PERCAKAPAN

 

Apa pentingnya percakapan ?    Mencari jawabannya bisa kemana-mana,  kali ini jawabannya ada di pelajaran ke 4 dari 10 pelajaran blogging yang diberikan Seth Godin.   Pelajaran ke 4 itu adalah “Jangan nonton tv dan jangan hadiri rapat”.

 

Sebegitu pentingnya kah nge-blog hingga terlarang menonton TV atau menghadiri rapat ?  Keduanya dianggap Seth sebagai aktivitas yang menghambat produktivitas.  Seth mengatakan bahwa dirinya dengan sadar memutuskan untuk tidak melakukan keduanya.  Menurut Seth,   orang Amerika paling payah dalam hal menghadiri rapat.   Sebagian orang sering menghadiri rapat hingga 5 jam.  Hapuskan semua itu,  nasehat Seth: “hilangkan 5 jam itu untuk melakukan hal-hal yang lebih produktif.”

 

Memang sulit membayangkan seorang pengusaha sepereti Seth tidak pernah menghadiri rapat. Tapi Seth menjelaskan  dalam bukunya “Read This Before Our Next Meeting”  bahwa rapat biasanya dihadiri oleh tiga orang atau lebih untuk membicarakan masalah yang bisa dipecahkan. Tapi jika Anda ingin masalah ini dipecahkan,  anda cukup bicara dengan satu orang !   Dan kalau bicara dengan satu orang itu namanya percakapan.

 

Rapat 5 jam itu tidak hanya di Amerika,  di sini juga sama.  Kadang-kadang setengah jam pertama menunggu pimpinan rapat datang.  Basa basi setengah jam juga.  Satu jam kemudian masing-masing peserta rapat memberi laporan.   Lalu mencoba mendengar usulan-usulan dan kemudian rapat berakhir dengan kata-kata “hasil rapat ini kita catat untuk kita sampaikan pada pimpinan”.

 

Salah satu nasehat Seth Godin:    pastikan rapat hanya untuk mengesahkan keputusan yang telah diambil.   Jadi…. mulai membayangkan cara-cara Seth….   panggil satu per satu orang-orang yang paling berkepentingan dengan masalah bersangkutan.  Dengarkan secara ringkas.  Minta pendapat dia solusinya.  Adakan percakapan. Putuskan solusinya.   Lalu adakan rapat untuk mengesahkan dan memastikan semua bisa menerima solusi itu.

 

Dengan kata lain, nasehat Seth Godin:   bercakaplah lebih dulu baru kemudian adakan rapat (kalau memang diperlukan).

 

(27 July 2016)

PERINGKAT

 

Bayangkan anda berada dalam satu kelas berisi 10 orang.  Sepuluh orang ini harus bersaing keras untuk mendapatkan peringkat terbaik di hadapan satu-satunya guru.  Pendapat dari guru lain tidak penting.  Mungkin 3 orang yang terus-menerus berada di peringkat bawah akhirnya bisa menerima ‘takdir’ mereka sebagai orang-orang bawah.  Sekali-sekali mereka berada di 5 besar dan menganggapinya sebagai keajaiban sehingga mensyukuri sebagai berkah yang bersifat sementara.  Berarti,  5 orang di peringkat atas akan bersaing lebih mati-matian lagi untuk mempertahankan posisinya atau melompati lawannya.   Penilaian guru tidak bisa diganggu gugat. Tapi jika dari peringkat satu melorot menjadi peringkat ke-6,  sudah pasti dia akan melampiaskan kemarahannya pada guru tersebut. Dan menganggap guru tersebut tidak adil.

 

Segala protes dan keluhan hanya mewarnai dinamika kelas ini karena pada dasarnya mereka menerima “takdir” mereka berada dalam satu kelas dan ditentukan peringkatnya.

 

Itulah yang terjadi dalam industri penyiaran tv swasta Indonesia.  Ada banyak protes dan keluhan terhadap lembaga survei –satu-satunya – Nielsen,   tapi sekaligus ada penerimaan yang sangat kompak terhadap keberadaan lembaga ini.  Inilah status quo.  Sesekali ada kejutan dalam peringkat.  Tapi kemudian kembali ke status quo.  Sampai kapan kondisi seperti ini ?  Selama model bisnisnya bertumpu pada pemeringkatan, maka kondisinya akan tetap seperti itu.  Kecuali pada suatu saat nanti ada yang mengubah model bisnisnya dan ternyata berhasil.

 

(26 July 2016)

MENUNGGU

 

Menunggu itu seperti kutukan.  Menunggu itu membuat kita merasa beralasan untuk tidak melakukan apa-apa.

 

Karena menunggu peluang, kita  sama sekali tidak memulai  bisnis apa pun.

 

Karena menunggu surat perintah kerja, kita sama sekali tidak bekerja apa apa

 

Karena menunggu rasa nyaman, kita tak memulai membuat laporan

 

Karena menunggu kabar dari penerbit, kita tak menulis satu lembar pun.

 

Mentalitas menunggu bisa mengganggu produktivitas. Bayangkan sebuah perusahaan yang pengambil keputusannya terpusat pada satu orang maka tak terelakkan menunggu menjadi kebiasaan yang mendarah daging.  Setiap ada persoalan, kata ajaibnya adalah “menunggu perintah dari atas”.

 

Setiap kali mengevaluasi produktivitas,  mestinya kita memulai dengan pertanyaan:  hal apa saja yang membuat kita lebih dulu memilih menunggu ketimbang langsung mengerjakan ?   Rasanya banyak sekali momen-momen menunggu yang mesti kita coret dari kebiasaan kita sehari-hari.

 

(23 July 2016)

 

DUKUNGAN

 

Apa yang paling diharapkan politisi ?  Tentu saja dukungan.  Dukungan terhadap kepentingannya atau pun misi yang sedang diperjuangkannya.    Politisi berlatih terus-menerus untuk mengenali bentuk-bentuk dukungan.  Ada dukungan yang diucapkan seorang petualang,  saat ini mendukung A di hari berikutnya bisa mendukung B atau C.  Ada dukungan yang diucapkan dari seorang yang putus asa,   orang yang terpaksa mendukung  karena putus asa menemukan orang yang mau berbuat sesuatu demi kepetingannya.     Ada dukungan yang disampaikan oleh orang yang sudah teruji berkali-kali dalam merealisasikan dukungannya.

 

Apa yang paling diharapkan konsumen ?   Juga dukungan. Kita tidak bisa menjual sebuah produk setelah itu langsung pergi begitu saja.  Jika pun bisa seperti itu ada dua kemungkinan:  kita menjual barang remeh temeh atau kita memang penipu.  Sama-sama menjual pisang goreng, tentu beda antara pisang goreng yang dijual pedagang jalanan di kemacetan dan dijual di kios yang mangkal di pojok pemukiman. Membeli pisang goreng di kemacetan sama saja dengan membeli sesuatu tanpa dukungan apa pun.  Jika rasa pisang itu sangat tidak enak atau basi, maka tidak mungkin keluar dari mobil dan mengejar penjual itu.  Jika rasa pisang itu sangat enak , tidak mungkin pula mengulang untuk membeli lagi. Tidak ada dukungan ketersediaan.   Jika pisang goreng yang kita beli di sebuah kios ternyata tidak enak,  kios itu masih ada di sana untuk minimal menerima keluhan kita (lepas dari cara merespons keluhan itu mungkin masih tidak sesuai dengan harapan kita).

 

Menjual sebuah produk adalah satu paket dengan dukungan kita terhadap konsumen. Tiap hari tiap saat kita akan menyaksikan betapa banyak orang-orang menjual sesuatu lalu  pergi begitu saja dan pada akhirnya dia pun tidak didekati konsumen sama sekali.

 

Apapun produk kita:  program tv, sepatu,  nasi uduk,  tiket pesawat,  pada akhirnya bukan peristiwa menjualnya yang penting tapi peristiwa menjalin relasi yang paling penting.  Dalam relasi itu setiap penjual atau produsen akan diuji berkali-kali dalam memberikan dukungannya pada konsumen. Dukungan kualitas, dukungan menerima saran, dukungan penjelasan, dukungan ketersediaan, dukungan pertumbuhan fasilitas baru dan berbagai bentuk dukungan lain yang mungkin.

 

(21 July 2016)

MEMBOSANKAN

 

If people aren’t discussing your products, your services, your cause, your movement or your career, there’s a reason. The reason is that you’re boring.   (Seth Godin)

 

Sebagian besar program tv yang gagal pada dasarnya karena membosankan.  Lepas dari berbagai diskusi dan perdebatan yang melingkupinya.  Ketika dua menit pertama saya tidak tahan meneruskan menonton sebuah program tv, saya anggap  program tv tersebut membosankan dan tidak layak untuk dipilih.

 

Untuk membuat sebuah produk tidak membosankan, membutuhkan biaya yang lebih besar.  Dalam bentuk usaha yang lebih keras atau uang lebih banyak.  Untuk membuat 5 menit pertama sebuah program tv tidak membosankan,  anda harus membayar penulis dan sutradara yang hebat, yang tentunya bertarif lebih mahal dari dari penulis dan sutradara biasa.  Untuk membuat produk  dibicarakan lebih sering dan lebih luas,  harus  ada usaha lebih keras menggali cerita yang memungkinkan produk itu tak pernah habis ide untuk dibicarakan dan didiskusikan.  Untuk membuat mall tidak membosankan,   harus ada usaha ekstra dan uang tambahan  untuk  mengadakan  berbagai aktivitas atau kegiatan yang membuat pengunjung mall tertantang dan tertarik.

 

Membosankan memang relatif.  Karena ada yang sangat suka sepakbola,  ada juga yang menganggap sepakbola itu membosankan.  Tapi dalam perspektif bisnis, patokannya  selalu pada yang mayoritas.  Selama mayoritas menganggap produk itu tidak membosankan, berarti salah satu poin terpenting untuk bisa berhasil di pasar telah terpenuhi.

 

(4 July 2016)