TERLALU BANYAK

 

Apa saja yang bisa terlalu banyak tapi tidak produktif ?

 

– terlalu banyak perdebatan

 

– terlalu banyak pertimbangan

 

– terlalu banyak istirahat

 

– terlalu banyak konsumsi hiburan

 

– terlalu banyak menunggu

 

– terlalu banyak waktu luang

 

– terlalu banyak analisis

 

– terlalu banyak pilihan

 

– terlalu banyak prasangka

 

– terlalu banyak sasaran

 

Dan tentu saja ada “terlalu banyak”  yang justru menunjukkan produktivitas

 

– terlalu banyak karya

 

(25 April 2016)

 

LUKISAN

 

“The secret of leadership is simple: Do what you believe in. Paint a picture of the future. Go there. People will follow.”  Seth Godin

 

Terjemahan bebasnya:  rahasia kepemimpinan itu sederhana:  lakukan apa yang kamu yakini.  Buatlah lukisan tentang masa depan (menjadi cita-citamu).  Pergilah ke sana.  Orang-orang akan mengikutimu.

 

Ada banyak sekali pelatihan kepemimpinan. Berbagai kemampuan yang mendukung kepemimpinan  diajarkan.  Tapi pasti tidak ada pelatihan untuk mampu membuat lukisan tentang masa depan.

 

Di industri Asuransi dan Penyiaran TV ada kisah pemimpin yang pergi ke perusahaan kompetitor dan membawa serta banyak pengikut. Pemimpin ini sudah menggambar lukisan yang indah dan dia memperlihatkan sebuah kerja keras untuk menuju ke sana.  Ketika perusahaan dianggap tidak lagi mampu mendukung upaya pencapaian ke arah situ,  semua ramai-ramai mengikuti pemimpin yang pindah perusahaan.

 

Perusahaan mestinya merasa beruntung mempunyai pemimpin yang mampu membuat lukisan indah sehingga diikuti oleh semua karyawan.  Tapi sayangnya, baru kemudian disadari bahwa lukisan indah tersebut milik pemimpin itu secara individual,  bukan milik perusahaan.  Selalu saja menjadi tantangan bagi perusahaan manapun hingga detik ini:   membangun mimpi sama-sama yang menjadi pondasi untuk budaya perusahaan.

 

(21 April 2016)

RENCANA OPTIMIS

 

Sikap kita menghadapi masa depan seringkali dibedakan dengan dua macam:  optimisme dan pesimisme.   Peter Thiel ternyata membagi optimisme dan pesimisme dalam dua macam:    pasti dan tak pasti

 

Pesimisme Tak Pasti (indefinite pessimism) :  menurut Thiel,  setiap kebudayaan pada dasarnya mempunyai sebuah mitos mengenai menurunnya  masa kejayaan. Pada dasarnya setiap orang adalah pesimis. Bahkan hingga sekarang pesimisme itu mendominasi sebagian wilayah dunia.  Orang pesimis tak-pasti  melihat masa depan yang suram tapi tidak tahu harus melakukan apa. Itulah yang terjadi di Eropa sejak 1970-an ketika gagal bertahan dari kemerosotan birokratis yang tak terkendali.  Saat ini  Eropa mengalami situasi krisis yang terus –meski lambat—memburuk dan tidak ada yang ambil alih untuk pegang kendali.   Dalam  pesimisme tak-pasti ini orang Eropa menyadari  situasi krisis  tapi tidak yakin kejatuhan akan datang cepat atau lambat.

 

Pesimisme pasti (definite pessimism) :   Orang  pesimis definite  percaya bahwa mereka bisa melihat masa depan.  Dan karena masa depan itu sudah pasti buruk,  mereka bekerja keras mempersiapkannya.  Menurut Thiel, China adalah contoh orang  pesimis pasti.  Ketika pertumbuhan ekonominya fantastis (10% setiap tahun sejak 2000) mestinya China percaya diri. Tapi dalam sudut pandang China,  pertumbuhan tersebut masih belum cukup cepat.    China bergerak cepat karena titik berangkatnya memang sangat rendah.   Selain itu China mencontek semua yang berhasil di Barat.  Dan karena populasi China sangat besar  maka harga sumber daya alam pun terdesak untuk lebih tinggi, sehingga tidak memungkinkan bagi China menaikkan standar hidupnya sejajar dengan negara-negara kaya.   Karena itu para pemimpin China selalu terobsesi dengan kemungkinan situasi akan berbalik memburuk. Apalagi para pemimpin adalah generasi yang pada masa kecil pernah mengalami masa-masa kelaparan yang sangat sulit sehingga mereka melihat masa depan sebagai ancaman yang nyata

 

Optimisme pasti (Definite Optimism):  Orang optimis-pasti menganggap masa depan akan lebih baik daripada hari ini jika kita merencanakan dan bekerja untuk membuatnya lebih baik.  Dari abad 17 hingga tahun 50an dan 60an  para optimis-pasti dari Barat memimpin pergerakan ini. Ilmuwan,  insinyur,  dokter dan pengusaha sama-sama mengusahakan agar hidup menjadi lebih kaya, lebih sehat dan lebih panjang umur.  Berbagai penemuan teknologi muncul dalam fase ini.

