bahkan  dalam hati kecil kita merasa bekerja itu memang ‘tidak enak’ sehingga ‘keterpaksaan’ itu bagian tidak terpisahkan dari ketidakenakan itu.  Engagement pun menjadi barang mewah untuk diperhatikan. Dalam kondisi seperti ini kreativitas kecil kemungkinan untuk hadir.  Apa perlunya kreativitas jika pekerjaan bisa dilaksanakan secara normal ?   Apa perlunya ide-ide baru jika yang penting adalah ‘pekerjaan dilakukan’  ?    Dalam situasi perusahaan seperti ini,  yang ada hanya ‘problem solving’,  tidak akan ada ide-ide baru untuk perubahan.

 

Pemimpin mempunyai tanggung jawab untuk membuat para bawahannya setiap waktu merasa terlibat sehingga mau dan sukarela memberikan usaha ekstra demi target tertentu.  Lebih lanjut lagi,  bagaimana keterlibatan ini berkesinambungan, tentu saja pemimpin tidak boleh kehabisan ide dalam mendorong dan menciptakan para bawahan yang terlibat.

 

(1 September 2016)