BUY TWO GET ONE

BUY TWO GET ONE(18 August 2016)

Apakah itu  tidak salah  tulis ?   Apakah itu tidak terbalik ?   Tidak.

 

Tersebutlah seorang pengunjung – sebutnya namanya Ana– di kedai kopi  mengamati orang-orang yang ada di dalam kedai kopi tersebut.  Satu orang masuk memesan dua gelas kopi dan duduk.  Seorang pelayan mengantar satu gelas kopi.  Dia membayar dua gelas kopi dan minum segelas kopi. Setelah pengunjung ini pergi, pelayan menempelkan secarik kertas bertuliskan “segelas kopi”  di dinding.  Tak lama kemudian datang dua orang memesan tiga gelas kopi.  Dia membayar tiga gelas kopi dan dihidangkan dua gelas kopi.  Setelah dua orang ini pergi,  pelayan menempelkan secarik kertas bertuliskan “segelas kopi”  di dinding.

 

Beberapa hari ini kemudian, Ana sengaja datang lagi ke kedai kopi tersebut.  Seorang laki-laki masuk ke kedai kopi dan mengatakan pada penjaga kedai, “saya mau segelas kopi di dinding.”   Pelayan melayani laki-laki ini dengan pelayanan yang sama dengan yang diberikan kepada semua tamunya: ramah dan santun.  Ternyata orang punya kesempatan untuk membeli dua gelas kopi dan meminumnya satu gelas saja, satu gelas lagi direlakan bagi siapa saja yang menginginkan kopi tersebut.  Siapa pun yang nantinya meminum kopi “sumbangan” ini, dia tidak tahu siapa yang telah menyumbang.

 

Bagaimana mungkin bentuk bisnis seperti ini terjadi ?

 

Artikel di entrepreneurs.com  menulis  bahwa saat ini 45% dari angkatan kerja adalah generasi milenial.  Dan yang menempati posisi manajemen 28% nya adalah generasi milenial.  Tercatat 72% dari generasi milenial menyatakan ingin mempunyai impak.  Termasuk di dalamnya berarti membeli segelas kopi tidak sekedar menikmati segelas kopi:  adakah yang bisa dilakukan untuk memberi impak bahkan dalam aktivitas sehari-hari seperti membeli kopi.   Dalam artikel ini juga menyebut program membeli 1 buku dengan harga 2 buku: 1 buku diberikan 1 buku lagi akan diberikan pada yang membutuhkan.

 

Dan, menariknya, konsep ini seakan selaras dengan nasihat yang selama ini diberikan agamawan mengenai keikhlasan  “ketika tangan kananmu memberi, tangan kirimu jangan sampai tahu”     Memberi dan kemudian lupa.  Dahulukan memberi,  dan lupakan mengenai apa yang akan kita terima.

 

Buy two get one merupakan konsep memberi.  Buy one get two adalah konsep menerima. Pada akhirnya kita bisa melihat mana di antara keduanya yang menjadi kadaluarsa dalam waktu dekat ketika generasi milineal makin banyak lagi berada di sektor bisnis.

 

(18 August 2016)

Spread the love
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

nine + nine =