 

Optimisme tak pasti (Indefinite optimism):   Setelah sempat dikuasai  kaum pesimis di tahun 1970-an,   Amerika Serika kembali otpimis sejak periode 1980-an ketika bull market   (saham, valas, obligasi, komoditas) sangat berkembang dan membiayai berbagai proyek teknologi sebagai sebuah upaya mendekati masa depan.  Bagi  orang optimis tak-pasti,  menurut Thiel,  masa depan pasti lebih baik tapi tidak tahu dengan persis dengan cara bagaimana sehingga mereka tidak menyusun rencana-rencana spesifik.  Mereka berharap mendapatkan keuntungan dari masa depan  tapi tidak merasa perlu untuk merancang  masa depan secara benar.

 

Jika Thiel tinggal beberapa lama di Indonesia, di manakah dia akan memposisikan masyarakat Indonesia  ?     Mungkin Thiel akan bingung.  Cukup banyak orang optimis,  banyak juga orang pesimis.  Optimisme itu ditawarkan oleh beberapa individu dengan prestasi yang menonjol. Tapi sebagai sebuah gerakan optimisme masal menuju sebuah tujuan tertentu, itu tidak terlihat.  Orang hanya merasa yakin bahwa besok akan lebih baik dari hari ini.  Tapi jika ditanya dalam bentuk apa lebih baik, mungkin jawabnya tidak tahu.  Jika ditanya apa yang harus dilakukan untuk mencapai lebih baik itu,  mungkin juga jawabnya tidak tahu.  Seakan-akan orang yakin masa depan lebih baik tapi merasa tidak berkaitan dengan upaya mewujudkan masa depan yang lebih baik.  Karena itu ‘perencanaan’ adalah sebuah kata yang makin lama makin terdengar aneh.  Seorang karyawan sebuah stasiun televisi ketika diminta untuk menyerahkan dokumen perencanaan 10 tahun ke depan, dia kebingungan.  Karena dalam operasional stasiun televisi yang dia kenal,  rencana untuk bulan depan saja tidak ada, apalagi tahun depan.  Rasanya itulah tantangan kita semua saat ini: perencanaan.

 

(18 April 2016)

KAPAN MULAINYA ?

 

Motivator senang dengan kalimat “kalau tidak sekarang, kapan mulainya ?”   Jarang sekali yang benar-benar bisa dimulai sekarang.  Dimulai sekarang ketika ada penyesalan lebih dulu:

 

– seharusnya aku mulainya ketika aku naik jabatan setahun lalu.

 

– seharusnya aku mulainya ketika bulan lalu harga dolar turun bulan lalu.

 

– seharusnya aku mulainya ketika aku masih di kota Jakarta setengah tahun lalu.

 

– seharusnya aku mulainya musim liburan kemarin ketika banyak orang punya waktu

 

Dan begitu banyak daftar seharusnya yang lain.  Sekarang menjadi pilihan kedua ketika yang seharusnya itu tidak dilakukan dalam memulai.

 

Namun ‘sekarang’ –kita selalu beralasan —  mempunyai banyak sekali keterbatasan.  Tak cukup tersedia sumber daya untuk memulai. Entah berapa banyak orang tidak bisa memulai sekarang karena merasa sumber daya keuangan belum memadai.  Modal masih menempati urutan pertama sebagai penyebab kematian ide.   Orang hidup perlu oksigen, dan ide dianggap hanya bisa hidup dengan suntikan modal.

 

Kita bisa menghasilkan banyak ide, tapi apakah kita bisa memulai merealisasikan ide itu sekarang adalah soal lain.  Mungkin saja kita benar-benar memulai sekarang,  memulai sebuah aksi riel untuk merealisasikan ide.  Tapi rasanya bukan memulai jika besok ternyata tak dilanjutkan.   Memulai bisa jadi gampang –jangan khawatir, akan banyak sekali orang yang memotivasi untuk memulai sekarang juga–  tapi melanjutkan sesuatu yang dimulai secara konsisten hingga membuahkan hasil (bahkan dalam banyak kasus ketika konsisten pun kita bisa berada dalam posisi mengambang tak jelas mengarah kemana)  membutuhkan komitmen dan keteguhan hati.

