ANGKLUNG

 

Alat musik angklung patut dikagumi justru karena kesederhanaannya.  Dengan angklung,  bahkan orang-orang yang tidak pernah bermain musik atau tidak bisa memainkan instrumen musik bisa sama-sama menjadi anggota sebuah orkestra  untuk memainkan sebuah komposisi musik. Dan hebatnya, itu bisa dilatih hanya dalam hitungan menit.

Dengan kesederhanaanya itu,  angklung mempunyai kemampuan untuk memberdayakan.  Sekumpulan orang bisa diyakinkan bahwa mereka mampu melakukan sesuatu yang indah secara bersama-sama.  Alhasil, ketika setiap orang menjalankan perannya,  musik indah itu pun tercipta.     Terima kasih pada pak Joko Nugroho yang telah mengembangkan modul pelatihan 2 jam yang begitu luar biasa dengan menggunakan angklung.

Dengan bermain angklung bersama-sama kita berusaha memahami bahwa kreativitas pun tidak bisa berjalan sendirian.  Memang awalnya adalah beragam ide.  Tapi ketika ide itu menjadi kesepakatan maka dalam eksekusinya kesepakatan itu harus dipatuhi.  Setiap improvisasi individual dalam eksekusi hanya akan merusak.  Setiap individu harus fokus pada bagian kerjanya masing-masing dengan penuh tanggung jawab.

Angklung telah bertransformasi dari sekadar alat musik tradisional yang terbuat dari bamboo menjadi alat bantu yang memberdayakan banyak orang.  Kreatif !

 

(27 January 2016)

 

UJIAN SEKOLAH

 

Ujian sekolah tidak mengukur:

 

-kreativitas

 

-visi

 

-kerja tim

 

-integritas

 

-keberanian

 

-passion

 

-empati

 

-loyalitas

 

-daya tahan

 

-kerendahhatian

 

-belas kasih

 

Itu twit dari Vala Afshar, penulis buku  The Pursuit of Social Business Excellence dan kolomnis di Huffington Post.  Itu tentu saja ujian sekolah di Amerika Serikat.  Bagaimana dengan di Indonesia ?  Coba lihat contoh pertanyaan tes masuk SMP ini.

 

  1. Perlindungan gajah di Way Kambas Provinsi Lampung bertujuan untuk….
a. Memanfaatkan dagingnya
b. Memanfaatkan gadingnya
c. Mencegah kepunahan
d. Mencegah gajah berkeliaran
  1. Daun pandan wangi dimanfaatkan manusia sebagi bahan tambahan dalam pembuatan…
a. Minyak wangi
b. Penyedap rasa
c. Obat tradisional
d. Pewangi makanan tradisional

Apa yang hendak diukur dari pertanyaan-pertanyaan semacam ini ?  Bahwa murid membaca ulang semua yang diajarkan para guru ?  Atau murid mampu menjawab berdasarkan common sense meski tidak membaca ulang catatannya ?

Pada saatnya nanti ketika mereka sudah siap bekerja, mereka harus siap menjawab pertanyaan-pertanyaan semacam ini:

-Gambarkan warna kuning pada orang tuna netra (mengukur kemampuan berkomunikasi)

-Jika kamu seorang pengantar pizza,  manfaat apa saja yang bisa kamu dapatkan dari gunting  ? (mengukur cara berpikir creative problem solving)

-Berapa banyak bola bisa dimasukkan dalam bus sekolah ?  (mengukur kemampuan matematika terapan)

Itu adalah pertanyaan-pertanyaan dalam wawancara di Google dan Apple

Sebagian orang tua sibuk dan khawatir dengan berbagai pertanyaan ujian sekolah yang dihadapi anak-anaknya dari SD, SMP hingga SMA.  Karena itu para orang tua ikut stress setiap kali masuk periode ujian sekolah. Mulai dari gejala biasa seperti mual sampai sakit kepala parah.  Tapi ternyata ada juga orang tua  yang tidak terlalu dengan ujian sekolah ini karena paham bahwa pertanyaan-pertanyaan di luar sekolah dan pasca sekolah sangat berbeda jauh dari ujian sekolah yang biasa dihadapi anak-anaknya.

 

(18 January 2016)

ABADI

 

Yang bisa membuat abadi adalah ingatan.  Barangnya sudah lama tidak ada tapi tetap ada di ingatan. Ada banyak sekali program tv datang dan hilang silih berganti,  tapi sangat sedikit yang bertahan di ingatan. Coba saja survei secara acak di jalanan:  apa program tv  dari tahun 2014 yang masih anda ingat sampai sekarang ?  Setiap orang akan berusaha mengakses memorinya dengan sangat susah payah untuk menemukan program tv yang membuatnya masih ingat.  Kalaupun ketemu judul sebuah program di memorinya,  dia akan berusaha dengan keras untuk mengingat apakah program tv tersebut tayang di 2014 atau tidak.   Coba ganti pertanyaannya:  apa program tv 20 tahun terakhir ini yang masih anda ingat ?   Dia akan lebih mudah menyebutkan beberapa.  Bahkan untuk orang usia di atas 40 tahun dia akan menyebutkan beberapa program dari  masa ketika TVRI masih satu-satunya siaran televisi di Indonesia.

Untuk menjadi abadi adalah mungkin.  Sejak awal mestinya ada disain yang membuat sebuah program tv bertahan lama di benak pemirsa dan kemudian sekumpulan pemirsa yang menggandrungi program tv itu akan terus merawat ingatan tentang program tv tersebut.

Sebut salah satu program tv di Amerika Serikat yang bertahan begitu panjang:  Law & Order.  Ditayangkan selama 20 season atau sekitar 20 tahun !   dari tahun 1990 hingga 2010.   Dengan total jumlah episode hanya 456 episode.  Bandingkan dengan di Indonesia yang jumlah episodenya dengan mudah melampaui  angka 500 (karena ditayangkan 5 kali dalam seminggu).  sitkom Suami-Suami Takut Istri lebih dari 700 episode.   Sinetron dengan judul “tukang-tukangan itu”  sudah lebih dari 3.000 episode.  Perbedaannya,  sanggupkah sinetron-sinetron itu tetap diingat 2 atau 3 tahun ke depan ?   ataukah sudah tergilas dengan ingatan terhadap sinetron-sinetron yang terbaru ?     Akankah masih ada penontonya jika sinetron-sinetron itu diputar ulang pada 2 atau 3 tahun ke depan ?

Pada akhirnya di luar sana ada perlombaan untuk menjadi abadi dengan cara membuat cerita yang semengesankan mungkin agar bertahan selama mungkin di benak sebanyak mungkin pemirsa. Beberapa program tv bahkan bertahan hingga lintas generasi.  Sedangkan di sini, belum terpikir tentang keabadian.  Sebuah program tv dianggap cukup jika bisa memberikan rating dan penghasilan. Apakah bisa bertahan hingga 5 atau 10 tahun ke depan, itu bukan bagian dari perencanaan kreatif.  Padahal, inti dari industri kreatif itu adalah kepemilikan hak cipta yang bisa memberikan manfaat ekonomis selama bertahun-tahun kemudian.

 

(14 January 2016)

RASA TAKUT

 

Dalam film animasi Good Dinosaur tersebutlah Arlo, si bungsu dalam keluarga Dinosaurus dengan dua kakak.  Arlo lemah dan penakut. Arlo takut terhadap segala hal buruk yang akan menimpanya.  Tema besar film ini sebenarnya perjalanan hidup Arlo dalam mengenal dan menerima rasa takutnya.

Dalam film Wild Card yang tampak sekilas sebagai film laga mengumbar kehebatan bela diri Jason Stantham namun sebenarnya bicara tentang rasa takut. Di akhir film, karakter Cyrus Kinnick mengatakan pada Nick Wild (karakter jagoan yang diperankan Jason Statham): “Pada akhirnya saya belajar sesuatu darimu. Setiap orang punya rasa takut, termasuk kamu yang begitu jagoan.”

Bahkan dalam film animasi Disney yang begitu populer –Frozen—ternyata bertema tentang rasa takut. Berbagai tulisan mengomentari tema rasa takut dalam film Frozen ini.  Salah satunya:  “Rasa takut Elsa adalah antagonis terbesar dalam film ini.  Jika dia tidak takut pada kekuatannya dan tidak takut pada kemungkinan yang bakal terjadi maka tidak akan ada film ini.  Rasa takut adalah penjara Elsa, dan yang dilakukan adalah kabur ke gunung .  Dia berpikir keterpencilan dan kemerdekaan akan membebaskan dirinya.  Tapi di akhir film dia kemudian menyadari bahwa pendapatnya salah…..”

Rasa takut itu begitu dekat. Karena itu dalam berbagai cerita tema rasa takut itu menyelip di sana sini. Seorang superhero tidak manusiawi jika tidak menyebutkan apa yang membuatnya takut.  Dengan mengenal rasa takut superhero, penonton merasa dekat dengan karakter superhero tersebut.  Kedekatan itu membuat cerita makin nyata.

Kreativitas sangat dekat dengan rasa takut.  Rasa takut bisa menghentikan kreativitas, sebaliknya:  kreativitas mampu mengeksplorasi rasa takut menjadi cerita-cerita yang menyentuh dan indah.

 

(13 January 2016)

RESIGN

RESIGN(11 January 2016)

Setiap kali mengajukan pengunduran diri, seorang karyawan menyiapkan sebuah alasan yang tampak indah ketika ditanya alasannya:  “ingin tantangan baru”,  “mencoba kesempatan yang lebih baik”, “ingin mendapatkan suasana yang lebih kompetitif”.  Namun suatu ketika di sebuah perusahaan besar dengan karyawan  ribuan orang seorang karyawan mengundurkan diri dan ketika ditanya alasannya, dia menjawab dengan terus-terang:  “hingga tanggal 31 Desember saya menunggu pembagian bonus dan ternyata memang tidak ada.  Ya sudah apalagi yang layak ditunggu.  Saya mengundurkan diri saja.”   Sebuah jawaban yang terus-terang.  Sebuah jawaban yang menyatakan secara eksplisit bahwa baginya tidak ada yang lebih layak ditunggu selain imbalan uang !

Bayangkan jika dalam sebuah perusahaan ketika para karyawannya tidak ada yang mampu memotivasinya selain UANG !

Pernahkah kita dengar kisah sebuah perusahaan yang para karyawannya rela tidak digaji selama beberapa bulan karena mereka sepakat dan terikat dengan visi perusahaan ?

Pernahkah kita dengar kisah seorang pimpinan di perusahaan yang membuat para karyawannya rela bekerja mati-matian tanpa tambahan uang karena percaya mereka mengejar impian yang sama ?

Pernahkah kita dengar seorang pimpinan perusahaan yang berpidato di hadapan para karyawannya dan menyatakan perusahaan sedang mengalami krisis sehingga dia mengijinkan karyawan untuk pindah ke perusahaan lain tapi ternyata para karyawan justru memilih tetap di perusahaan tersebut ?

Ketika karyawan mengajukan surat resign, adalah kesempatan penting bagi perusahaan untuk mengetahui alasannya. Dari alasan itu perusahaan bisa mengevaluasi apakah perusahaan bertumpu pada visi yang kuat atau rapuh atau bahkan tanpa visi sama sekali.  Namun, sayangnya, ketika karyawan mengundurkan diri, sebagian perusahaan memilih untuk tidak peduli.

 

(11 January 2016)

PERSPEKTIF BARU

 

Paradoks dari setiap peringatan tahun baru adalah tidak adanya wacana perlunya perspektif baru atas berbagai kejadian yang terjadi pada setahun itu. Semua peristiwa hanya perlu dirangkum dalam rangkaian yang disebut kaleidoskop.  Tak ada niat untuk melihat peristiwa-peristiwa itu dengan perspektif baru.  Ibaratnya, setiap kali kita pergi ke tempat wisata di daerah pegunungan kita selalu tak bosan-bosannya melihat pemandangan dari satu gardu pandangan.  Selalu indah. Tapi tak memberi inspirasi mengenai kebaruan.

 

Kita menyambut tahun baru dengan tradisi yang berlangsung begitu lama.  Selalu sama.  Pesta dan kembang api.  Diselingi berbagai konser musik.  Artinya, bahkan dalam peristiwa yang jelas-jelas menggunakan kata “baru”  dalam “tahun baru”,  perspektif baru menjadi terasing dan dilupakan orang.

 

Salah satu cara menghasilkan perspektif baru adalah mengubah pertanyaan.  Selama setahun kita mungkin merasa tidak bergerak kemana-mana  karena terlalu berharap mendapat jawaban atas sebuah pertanyaan yang terus berdengung di otak kita.  Jangan-jangan, bukan karena kita tidak mampu menemukan jawaban, tapi karena pertanyaan yang kita lontarkan tidak tepat.

 

Ada banyak pertanyaan yang kita tidak temui jawabannya sepanjang tahun ini.

 

-Mengapa proposal ini tidak kunjung diterima oleh perusahaan-perusahaan sebagai calon investor ?   Bisa saja pertanyaan ini diubah menjadi:  Apakah ditolak berkali-kali menjadi indikator bahwa proposal ini harus dihentikan ?     Bagaimana agar proposal ini tetap bisa dijalankan  tanpa harus dipresentasikan perusahaan-perusahaan ?

 

-Mengapa produk kita tidak disambut pasar dengan baik  ?  Bisa saja pertanyaan itu diubah menjadi:    Betulkah produk kita tidak disambut pasar dengan baik ?  Suara-suara siapakah selama ini yang belum kita dengar hingga produk kita terkesan tidak terserap dengan baik oleh pasar  ?

 

Bahkan dalam wacana mengenai Masyarakat Ekonomi ASEAN yang lebih banyak berkembang adalah kekhawatiran atas ketidaksiapan Indonesia.  Pertanyaannya:  benarkah kita tidak siap ?   Jangan-jangan dengan dominasi Indonesia atas 43% ekonomi ASEAN, justru yang merasa terancam adalah negara-negara di luar Indonesia.

 

Dalam tahun baru pasti ada semangat baru. Tapi rasanya lebih menarik lagi jika dibarengi dengan perspektif baru.

 

(6 January 2016)