PARADOKS PILIHAN

 

Betulkah kita lebih suka diberi banyak pilihan ketimbang sedikit pilihan ?

 

Kalau itu betul, mengapa restoran dengan menu tunggal  (seperti ayam goreng, mie ayam,  burger, dll)  jauh lebih banyak pengunjungnya ketimbang restoran yang menyajikan banyak menu ?

 

Kalau itu betul, mengapa kita pada dasarnya lebih menyukai berangkat ke kantor dengan menggunakan pakaian seragam ketimbang harus berganti-ganti pakaian tiap hari ?

 

Dalam buku Paradox of Choice,  Barry Schwart menjelaskan bahwa betul kelimpahan (pilihan) membuat kita senang tapi ada batasnya. Ketika batas itu terlewati,  kelebihan pilihan itu dapat menghancurkan hidup.  Itu yang disebut paradoks pilihan (the paradox of choice).

 

Barry menjelaskan mengapa itu terjadi. Petama, banyaknya pilihan  membuat pikiran lumpuh. Untuk menguji hal ini,  satu swalayan  mendirikan sebuah bilik tempat pelanggan dapat mencicipi duapuluh empat selai.  Mereka boleh mencoba sebanyak mungkin yang mereka suka lalu membelinya dengan potongan harga.  Hari berikutnya  pemilik melakukan percobaan yang sama hanya dengan enam rasa.  Hasilnya ?  Mereka menjual sepuluh kali lebih banyak selai pada hari kedua.  Mengapa ?  Dengan banyaknya pilihan, pembeli tidak dapat membuat keputusan sehingga mereka tidak membeli satu pun.  Percobaan ini valid  bahkan untuk beberapa produk lain.

 

Kedua,  pilihan yang terlalu banyak mengarah ke keputusan yang lebih buruk. Jika anda menanyakan kepada anak-anak muda, faktor apa yang penting dalam memilih seorang pasangan hidup, mereka menceritakan semua kualitas yang biasa dengan mudah:  kecerdasan, baik hati, pribadi hangat , kemampuan untuk mendengar, selera humor dan daya tarik fisik. Tapi apakah mereka benar-benar menggunakan berbagai kriteria itu ketika memilih seseorang ?   Tidak.  Pada akhirnya banyak yang cenderung mengerucut hanya pada satu kualitas :  daya tarik fisik.

 

Nah sekarang lihatlah persaingan tv berbayar di Indonesia.  Semua berlomba untuk memberikan saluran paling banyak.  Seakan-akan semakin banyak pilihan semakin menjadi pilihan terbaik buat konsumen.  Padahal secara rutin konsumen hanya mengonsumsi  4 – 6 saluran.  Tidak adakah cara kreatif untuk justru memberi pilihan yang terbatas namun membuat konsumen merasa lebih puas ?

 

(27 March 2016)

CDO

 

“Content is no longer a king”  begitu kata David Whitworth.  Alasannya ?    Membuat konten yang bagus memang keharusan,  tapi tidak cukup sekadar itu.  Konten itu memang harus  memenuhi permintaan penonton, tapi  yang paling penting,  konten itu harus bisa ditemukan sebelum orang-orang berpikir untuk mencarinya di mesin pencari.

 

Contoh,  mungkinkah kita membuat sebuah konten tentang memancing di laut lepas yang begitu menariknya sehingga jadi bahan perbincangan di media sosial sehingga konten itu ditemukan bahkan sebelum para pemancing mania mencarinya di mesin pencari

 

Masalah konten yang harus mudah ditemukan ini juga dialami oleh tv terestrial  atau tv gratis.  Katakanlah setidaknya ada 10 stasiun tv yang bersiaran selama 24 jam setiap hari.  Jadi setiap hari ada minimal ada 240 jam.  Jika ada program komedi situasi di salah satu stasiun tv itu  sangat berkualitas  berdurasi 30 menit maka bisa dipastikan program sitkom itu sangat sulit ditemukan.  Karena program itu terselip dan tertimbun di antara 240 jam siaran seluruh tv.

 

Kalau ada pertanyaan  “mengapa stasiun tv saat ini cenderung menayangkan program dengan durasi sangat panjang ( 2 – 4 jam) dan mempunyai keseragaman jenis program dari pagi hingga malam ?”  maka jawabannya menjadi lebih mudah:   karena stasiun tv mempunyai kesulitan untuk membuat sebuah program baru ditemukan !

 

Tak heran jika kemudian ada tv yang dari pagi hingga malam menayangkan drama India atau Turki.  Atau ada sebuah program variety show di waktu tayang utama mempunyai durasi 3 – 4 jam.

 

Semua konten berebut untuk diketemukan.  Konten yang istimewa pun belum tentu bisa langsung ditemukan jika tidak mampu “bersuara keras” hingga dengan mudah diketemukan. Karena itu muncul istilah baru Content Discovery Optimatization atau CDO.  Sebuah program drama pernah memunculkan theme song yang sangat melodius dan liriknya sangat menarik perhatian untuk membuat program drama yang akan ditayangkan menjadi  tampil jelas di hadapan penonton.

 

Orang-orang kreatif tidak hanya memproduksi konten tapi harus berkolaborasi dengan berbagai pihak untuk membuat konten itu gampang diketemukan.

(26 March 2016)

GROUNDHOG DAY REALITY

 

Film  Groundhog Day adalah film yang inspiratif.  Film yang diperankan  Bill Murray dan Andy McDowell ini berangkat dari premis what if situation.  Bagaimana jika anda bangun setiap pagi dan ternyata hari itu adalah hari kemarin.  Begitu terus berulang-ulang. Hingga ketika frustrasi dan bunuh diri pun,  anda kembali lagi ke hari itu.

 

Sebagian orang berada dalam realitas Groundhog Day.  Bangun setiap pagi dengan berat karena harus melakukan sesuatu yang dilakukan kemarin dan kemarinnya lagi.  Hari seakan tidak bergerak.  Padahal mungkin yang tidak bergerak bukan hari atau waktu,  tapi kita yang tidak mampu bergerak.

 

Seseorang mungkin sadar bahwa dia terjebak dalam pekerjaan yang membuatnya menderita tapi tak tahu harus melakukan apa. Dia menunggu ada perubahan.

 

Seorang pengemudi taksi reguler sadar mengalami penurunan penghasilan yang drastis sejak adanya taksi aplikasi online. Tapi, menurutnya,  tidak ada yang bisa dilakukan selain terus menjalani pekerjaan ini sambil berharap ada perubahan.

 

Seorang karyawan merasa terjebak dalam situasi pekerjaan yang tidak memungkinkan sama sekali untuk menyediakan waktu buat keluarga.  Tiap hari ada di kantor dari jam 7 pagi hingga 12 malam.  Setiap hari ada masalah-masalah baru yang sebenarnya ulangan dari masalah-masalah lama.  Perusahaan hanya mengandalkan dia sebagai problem solver tapi tidak pernah ada tindakan mendisain sistem kerja agar kesalahan-kesalahan yang sama tidak berulang.  Selama 10 tahun berkecimpung dengan masalah yang berulang-ulang tapi tetap diam setia menunggu terjadi perubahan dari perusahaan

 

Dalam  film Groundhog Day, ketika Phil sadar bahwa dia tidak bisa mengubah hari yang stagnan, maka dia mengubah responsnya terhadap hari tersebut. Dia belajar main piano,  dia menjadi pribadi penolong,  setiap hari dia punya kesempatan meningkatkan kemampuan dalam menolong orang dan bermain piano.

 

Kita merasa terjebak dalam masalah yang berlarut-larut tapi sama sekali tak tergerak mengubah cara pandang kita terhadap masalah.   Padahal dengan mengubah cara pandang, akan muncul ide baru. Di situlah cikal bakal perubahan

 

(18 March 2016)

15 MENIT

 

Awalnya Andy Warhol mengatakan,  “In the future, everyone will be famous for 15 minutes.”      Tapi kemudian Andy Warhol memberi pernyataan lagi, “I am bored with that line. I never use it anymore. My new line is “In 15 minutes everybody will be famous”.  “

 

Perkataan Andy Warhol ini begitu terkenalnya hingga mengundang penafsiran beda-beda.

 

Ada yang mengartikan Warhol sedang meramalkan bahwa suatu saat nanti setiap orang hanya perlu waktu 15 menit untuk terkenal. Dan ini dikait-kaitkan dengan fenomena reality show di tv Amerika Serikat.   Ada  yang mengartikan bahwa karena ada begitu banyak saluran media sehingga untuk menjadi terkenal begitu sulit, kalau pun terkenal tidak mungkin dalam waktu lama.   Ada yang mengartikan 15 menit sebagai sebuah kesempatan emas yang pendek bagi calon artis atau selebritas untuk menjadi terkenal   (15 menit adalah waktu yang dimiliki para kontestan di berbagai program contest show untuk menunjukkan kebolehannya).

 

Apapun pengartiannya, 15 menit adalah satuan yang menarik.  15 waktu yang sangat sebentar sehingga terlalu menggoda untuk kemudian menyia-nyiakannya.  “Ah cuma 15 menit ini !”.    Atau justru  terlalu lama buat kita melakukan sesuatu yang tidak kita inginkan padahal dengan melakukan 15 menit itu memudahkan pekerjaan kita ribuan menit kemudian.  Misalnya kita tidak mau merelakan 15 menit untuk belajar power point padahal itu bisa memudahkan pekerjaan kita dalam hal menyiapkan presentasi.

 

Setiap hari kita terdiri dari puluhan 15 menit penuh arti  yang wajib didayagunakan.

 

  1. Apa yang kita lakukan dalam 15 menit mengantri di bank ?

 

2.Apa yang kita lakukan dalam 15 menit menunggu kedatangan rekan kerja dalam rapat ?

 

  1. Apa yang kita lakukan dalam 15 menit ritual di WC  setiap pagi ?

 

4.Apa yang kita lakukan dalam 15 menit membuka media sosial ?

 

5.Apa yang kita lakukan dalam 15 menit menunggu film di bioskop dimulai ?

 

6.Bersediakah kita meluangkan waktu 15 menit untuk membaca manual gadget terbaru ?

 

7.Bersediakah kita meluangkan waktu 15 menit untuk melatih teknik membaca cepat setiap hari ?

 

8.Bersediakah kita meluangkan waktu 15 menit untuk mempelajari teknik mengedit foto lewat ponsel ?

 

9.Bersediakah kita meluangkan waktu 15 menit tiap hari untuk mengenal satu teknik pencarian ide ?

 

10.Bersediakah kita meluangkan waktu 15 menit mempelajari audiens sebelum melakukan presentasi atau training ?

 

Atau mungkin ada penafsiran baru:  untuk menjadi terkenal diperlukan akumulasi sekian banyak 15 menit yang efektif ?   Bisa saja.

 

(11 March 2016)

LOKAL

 

Dalam sistem penyiaran tv di Indonesia masih dikenal kewajiban siaran konten lokal.  Paradoksnya:  dalam era yang memungkinkan seseorang mendapatkan informasi apapun yang dianggap menarik, mengapa perlu mengkhususkan pada konten lokal ?

 

Contoh:   untuk masyarakat Makasar, apakah masih perlu ada berita khusus mengenai Makasar jika masyarakat Makasar mengonsumsi berita bukan berdasarkan lokalitasnya tapi berdasarkan berita apa yang menarik ?  Berita yang menarik bisa berupa badai tornado di Amerika Serikat, atau laki-laki beristri sepuluh di kepulauan Fiji atau  penyanyi pop jawa yang terkenal di Suriname

 

Seseorang di pelosok Ujung Kulon, Jawa Barat  bisa mengunggah berita lokal tentang bocah lokal yang  hebat main piano jazz ke youtube maka dengan seketika materi berita tersebut tidak lagi bersifat lokal karena bisa diakses dari segala penjuru dunia.

 

Ada bakat-bakat lokal  –penyanyi, penari, pemusik, pesulap dan lain-lain—  dalam pengertian hanya dikenal sebatas  lokal tempat dia tinggal.  Tapi ketika bakat lokal itu direkam melalui video dan diunggah ke internet, maka materi itu punya peluang untuk menjadi menarik dalam tingkat internasional.

 

Karena itu, mestinya dimana pun lokal seseorang berada, dia mempunyai kesempatan yang relatif sama dengan lokal-lokal lain untuk menciptakan karya dan ide yang tersebar dalam skala internasional.  Siapapun itu.

 

(10 March 2016)