catatan dan inspirasi

EFEK PYGMALION

 

Tersebutlah Pygmalion seorang pemahat patung dalam mitologi Yunani. Suatu ketika  Pygmalion berhasil membuat patung perempuan. Patung perempuan ini sangat cantik hingga Pygmalion jatuh cinta kepada patung buatannya sendiri itu.  Dia  memberi nama patungnya  itu Galatea.  Begitu besar cinta Pygmalion kepada Galatea hingga Pygmalion memohon kepada dewa Aphrodite untuk memberikan nafas ke  patung itu.  Dewa Aphrodite melihat cinta dan harapan yang begitu dari Pygmalion atas Galatea ini hingga akhirnya Dewa Aphordite  menjadikan Galatea sebagai manusia.

 

Di tahun 1970an para ilmuwan mempopulerkan Pygmalion atas fenomena yang disebut efek Pygmalion.  Jika seorang pemimpin menaruh harapan tinggi terhadap para bawahannya,  maka bawahannya akan merasa dipercaya,  yang pada akhirnya akan membuat bawahan berprestasi lebih tinggi dari rata-rata prestasi bawahan yang diperlakukan biasa saja.  Tidak hanya dalam hubungan antara pimpinan-bawahan tapi juga guru-murid  dan orangtua-anak.

 

Percobaan Rosenthal-Jacobson membuktikan efek Pygmalion ini. Rosenthal  membuat percobaan di sekolahnya dengan membagi murid-muridnya dalam tiga kelas dengan tiga perlakuan yang berbeda.   Di kelas pertama, murid-murid diberikan ekspektasi tinggi, yaitu diberi keyakinan bahwa mereka mereka adalah murid-murid pilihan dan akan berhasil dengan nilai baik.  Di kelas kedua,  murid-murid diberi tekanan bahwa mereka ada kemungkinan tidak lulus.  Di kelas ketiga, murid-murid dianggap  sebagai murid tersisa sehingga tidak diberikan ekspektasi sama sekali.   Selama satu semester,  kelas yang diberikan ekspektasi tinggi menghasilkan nilai yang jauh lebih baik dibandingkan dua kelas lain.

 

Tentu saja itu juga berlaku pada pengajaran kreativitas di kelas.  Coba saja lakukan eksperimen ala Rosenthal ini.  Di kelas pertama,  taruhlah harapan tinggi pada peserta dan beri keyakinan bahwa mereka orang-orang pilihan yang akan menghasilkan ide cemerlang dan mengeksekusinya dengan baik.  Di kelas kedua, anggap saja mereka sebagai peserta biasa yang kita coba memperingatkan bahwa kreativitas mereka sangat terbatas.  Di kelas ketiga,  adalah peserta sisa dari seleksi sebelumnya sehingga terserah mereka mau melakukan apapun.  Bisa langsung diketahuikah hasil dari percobaan ini ?

 

Pada akhirnya, entah kita pimpinan, guru atau orang tua,  kita tidak bisa sekadar menunggu siapa yang bakal beprestasi di kemudian hari tapi sejak awal memang memberikan ekspektasi pada mereka sehingga mereka bisa berprestasi lebih tinggi.

 

(1 June 2016)

Spread the love
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *