catatan dan inspirasi

PERSPEKTIF BARU

 

Paradoks dari setiap peringatan tahun baru adalah tidak adanya wacana perlunya perspektif baru atas berbagai kejadian yang terjadi pada setahun itu. Semua peristiwa hanya perlu dirangkum dalam rangkaian yang disebut kaleidoskop.  Tak ada niat untuk melihat peristiwa-peristiwa itu dengan perspektif baru.  Ibaratnya, setiap kali kita pergi ke tempat wisata di daerah pegunungan kita selalu tak bosan-bosannya melihat pemandangan dari satu gardu pandangan.  Selalu indah. Tapi tak memberi inspirasi mengenai kebaruan.

 

Kita menyambut tahun baru dengan tradisi yang berlangsung begitu lama.  Selalu sama.  Pesta dan kembang api.  Diselingi berbagai konser musik.  Artinya, bahkan dalam peristiwa yang jelas-jelas menggunakan kata “baru”  dalam “tahun baru”,  perspektif baru menjadi terasing dan dilupakan orang.

 

Salah satu cara menghasilkan perspektif baru adalah mengubah pertanyaan.  Selama setahun kita mungkin merasa tidak bergerak kemana-mana  karena terlalu berharap mendapat jawaban atas sebuah pertanyaan yang terus berdengung di otak kita.  Jangan-jangan, bukan karena kita tidak mampu menemukan jawaban, tapi karena pertanyaan yang kita lontarkan tidak tepat.

 

Ada banyak pertanyaan yang kita tidak temui jawabannya sepanjang tahun ini.

 

-Mengapa proposal ini tidak kunjung diterima oleh perusahaan-perusahaan sebagai calon investor ?   Bisa saja pertanyaan ini diubah menjadi:  Apakah ditolak berkali-kali menjadi indikator bahwa proposal ini harus dihentikan ?     Bagaimana agar proposal ini tetap bisa dijalankan  tanpa harus dipresentasikan perusahaan-perusahaan ?

 

-Mengapa produk kita tidak disambut pasar dengan baik  ?  Bisa saja pertanyaan itu diubah menjadi:    Betulkah produk kita tidak disambut pasar dengan baik ?  Suara-suara siapakah selama ini yang belum kita dengar hingga produk kita terkesan tidak terserap dengan baik oleh pasar  ?

 

Bahkan dalam wacana mengenai Masyarakat Ekonomi ASEAN yang lebih banyak berkembang adalah kekhawatiran atas ketidaksiapan Indonesia.  Pertanyaannya:  benarkah kita tidak siap ?   Jangan-jangan dengan dominasi Indonesia atas 43% ekonomi ASEAN, justru yang merasa terancam adalah negara-negara di luar Indonesia.

 

Dalam tahun baru pasti ada semangat baru. Tapi rasanya lebih menarik lagi jika dibarengi dengan perspektif baru.

 

(6 January 2016)

Spread the love
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *