CEPAT

 

Apa itu cepat ?    Untuk menempuh perjalanan dari titik A ke titik B yang berjarak 100 km dalam waktu 1 jam bisa dikatakan cepat.  Dalam waktu setengah jam bisa dibilang sangat cepat.  Apalagi jika jarak 150 km ditempuh dalam waktu 35 menit.  Itulah kereta cepat Jakarta-Bandung yang dimulai proyek pembangunannya Januari ini.

 

Pertanyaan sebagian orang:  apakah kita perlu waktu secepat itu untuk menempuh perjalanan itu dari Bandung ke Jakarta atau sebaliknya ?  Selama ini kita menempuh perjalanan darat lewat tol Cipularang berkisar antara 2,5 jam hingga 4 jam.   Sebagian orang tidak menunjukkan ketertarikan dengan dengan adanya cara yang lebih cepat daripada itu dalam perjalanan Jakarta Bandung.

 

Yang lebih cepat tidak selalu menarik perhatian.

 

Lihatlah bis-bis antar provinsi. Semuanya seakan punya prinsip yang sama untuk sampai secepat mungkin. Bis-bis saling berkejaran adalah fenomena biasa di jalur pantura yang menghubungkan jawa barat dan jawa tengah.  Namun tetap ada sebuah perusahaan bis yang mengharuskan para pengemudi bisnya untuk tidak mengemudi dengan cepat.  Setiap bis yang datang lebih cepat dari waktu yang ditentukan dianggap tidak memenuhi target.  Ternyata cara ini membuat para penumpang jatuh hati.  Para penumpang menyukai bis yang berjalan dengan kecepatan wajar karena merasa aman dan yang lebih penting: bisa tidur sepanjang perjalanan.

 

Hufftington Post pernah menurunkan artikel yang provokatif:  Why Going Slow Will Make You Go Faster.  Sebuah judul yang tampak paradoksal.   Dalam artikel ini poin terpentingnya adalah ketika kita mulai bergerak terlalu cepat, kita sering tidak melihat apa yang perlu kita lihat.  Penting untuk bergerak cukup lambat untuk membuat koreksi yang diperlukan.  Jika itu tidak dilakukan,  kita akan menghabiskan lebih banyak waktu lagi karena kita harus kembali ke belakang untuk memperbaiki berbagai masalah.

 

Seorang pengusaha pabrik kelapa sawit begitu tergoda untuk bergerak cepat. Semakin bergerak cepat, pertumbuhan perusahaan makin cepat hingga sampai sebuah titik ketika pertumbuhan itu tidak mampu lagi didukung.   Perusahaan itu terjun bebas hingga meninggalkan beban hutang Rp 120 milyar yang harus dilunasi segera.  Kecepatan membuatnya selama ini lupa terhadap sebuah kesalahan yang makin hari makin menumpuk hingga kemudian sampai pada titik terparah.

 

Karena itu dalam bukunya yang terkenal, Thinking Fast and Slow,  Daniel Kahneman mengatakan  berpikir cepat itu instingtif, otomatis dan  muncul begitu saja di kepala dengan “terasa tanpa kendali ”.   Berpikir cepat itu  memahami kalimat-kalimat sederhana, bereaksi dengan rasa takut terhadap laba-laba, atau sebentuk kesan pertama terhadap seseorang.

 

Berpikir lambat itu cermat, mensyaratkan “konsentrasi sungguh-sungguh,  termasuk komputasi kompleks.”   Berpikir lambat itu  fokus dan konsentrasi, memantau dan mengendalikan tindakan kita, menyusun sebuah argumentasi, memecahkan persoalan.

 

Otak kita melakukan kedua bentuk berpikir ini, yang sering juga secara bersama, untuk membuat penilaian dan keputusan. Namun, seperti kata Kahneman, kita  mengabaikan  pengaruh berpikir cepat  seraya menganggap diri sebagai pemikir lambat – yaitu: sangat rasional dan terkendali.   Seringkali kita tidak menyadari bahwa sistem berpikir cepat itu selalu dalam kondisi on sehingga  kita pun sering membiarkan sistem berpikir cepat untuk mengendalikan keputusan-keputusan kita dan membuat keputusan-keputusan tersebut tampak sangat masuk akal.  Ketika kita membiarkan berpikir cepat mengendalikan kita setiap saat,  kita akan rawan  dirasuki  masukan-masukan yang tidak tepat dan pembuatan keputusan menjadi tidak optimal.

 

Cepat dan lambat dalam hal-hal tertentu bukanlah pilihan melainkan mesti dilakukan secara bersama-sama atau setidaknya beriringan.

 

(4 February 2016)

Spread the love
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

fifteen − 2 =