PREMAN PENSIUN

 

Ketika meniru bulat-bulat atas sesuatu,  bisa jadi kita akan mengalami dua kegagalan sekaligus:  gagal mendapatkan tiruan yang persis dan gagal dalam melakukan sesuatu.

 

Ketika kita membuat film dengan niat meniru Ada Apa Dengan Cinta 2 secara mentah-mentah,  maka bisa jadi kita akan gagal mendapatkan tiruan persis Ada Apa Dengan Cinta 2  dan sekaligus  gagal menghasilkan film yang bagus.

 

Berkarya secara berbeda itu harus.  Karena meniru pun mengandung risiko yang sangat besar.

 

Seperti kata Peter Thiel juga.   Sehebat apapun anda mengikuti jejak-jejak keberhasilan Facebook,  anda tak akan menghasilkan Facebook kedua.

 

Dalam tingkat berbeda, kita bisa belajar juga dari Aris Nugraha yang menghasilkan seri drama komedi Preman Pensiun.  Seri ini begitu suksesnya sehingga seri ini diputar ulang 5 kali pun secara berturut-turut pun tetap menghasilkan rating yang sangat baik.  Aris Nugraha memulai dengan Bajaj Bajuri di awal tahun 2000-an ketika semua tv banyak memproduksi program komedi berisi para pelawak. Bajak Bajuri ada terobosan baru karena menggunakan para aktor yang memerankan karakter-karakter lucu dengan skenario yang lucu pula.  Kesuksesan Bajaj Bajuri tidak membuat khawatir Aris Nugraha untuk ditiru.  Siapapun yang ingin meniru Bajaj Bajuri pasti akan menemui dua kegagalan:  gagal mendapatkan tiruan Bajaj Bajuri yang sempurna, dan bahkan gagal menghasilkan program tv yang baik.  Bagi Aris Nugraha, seraplah berbagai kekuatan program-program tv lalu proseslah dalam alam bawah sadar kemudian berkaryalah.  Aris Nugraha mengakui mengadopsi beberapa pendekatan dari film atau program tv lain, misalnya pendekatan film-film James Bond,  tapi meleburkannya dalam sebuah konsep yang utuh dan kuat.  Hingga kemudian lahirlah Preman Pensiun. Sebuah niat yang didasari kenyataan bahwa sudah begitu umumnya format-format program komedi ala Bajaj Bajuri, sehingga harus keluar dari format itu.  Aris Nugraha ingin mencoba  format komedi yang merupakan parodi dari opera sabun.  Sebuah drama dengan bermacam-macam buih dan busa. Buih dan busa ini bisa komedi dan drama.  Dan tetap didukung oleh skenario yang kuat.  Ditambahkan lagi aktor-aktor legenda seperti Didi Petet,  ternyata kemudian menjadikan Preman Pensiun fenomenal.

 

Hari ini belajar dari Aris Nugraha:  Jangan berusaha menghasilkan tiruan.  Karena sesungguhnya itu cuma mengarahkan pada kegagalan.  Bahkan jangan meniru keberhasilan kita sendiri. Karena itu berarti kita sangat nyaman dengan satu pola.  Teruslah berproses dengan pola-pola baru.

 

(26 May 2016)