KOMPROMI

 

Kompromi itu buruk atau baik ?

 

Sebagian memandang kompromi sebagai tindakan  baik mau berkorban terhadap keinginan orang lain (satu orang atau banyak orang).  Tapi bagaimana kompromi di mata seorang negosiator penyanderaan FBI, Chris Voss ?

 

Chris Voss, pengarang buku Don’t Split the Difference, mengatakan pendekatan menang-menang dalam sebuah negosiasi justru tidak efektif dan seringkali berbahaya.  Kalau tidak berbahaya, setikdanya tidak  memuaskan satu pihak pun.   Di sisi lain,  jika kita gunakan pendekatan memang-menang pada lawan negosiasi yang  menerapkan pendekatan kalah-menang,  berarti kita menyetorkan diri untuk diperdaya.

 

Lebih jauh, Chris Voss menegaskan  kompromi seringkali merupakan sebuah “kesepakatan yang buruk”.  Padahal kata kuncinya  “tanpa kesepakatan adalah lebih baik daripada kesepakatan yang buruk”

 

Voss memberi analogi: seorang perempuan ingin suaminya mengenakan sepatu hitam karena senada dengan jasnya warna  hitam. Tapi suaminya tidak mau, dia ingin mengenakan sepatu coklat.  Jadi apa yang mereka lakukan ?   Mereka sepakat di tengah-tengah.  Kaki kiri mengenakan sepatu coklat, kaki kanan mengenakan sepatu hitam.  Apakah ini hasil yang terbaik ?  Sama sekali tidak. Bahkan itu kesepakatan yang sangat buruk.   Daripada harus satu coklat satunya lagi hitam, lebih baik tanpa kesepakatan.

 

Setiap kali melakukan negoasiasi ingat analogi ini.  Bagi Voss, tidak ada kompromi dengan penculik atau penyandera. Ketika penyandera minta tebusan  $ 150.000,  kompromi dengan angka $ 75.000 bukanlah kesepakatan yang tepat. Bisa-bisa malah membahayakan sandera.

 

(15 June 2016)

 

 

Bagi Voss,  kita mestinya tidak kompromi.  Kompromi itu mudah dan menyelamatkan muka kita. Kita berkompromi agar kita aman.  Sebagian besar orang dalam sebuah negosiasi dikendalikan oleh rasa takut atau oleh hasrat untuk menghindari rasa sakit.  Hanya sedikit yang benar-benar digerakkan oleh tujuan yang sesungguhnya.    Solusi kreatif atas sebuah masalah hampir selalu melalui berbagai  risiko, ketidaknyamanan, kebingungan dan konflik.  Tindakan kompromi membuat kita tidak melalui semua gangguan itu.   Akibatnya, bukan kesepakatan terbaik yang kita peroleh, tapi kesepakatan buruk –bahkan sangat merugikan.

 

 

Sekarang lihatlah rapat-rapat yang kita adakan selama ini.  Apakah rapat-rapat itu bertujuan menghasilkan solusi terbaik atau sekadar menghasilkan kompromi ?  Kompromi akan menyenangkan kita.  Tapi cuma sesaat.  Peringatan Chris Voss setidaknya membuat kita lebih hati-hati. Dalam setiap rapat sebenarnya adalah medan negosiasi: kita mau kompromi atau bersikeras pada hasil terbaik.