catatan dan inspirasi

BRAINTRUST

 

Pagi ini di harian Kompas ada resensi dua buku yang terkenal di dunia inovasi dan kreativitas:  Zero to One karya Peter Thiel (pendiri PayPal) dan  Creativity Inc.  karya Ed Catmull seorang CEO di Pixar.  Peresensinya adalah Yuswohady.

 

Dalam Creativity Inc. ditulis salah satu metode yang mendukung Pixar mampu terus-menerus selama 12 tahun mencetak animasi yang box office.  Salah satu metode itu adalah braintrust.  Secara singkat inti dari metode dari braintrust begini:

 

Ide bisa datang dari mana-mana.  Ide itu dikumpulkan dan diseleksi.  Ide yang terpilih kemudian dieksekusi produksi menjadi prototype atau demo tape oleh sebuah tim yang bukan menghasilkan ide tersebut (alasannya:  tim ini diharapkan bisa obyektif, tanpa ada rasa memiliki terhadap ide itu, dengan demikian akan mampu mendengar segala masukan).   Setelah prototype atau demotape selesai diproduksi, diserahkan pada  braintrust.  Braintrust ini adalah sekumpulan orang dengan kredibilitas tinggi di bidangnya. Bidang storytelling dan animasi.  Braintrust ini tidak diberi wewenang untuk  membatalkan atau menghentikan ide yang telah diproduksi.   Braintrust harus mempersuasi tim untuk memperbaiki karyanya, misalnya dengan kata-kata “bagus bro.  Saya suka dengan gaya si karakter A saat melawan musuh.  Kalau boleh usul,  unsur dramatiknya bisa ditambah lagi dengan gerakan yang lebih detail dan slowmotion.”    Braintrust meskipun kumpulan orang-orang pintar dan berpengalaman, mereka mendekati tim dengan cara persuasi.  Sedang tim itu sendiri mempunyai rasa percaya yang tinggi sekali terhadap braintrust, sehingga metode ini efektif dalam menghasilkan karya yang terbaik. Bukan berarti metode ini dijamin lancar,  sudah pasti akan ada diskusi alot atau pun perdebatan, tapi metode ini mampu menekan ego masing-masing anggota tim hingga titik minimal.

 

Pertanyaannya:  apakah sistem braintrust ini bisa diterapkan di perusahaan lain ?  termasuk di Indonesia ?

 

Berita yang cukup mengejutkan dari Yuswohady bahwa metode braintrust tak bisa diterapkan di tempat lain.  Yuswohady menjelaskan bahwa Pixar sudah dibeli Disney dan terbukti Disney gagal total dalam menerapkan braintrust.

 

Baik.  Braintrust mungkin memang belum tentu berhasil diterapkan di perusahaan lain. Termasuk perusahaan di Indonesia.  Tapi saya melihat sekian lama bahwa poin-poin yang ada dalam braintrust itu adalah poin-poin krusial yang tidak bisa diatasi oleh perusahaan-perusahaan industri kreatif, sehingga gagal.

 

Contohnya, sebuah stasiun tv.  Dalam divisi produksi,  tim yang menghasilkan ide tertentu tim itu pula yang memproduksinya.  Dan ini terbukti menimbulkan banyak masalah.  Perasaan memiliki atas ide itu membuat tim tersebut mempertahankan idenya mati-matian, telinganya ditutup. Suara-suara orang lain dianggap sebagai bentuk hambatan dalam mewujudkan ide.  Sehingga peluangnya besar untuk hadirnya program-program yang “asyik sendiri”,  program-program yang sangat berisik tapi tidak mampu connect dengan pemirsanya.

 

Karena itu,  ayolah mas Yuswohady,  mari kita diskusi mengenai braintrust ini. Metode ini sangat layak dicoba. Kalau pun gagal, kita akan belajar banyak.

 

(5 June 2015)

Spread the love
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *