WHIPLASH

 

Film berjudul Whiplash membuat kita kembali merenungkan hal berikut:  untuk membentuk seseorang menjadi juara itu perlu represi atau motivasi ?

 

Film ini bercerita tentang seorang guru musik, Fletcher, yang sangat unik dalam mengajar. Dia jenius sekaligus sangat kejam. Dia bisa memarahi seorang murid dengan mengata-ngatai sebagai anak banci,  anak cengeng dan sumpah serapah lain.  Dia bisa mempermalukan seseorang di depan anggota band yang lain. Dia bisa membentak-bentak hingga seseorang merasa tak kuasa menahan air matanya menetes karena merasa direndahkan.  Si Fletcher bisa melakukan itu  hanya karena tempo drum yang sedikit lebih lambat atau sedikit lebih cepat.  Dia menginginkan tempo yang sempurna. Dia bisa melempar simbal ke arah musisi jika dia merasa tempo tidak sesuai dengan yang diinginkan.

 

Andrew  Neiman adalah seorang murid yang merasa melambung ketika tampak mendapat perhatian dari Fletcher.  Andrew merasa menjadi diri yang berbakat.  Tapi itu tidak lama.  Dengan cepat Andrew dipermalukan sebagai murid yang bodoh. Dipermalukan di depan teman-temannya. Andrew terpukul.  Tapi dia melampiaskan dengan berlatih mati-matian.  Andrew berlatih hingga kulit di antara jari jempol dan telunjuknya terkelupas dan berdarah.  Andrew terus berlatih.  Andrew kembali diberi kesempatan. Tapi kemudian dipermalukan lagi.  Begitu seterusnya.   Mau tahu alasan Fletcher melakukan itu ?

 

Dalam dialognya, Fletcher mengatakan: “ada kata-kata yang sangat membahayakan calon-calon musisi.  Kata-kata itu adalah “good job”.”   Bagi Fletcher, pujian hanya akan melemahkan.  Calon musisi harus ditempa begitu rupa hingga dia patah atau justru menapak lebih tinggi dari yang diharapkan.  Andrew tumbuh menjadi musisi yang tertekan meskipun akhirnya punya kesempatan untuk menunjukkan kemampuan sebagai drummer yang hebat.

 

Lagi-lagi:  kita memilih represi atau motivasi ?    Motivasi saat ini tak jarang sekadar sebagai upaya menghibur. Sekadar menghibur bahwa kita punya kemampuan yang sama besarnya dengan orang-orang besar. Di sisi lain represi juga punya risiko: keterlaluan hingga lewat batas.   Jadi ingat kata-kata seorang pengusaha yang masuk 10 orang terkaya di Indonesia: “sikap perfeksionis itu keharusan. Tanpa itu kita tidak akan jadi apa-apa.”   Pada dasarnya, setiap diri kita adalah pelatih –minimal untuk diri sendiri-  untuk tiap hari berlatih menjadi sempurna.

 

(16 February 2016)

Spread the love
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

seventeen − three =