MENGUKUR KREATIVITAS

 

Sebagian besar orang sudah sepakat bahwa kreativitas memang trainable (bisa diajarkan dan dilatih).   Namun pengukuran terhadap efektivitas pelatihan kreativitas bukan pekerjaan mudah dan didiskusikan sepanjang 3 dasawarsa.  Bahkan sebagian ahli menganggap pengukuran kreativitas adalah isu paling kontroversial dalam riset kreativitas (Sharma and Rastogi 2009). Pengukuran kreativitas itu menjadi muskil bukan hanya karena kompleksitas konsep kreativitas tapi ada begitu banyaknya definisi mengenai kreativitas.

 

Silih berganti tes untuk mengukur kreativitas bermunculan.  Di akhir 1960-an  J.P. Guilford dan Paul E. Torrance mengembangkan tes untuk mengukur berpikir kreatif,  yaitu:    Guilford’s Alternative Uses Test (Guilford, 1950; 1967)  Torrance Tests of Creative Thinking (Torrance, 1962; 1974). Tes ini meminta peserta untuk mengisi sebanyak mungkin kemungkinan penggunaan dari barang-barang umum seperti  paper clip,  gantungan baju atau kaleng.  Penilaian sebagaimana yang diusulkan Guilford terdiri dari 4 komponen yaitu:  orisinalitas,  kefasihan (fluency),  fleksibilitas dan elaborasi.

 

Sampai saat ini setidaknya ada 255 tes terhadap berpikir kreatif.    Mednick’s Remote Associates Test, the Torrance Test of Creative Thinking, the Wallach and Kogan Tests, Gough’s Creativity Index, Amabile’s Consensual Assessment Technique  and the Rainmaker Index adalah tes-tes yang umum digunakan.

 

Apakah tes-tes ini juga lazim digunakan di Indonesia ?  Tidak ada datanya.  Ingat, tes ini untuk mengukur efektivitas pelatihan kreativitas.  Jadi,  tes ini digunakan atau tidak bergantung dari ada atau tidak pelatihan kreativitas, yang sayangnya masih belum cukup lazim dilakukan di negeri ini.

 

(6 May 2016)

Spread the love
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

two × four =