PARADOKS PILIHAN

 

Betulkah kita lebih suka diberi banyak pilihan ketimbang sedikit pilihan ?

 

Kalau itu betul, mengapa restoran dengan menu tunggal  (seperti ayam goreng, mie ayam,  burger, dll)  jauh lebih banyak pengunjungnya ketimbang restoran yang menyajikan banyak menu ?

 

Kalau itu betul, mengapa kita pada dasarnya lebih menyukai berangkat ke kantor dengan menggunakan pakaian seragam ketimbang harus berganti-ganti pakaian tiap hari ?

 

Dalam buku Paradox of Choice,  Barry Schwart menjelaskan bahwa betul kelimpahan (pilihan) membuat kita senang tapi ada batasnya. Ketika batas itu terlewati,  kelebihan pilihan itu dapat menghancurkan hidup.  Itu yang disebut paradoks pilihan (the paradox of choice).

 

Barry menjelaskan mengapa itu terjadi. Petama, banyaknya pilihan  membuat pikiran lumpuh. Untuk menguji hal ini,  satu swalayan  mendirikan sebuah bilik tempat pelanggan dapat mencicipi duapuluh empat selai.  Mereka boleh mencoba sebanyak mungkin yang mereka suka lalu membelinya dengan potongan harga.  Hari berikutnya  pemilik melakukan percobaan yang sama hanya dengan enam rasa.  Hasilnya ?  Mereka menjual sepuluh kali lebih banyak selai pada hari kedua.  Mengapa ?  Dengan banyaknya pilihan, pembeli tidak dapat membuat keputusan sehingga mereka tidak membeli satu pun.  Percobaan ini valid  bahkan untuk beberapa produk lain.

 

Kedua,  pilihan yang terlalu banyak mengarah ke keputusan yang lebih buruk. Jika anda menanyakan kepada anak-anak muda, faktor apa yang penting dalam memilih seorang pasangan hidup, mereka menceritakan semua kualitas yang biasa dengan mudah:  kecerdasan, baik hati, pribadi hangat , kemampuan untuk mendengar, selera humor dan daya tarik fisik. Tapi apakah mereka benar-benar menggunakan berbagai kriteria itu ketika memilih seseorang ?   Tidak.  Pada akhirnya banyak yang cenderung mengerucut hanya pada satu kualitas :  daya tarik fisik.

 

Nah sekarang lihatlah persaingan tv berbayar di Indonesia.  Semua berlomba untuk memberikan saluran paling banyak.  Seakan-akan semakin banyak pilihan semakin menjadi pilihan terbaik buat konsumen.  Padahal secara rutin konsumen hanya mengonsumsi  4 – 6 saluran.  Tidak adakah cara kreatif untuk justru memberi pilihan yang terbatas namun membuat konsumen merasa lebih puas ?

 

(27 March 2016)

Spread the love
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

two − two =