catatan dan inspirasi

JALUR ALTERNATIF

 

Jika kita melakukan perjalanan ke luar kota dengan mobil,  di papan nama penunjuk jalan kita sesekali menemukan kata “jalur alternatif”.   Artinya,  dalam menuju sebuah kota tujuan,   ada jalan alternatif dari jalan yang kita lalui.  Jalur alternatif itu biasanya terlihat sebagai jalan yang lebih kecil.  Jika jalan biasa kita aman-aman saja,  jalur alternatif cenderung kita abaikan. Seakan-akan di sana ada rimba yang sama sekali kita tidak kenali.  Melewati jalur alternatif sama saja dengan mengambil keputusan yang penuh risiko.  Tapi jika jalan sangat macet sehingga tidak bergerak,  jalur alternatif menjadi pilihan yang menarik.  Mungkin kita tidak mengenal jalur itu, tapi setidaknya ada harapan untuk lebih lancar dari jalan yang macet ini.  Di sisi lain, jangan lupa,  jalur alternatif masih mengandung risiko yang besar juga:  misalnya, ternyata di jalur alternatif itu harus melewati jalan rusak dan gelap gulita sehingga berpeluang membuat mobil bermasalah.

 

Jalur alternatif juga berlaku dalam aspek profesionalisme kita.

 

Kita mungkin melihat diri kita yang telah menjalani sebuah profesi selama lebih 10 tahun tapi tidak lebih kaya dari orang tertentu dengan profesi yang sama hanya dalam waktu 5 tahun.   Mungkin kita bisa berkilah:  bukan kekayaan semata yang kita capai.  Jika benar bukan kekayaan yang kita capai, mengapa faktor penghasilan selalu menjadi sumber kesengsaraan utama kita karena membandingkan dengan penghasilan orang yang lebih besar ?

 

Kata Rolf Dobelli, “jalur alternatif tidak kelihatan, sehingga kita jarang merenungkannya. Mereka yang berspekulasi dengan obligasi berisiko, opsi dan asuransi kredit namun tetap menghasilkan jutaan (dolar) tidak boleh lupa bahwa mereka bermain dengan banyak jalur alternatif yang bisa mengarah langsung pada kehancuran. Bagi orang yang berpikir rasional, 10 juta dolar yang dihasilkan melalui jalur yang berisiko tinggi tidak lebih berharga dibandingkan jumlah yang sama dihasilkan melalui kerja keras selama bertahun-tahun.”

 

Memang pada akhirnya jalur alternatif hanya akan menonjol nilai risikonya.  Bagi kebanyakan orang jalur alternatif itu menakutkan.  Lebih baik bermacet-macet dalam perjalanan ke luar kota hingga berjam-jam daripada harus melewati jalur alternatif yang kemudian terjadi masalah di mobil dan akibatnya menempuh waktu perjalanan jauh lebih lama.   Lebih baik hidup bekerja keras selama bertahun-tahun dengan menabung seperak demi seperak ketimbang harus menempuh jalur alternatif yang mempunyai risiko kehilangan tabungan.

 

Karena itu, sebagian pengusaha besar dengan sengaja menutup wacana adanya jalur alternatif bagi para karyawannya.  Karyawan “dipaksa” untuk  meyakini bahwa jalan yang ditempuhnya adalah jalan paling aman bagi dia dan keluarganya, dan jalur alternatif adalah jalan tergelap yang mengandung banyak risiko.  Dengan begitu karyawan akan tetap tinggal aman damai  di perusahaan itu.  Tapi di sisi lain, di lubuk hati sebagian besar karyawan,  tidak puas  dengan pencapaiannya.  Ketidakpuasan itu  akan menggoda para karyawan  untuk menengok dan mempertimbangkan jalur alternatif.  Dan itu  wajar mengingat kita adalah makhluk kreatif.

 

(4 April 2016)

Spread the love
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *