PENOLAKAN 2

 

Setelah tulisan saya yang pertama mengenai penolakan,   ada alternatif lain lagi dalam memandang penolakan lewat   bukunya Jia Jiang,  “Rejection Proof: How I Beat Fear and Became Invincible Through 100 Days of Rejection”.    Jia Jiang sangat sering ditolak.   Suatu kali setelah berkali-kali ditolak,  Jiang ketemu juga dengan investor yang tertarik dengan idenya.  Tapi, investor ini pun  ternyata tidak jadi memberi uang. Hanya mengirim email yang intinya masih belum bisa memutuskan. Penolakan ini menghantui Jiang.  Sehingga sempat terpikir jika “tidak lebih inovatif” mungkin akan ditolak.  Tapi kemudian Jiang tersadar: jika penolakan terlalu menghantui seperti itu,  dia akan terbebani dlm meraih mimpinya. Jiang pun bertekad untuk mengatasi rasa takut akan penolakan itu . Jiang merencanakan 100 hari untuk dengan sengaja mendapat penolakan-penolakan.  Contoh, Jiang minta ke pramugari untuk bisa membacakan safety announcement. Ditolak tapi diberi kesempatan setelah pesawat kosong. Jiang juga masuk ke kantor-kantor untuk minta pekerjaan 1 hari.  Dia dapat pekerjaan itu setelah 2 kali penolakan.

 

Kesimpulan Jiang setelah 100 hari: “tidak ada satu ide yang ditolak secara universal atau diterima secara universal”.   Nasehat Jiang “jika kita benar-benar ingin dapat jawaban “YA”  maka kita mesti menemui CUKUP banyak orang.”

 

Jiang menyampaikan 3 cara untuk bisa rejection proof dan mengubahnya menjadi “ya”. Pertama, jangan lari, tanyakan mengapa.  Begitu mendapatkan kata “tidak” kita sering pergi begitu saja untuk melupakan. Dengan memahami mengapa kita ditolak,  kita bisa mendapatkan “ya” di kesempatan berikutnya. Contoh, Jiang meminta seorang laki-laki menanam bunga di halaman belakang rumah laki-laki itu. Dan jawabannya:  “Tidak”.   Setelah mendapatkan kata “tidak”, kita biasanya langsung maklum dengan  pembenaran “permintaan kita memang aneh kok”. Lupa untuk menanyakan alasannya.   Tapi jiang menanyakan mengapa menolak, laki-laki itu menjelaskan  bahwa dia punya anjing yg selalu merusak bunga.

 

Setelah tahu alasan itu, Jiang mengajukan permintaan yg sama ke seorang ibu yg tinggal di depan rumah laki-laki itu.  Jiang mendapatkan  jawaban “ya”. Dengan memahami pertanyaan mengapa,  kita punya peluang untuk mendapat jawaban “ya” di kesempatan berikutnya.

 

Kedua, letakkan penolakan itu dalam perspektif yang benar.  Penolakan itu hanya sekadar opini kok. Bagaimana pun opini itu bergantung pada latar belakang, pendidikan, perasaan, prasangka dan berbagai hal lain dari diri si penolak.  Jika ini sekadar opini maka tidak ada alasan untuk menganggap ide kita PANTAS ditolak.

 

Ketiga, tunjukkan bahwa kamu sadar permintaan kamu mungkin aneh. Jiang memberi contoh ketika dia meminta ke Starbucks agar dirinya diijinkan menjadi petugas pemberi salam  selama 1 hari, manajer Starbucks  menatapnya dengan  pandangan aneh.  Jiang pun bertanya “Is that weird?”.  Orang starbucks menjawab  “Yes, this is really weird.”   Cara tersebut, menurut Jiang,   untuk  menetralisasi  bahwa kita “orang waras dengan permintaan aneh”.  Semacam  berempati terhadap cara berpikir orang kebanyakan.            Jiang pun akhirnya mendapatkan kata “ya” untuk menjadi petugas pemberi salam  selama 1 hari di Starbucks.

 

Ini contoh eksperimen yang bisa dilakukan untuk dengan sengaja mendapat penolakan:

 

-meminta seorang perempuan  membelikan bunga untuk kita berikan pada perempuan lain.

 

-meminta kepada seorang trainer untuk memberi kesempatan pada kita bergaya menirukan trainer tersebut selama 10 menit.

 

-meminta pada seorang sopir bis untuk mengubah gaya sisiran rambutnya

 

-meminta kepada resepsionis untuk menelpon direktur utama dan menyampaikan bahwa kita berniat membersihkan ruang kerja direktur utama dengan gratis

 

-meminta kepada chef sebuah restoran terkenal untuk memberikan resep dan mengajarkan cara membuat salah satu menu favorit restoran tersebut.

 

-meminta kepada seorang selebritis yang kita temui di lokasi shooting untuk memberikan testimoni bahwa kita mempunyai bakat besar di bidang film.

-meminta kepada pelayan restoran agar kita bisa menguasai satu meja selama seharian hanya dengan memesan satu menu.

 

(23 February 2016)