INVESTOR

 

Untuk sebagian orang, kata “investor”  diperlukan untuk mengajak pihak lain bekerja sama dalam sebuah proyek.   Kata “investor”  dalam banyak situasi memang menggiurkan karena langsung mengajak berimajinasi ke sebuah proyek yang sudah terjamin pendanaannya.  Saya cukup sering mendengarnya:

 

-“Ini ada production house yang sempat terhenti beberapa lama sekarang mau aktif lagi.  Dia serius mau jadi investor untuk produksi drama apapun.  Dia tidak minta untung, yang penting buat dia mesin produksinya jalan.”

 

-“Ada pengusaha kelas atas yang mau jadi investor untuk produksi program tv. Dia sekadar ingin memberi kegiatan pada adiknya yang nganggur, jadi nggak ada beban untuk harus ada profit.  Dia cuma perlu ada jaminan bahwa program tv itu ditayangkan”

 

-“Mau nggak ngerjain produksi film ?   Ada orang partai politik yang mau jadi investornya. Uangnya nggak ada serinya. Dia nggak nuntut  filmnya harus untung.  Yang penting balik modal dan dia harus tampil sebagai pemain utama.”

 

Mungkin sebagian dari proyek itu memang benar terlaksana.  Tapi sebagian besar yang lain hanya tinggal sebagai kenangan obrolan di coffee shop. Ada banyak calon investor, ada lebih banyak lagi yang mempromosikan para calon investor ini, namun pada akhirnya sejarah membuktikan:  karya-karya besar itu lahir karena didukung oleh investor-investor yang berkomitmen (contohnya Pixar).  Bukan investor yang tanpa tujuan. Investor yang berkomitmen tidak sekadar membutuhkan eksekutor.  Investor ini membutuhkan orang-orang yang punya semangat berinovasi dan visioner.

 

(19 February 2016)

LAYAR KEDUA

 

Dulu menonton tv itu adalah sebuah hubungan relasi semata-mata antara diri kita dan televisi.  Saat ini, menonton tv bukan  lagi relasi tunggal, karena di sekitar kita ada ponsel, notebook,  komputer tablet,  desktop computer, dan lain-lain.   Sambil menonton tv kita melihat juga ke layar ponsel atau layar notebook.  Inilah yang disebut layar kedua.

 

Mike Proulx, salah satu penulis dari  “Social TV: How Marketers Can Reach and Engage With Audiences by Connecting Television to Web, Social, Media, and Mobile”  mengatakan,  “antara 60-70% masyarakat, ketika menonton tv, juga mempunyai alat layar kedua seperti laptop, iPad, atau ponsel.”

 

Jadi tv bukan lagi sebuah pengalaman sendirian.  Tv menjadi lebih interaktif dan banyak orang memilih media tertentu berdasarkan informasi yang mereka dapat dari teman-teman mereka di internet.  Dari the Hollywood Reporter didapat bahwa  lebih dari separuh masyarakat dalam sebuah penelitian menggunakan media sosial untuk membuat pilihan atas hiburan.  Mereka mendengarkan apa yang dikatakan teman-teman mereka mengenai episode terakhir, mereka membaca mengenai bocoran ceritanya dan ngobrol tentang gosip dari program tv tersebut.   Laporan ini menyatakan,”dari orang-orang yang mem-posting mengenai program tv, 76% merasa seakan siaran langsung dan 51% merasa sangat terkoneksi dengan orang-orang lain yang juga sedang menonton program tv tersebut.”

 

American Idol adalah contoh program tv yang memang dirancang untuk mengoptimalkan layar kedua ini.  Para penonton aktif memilih atau berkomentar atau kirim sms untuk menunjukkan dukungan pada berbagai kontestan.  Semua juri juga secara aktif ada di twitter, sama halnya dengan para kontestan juga.  Dalam salah satu season-nya American Idol mendapatkan  5,9 juta komentar di media sosial.

 

Itu di Amerika Serikat. Bagaimana dengan di Indonesia ?

 

Banyak perancang program tv nasional menunjukkan data penurunan jumlah pemirsa tv secara konsisten sejak 5 tahun lalu, tapi tampaknya masih menganggap bahwa relasi pemirsa tv dan tv itu adalah relasi tunggal. Dalam disain program tv sama sekali tidak memperhitungkan layar kedua.  Kalau kemudian diperhitungkan peran media sosial, hanya sebatas sebagai pengumuman-pengumuman: mengenai jadwal tayang atau sedikit sinopsis/deskripsi per episode.

 

Fenomena layar kedua ini sempat dipraktekkan di sebuah penayangan drama seri Turki, Cinta di Musim Cherry.   Lagu tema dari drama seri ini sengaja dibuat versi Indonesia-nya.  Lagu ini kemudian dipromosikan lewat layar tv sekaligus digerakkan di internet. Dalam waktu hanya 3 hari,  sambutan di internet di luar dugaan, banyak yang saling mengabarkan mengenai adanya sebuah lagu yang begitu menarik perhatian dan liriknya sangat mengena di kalangan anak muda.  Mereka saling merekomendasi dan saling mengabarkan adanya drama seri yang bakal tayang ini.  Dan ketika drama seri ini tayang, selama drama seri ini berlangsung mereka saling memberi kabar mengenai adegan-adegan cinta yang ada dalam drama ini yang membuat mereka berkesan.

 

Di Amerika Serikat sudah diyakini realitas baru:  kalau sebuah program tv tidak dibicarakan di internet,  berarti program tv tersebut memang tidak dibicarakan dalam kehidupan nyata.

 

Di Indonesia, realitasnya mungkin demikian:  kalau sebuah program tv tidak dibicarakan di internet, ada dua kemungkinan:  pertama, program tersebut memang tidak ditonton.  Kedua, program tersebut ditonton tapi oleh kalangan orang-orang tua yang memang tidak aktif di media sosial atau internet.

 

(9 February 2016)