 

Apa yang mau kita mulai sekarang  ?  Pilih saja satu dari sekian banyak ide yang ingin kita realisasikan.  Lalu tuliskan proses tahap demi tahap dalam hal merealisasikan. Abaikan  persoalan modal atau beri posisi modal di tengah proses.  Berikan tenggat waktu untuk setiap tahap yang harus direalisasikan.  Cetak tulisan itu dan tempel di dinding dan beri tulisan peringatan tambahan “sesuatu yang dimulai harus dilanjutkan hingga akhir”.

 

(7 April 2016)

JALUR ALTERNATIF

 

Jika kita melakukan perjalanan ke luar kota dengan mobil,  di papan nama penunjuk jalan kita sesekali menemukan kata “jalur alternatif”.   Artinya,  dalam menuju sebuah kota tujuan,   ada jalan alternatif dari jalan yang kita lalui.  Jalur alternatif itu biasanya terlihat sebagai jalan yang lebih kecil.  Jika jalan biasa kita aman-aman saja,  jalur alternatif cenderung kita abaikan. Seakan-akan di sana ada rimba yang sama sekali kita tidak kenali.  Melewati jalur alternatif sama saja dengan mengambil keputusan yang penuh risiko.  Tapi jika jalan sangat macet sehingga tidak bergerak,  jalur alternatif menjadi pilihan yang menarik.  Mungkin kita tidak mengenal jalur itu, tapi setidaknya ada harapan untuk lebih lancar dari jalan yang macet ini.  Di sisi lain, jangan lupa,  jalur alternatif masih mengandung risiko yang besar juga:  misalnya, ternyata di jalur alternatif itu harus melewati jalan rusak dan gelap gulita sehingga berpeluang membuat mobil bermasalah.

 

Jalur alternatif juga berlaku dalam aspek profesionalisme kita.

 

Kita mungkin melihat diri kita yang telah menjalani sebuah profesi selama lebih 10 tahun tapi tidak lebih kaya dari orang tertentu dengan profesi yang sama hanya dalam waktu 5 tahun.   Mungkin kita bisa berkilah:  bukan kekayaan semata yang kita capai.  Jika benar bukan kekayaan yang kita capai, mengapa faktor penghasilan selalu menjadi sumber kesengsaraan utama kita karena membandingkan dengan penghasilan orang yang lebih besar ?

 

Kata Rolf Dobelli, “jalur alternatif tidak kelihatan, sehingga kita jarang merenungkannya. Mereka yang berspekulasi dengan obligasi berisiko, opsi dan asuransi kredit namun tetap menghasilkan jutaan (dolar) tidak boleh lupa bahwa mereka bermain dengan banyak jalur alternatif yang bisa mengarah langsung pada kehancuran. Bagi orang yang berpikir rasional, 10 juta dolar yang dihasilkan melalui jalur yang berisiko tinggi tidak lebih berharga dibandingkan jumlah yang sama dihasilkan melalui kerja keras selama bertahun-tahun.”

 

Memang pada akhirnya jalur alternatif hanya akan menonjol nilai risikonya.  Bagi kebanyakan orang jalur alternatif itu menakutkan.  Lebih baik bermacet-macet dalam perjalanan ke luar kota hingga berjam-jam daripada harus melewati jalur alternatif yang kemudian terjadi masalah di mobil dan akibatnya menempuh waktu perjalanan jauh lebih lama.   Lebih baik hidup bekerja keras selama bertahun-tahun dengan menabung seperak demi seperak ketimbang harus menempuh jalur alternatif yang mempunyai risiko kehilangan tabungan.

 

Karena itu, sebagian pengusaha besar dengan sengaja menutup wacana adanya jalur alternatif bagi para karyawannya.  Karyawan “dipaksa” untuk  meyakini bahwa jalan yang ditempuhnya adalah jalan paling aman bagi dia dan keluarganya, dan jalur alternatif adalah jalan tergelap yang mengandung banyak risiko.  Dengan begitu karyawan akan tetap tinggal aman damai  di perusahaan itu.  Tapi di sisi lain, di lubuk hati sebagian besar karyawan,  tidak puas  dengan pencapaiannya.  Ketidakpuasan itu  akan menggoda para karyawan  untuk menengok dan mempertimbangkan jalur alternatif.  Dan itu  wajar mengingat kita adalah makhluk kreatif.

 

(4 April 2016)