PERINGKAT

 

Bayangkan anda berada dalam satu kelas berisi 10 orang.  Sepuluh orang ini harus bersaing keras untuk mendapatkan peringkat terbaik di hadapan satu-satunya guru.  Pendapat dari guru lain tidak penting.  Mungkin 3 orang yang terus-menerus berada di peringkat bawah akhirnya bisa menerima ‘takdir’ mereka sebagai orang-orang bawah.  Sekali-sekali mereka berada di 5 besar dan menganggapinya sebagai keajaiban sehingga mensyukuri sebagai berkah yang bersifat sementara.  Berarti,  5 orang di peringkat atas akan bersaing lebih mati-matian lagi untuk mempertahankan posisinya atau melompati lawannya.   Penilaian guru tidak bisa diganggu gugat. Tapi jika dari peringkat satu melorot menjadi peringkat ke-6,  sudah pasti dia akan melampiaskan kemarahannya pada guru tersebut. Dan menganggap guru tersebut tidak adil.

 

Segala protes dan keluhan hanya mewarnai dinamika kelas ini karena pada dasarnya mereka menerima “takdir” mereka berada dalam satu kelas dan ditentukan peringkatnya.

 

Itulah yang terjadi dalam industri penyiaran tv swasta Indonesia.  Ada banyak protes dan keluhan terhadap lembaga survei –satu-satunya – Nielsen,   tapi sekaligus ada penerimaan yang sangat kompak terhadap keberadaan lembaga ini.  Inilah status quo.  Sesekali ada kejutan dalam peringkat.  Tapi kemudian kembali ke status quo.  Sampai kapan kondisi seperti ini ?  Selama model bisnisnya bertumpu pada pemeringkatan, maka kondisinya akan tetap seperti itu.  Kecuali pada suatu saat nanti ada yang mengubah model bisnisnya dan ternyata berhasil.

 

(26 July 2016)

Spread the love
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

6 + fifteen =