catatan dan inspirasi

KELUAR DARI TEMPURUNG

 

Dalam sebuah seminar dengan tema “kreativitas di industri tv Indonesia”, pesertanya kebanyakan adalah pekerja di stasiun televisi. Ketika sampai sesi tanya-jawab, pertanyaan tidak bergeser dari cara pandang seorang karyawan dalam pergulatannya dengan persoalan yang selama lebih dari 10 tahun dianggap sebagai momok:  rating.

 

Para karyawan stasiun tv sepertinya tidak mampu keluar dari tempurung rating.  Karena pada dasarnya dia dimarahi, dianggap berprestasi,  atau bahkan diturunkan jabatannya selalu dikaitkan dengan rating.  Padahal rating hanya sarana untuk mendapatkan target yang lebih besar lagi, yaitu:  pemasukan (revenue).   Rating adalah sarana untuk berhasil dalam bisnis.

 

Namun karena kebanyakan masih dalam pola pikir sebagai karyawan,  maka rating dianggap sebagai satu-satunya masalah yang paling penting. Mungkin ada baiknya dalam seminar yang bertema “kreativitas di industri tv Indonesia”  seperti ini,  semua peserta seminar berpura-pura sebagai calon pengusaha.  Jika itu dilakukan, saya bayangkan pertanyaan-pertanyaan dari para peserta adalah sebagai berikut:

 

– Kami punya problem dengan program-program kami.  Program hasil karya kreatif mestinya bisa bertahan puluhan tahun tapi pada saat ini begitu selesai ditayangkan hanya menjadi ruang-ruang library. Tidak bisa dijual kemana-mana.  Karena memang sejak awal tidak didisain untuk menjadi mesin uang sebagaimana sebuah produk yang copyright based.  Adakah pengalaman di tempat lain yang bisa menjadi benchmark kami dalam menghasilkan program yang mampu bertahan selama lebih 10 tahun karena faktor copyright-nya ?

 

-Kami selalu berada dalam lingkaran setan yang tak berkesudahan.  Setiap ada program meledak di stasiun tv lain, kami buru-buru diminta  untuk bikin program sejenis.  Padahal kami sudah jelaskan berkali-kali kepada direksi bahwa program yang bersifat mengekor atau menjiplak program lain tidak akan menikmati sukses yang melampaui keberhasil program yang dicontek.  Sedangkan program yang diciptakan dengan pendekatan berbeda akan mempunyai kemungkinan untuk meledak meskipun juga mempunyai kemungkinan untuk gagal.  Apakah  pandangan saya ini bisa saya terapkan untuk memproduksi sebuah program reality show berkenaan dengan perjalanan hidup para ahli fisika dan matematika di seluruh penjuru Indonesia ?

 

– Kalau kami memproduksi sinetron dengan biaya 2 kali lipat dari  sinetron tv-tv lain mungkinkah kita mendapatkan  pemasukan  10 kali lipat dibandingkan tv-tv lain ?

 

Pada akhirnya ini menjadi pilihan: terus berkutat dengan tempurung atau terpelanting dari tempurung dan akhirnya melihat dunia yang lebih luas.

 

(8 August 2016)

Spread the love
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *