INVESTOR

 

Untuk sebagian orang, kata “investor”  diperlukan untuk mengajak pihak lain bekerja sama dalam sebuah proyek.   Kata “investor”  dalam banyak situasi memang menggiurkan karena langsung mengajak berimajinasi ke sebuah proyek yang sudah terjamin pendanaannya.  Saya cukup sering mendengarnya:

 

-“Ini ada production house yang sempat terhenti beberapa lama sekarang mau aktif lagi.  Dia serius mau jadi investor untuk produksi drama apapun.  Dia tidak minta untung, yang penting buat dia mesin produksinya jalan.”

 

-“Ada pengusaha kelas atas yang mau jadi investor untuk produksi program tv. Dia sekadar ingin memberi kegiatan pada adiknya yang nganggur, jadi nggak ada beban untuk harus ada profit.  Dia cuma perlu ada jaminan bahwa program tv itu ditayangkan”

 

-“Mau nggak ngerjain produksi film ?   Ada orang partai politik yang mau jadi investornya. Uangnya nggak ada serinya. Dia nggak nuntut  filmnya harus untung.  Yang penting balik modal dan dia harus tampil sebagai pemain utama.”

 

Mungkin sebagian dari proyek itu memang benar terlaksana.  Tapi sebagian besar yang lain hanya tinggal sebagai kenangan obrolan di coffee shop. Ada banyak calon investor, ada lebih banyak lagi yang mempromosikan para calon investor ini, namun pada akhirnya sejarah membuktikan:  karya-karya besar itu lahir karena didukung oleh investor-investor yang berkomitmen (contohnya Pixar).  Bukan investor yang tanpa tujuan. Investor yang berkomitmen tidak sekadar membutuhkan eksekutor.  Investor ini membutuhkan orang-orang yang punya semangat berinovasi dan visioner.

 

(19 February 2016)

Spread the love
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

1 × five =