KOPI LUWAK

 

Buat saya pribadi, kopi luwak adalah pengalaman pribadi  mencoba sebuah produk lebih dari satu kali.  Promosi kopi luwak  yang cukup masif  –hadir juga di level internasional, ada di Oprah Winfrey Show dan CNN–  mendorong saya untuk mencobanya. Percobaan pertama di sebuah restoran makanan sunda di Garut, secangkir kopi luwak dengan harga Rp 60.000  secangkir.  Bukan percobaan yang menyenangkan.  Saya belum merasa nyaman dengan rasanya.  Sebuah pengalaman mencoba dan kemudian lupa.

 

Berikutnya dapat kesempatan mencoba lagi di Ubud Bali.  Sebuah area peternakan musang (luwak) sekaligus pengelolaan kopi luwak.  Seorang pelayan akan memberi penjelasan mengenai kopi luwak, bagaimana pengelolaannya dan sekaligus menghidangkan 10 cangkir berisi kopi dan coklat yang bisa dicoba satu per satu.  Kesepuluh cangkir kecil ini diletakan dalam bambu yang diberi lobang.  Cukup unik.  Untuk mendapat pengalaman ini cukup membayar Rp 50.000 per orang.  Saya malah lebih tertarik pada coklat rasa jahe ketimbang kopi luwaknya.  Alhasil, di percobaan kedua ini belum juga merasa cocok dengan rasa kopi luwak

 

Pengalaman ketiga beberapa minggu lalu.  Dalam sebuah kesempatan di Yogya,  sopir kendaraan sewaan berkali-kali mempromosikan sebuah tempat minum kopi yang bersuasana enak dengan kopi luwak yang terbukti tidak mengandung kafein.  Rasanya malas untuk melakukan percobaan ketiga. Tapi kemudian penasaran dengan rayuan si sopir.  Jangan-jangan tempatnya memang nyaman, jadi apa salahnya mencoba kopi luwak lagi.  Akhirnya di antar ke sebuah tempat yang sama sekali bukan kafe tapi tapi sebuah tempat setengah terbuka beratap seng dengan bangku-bangku panjang ala warung.   Di dalam terlihat beberapa tampah berisi biji kopi yang baru saja dijemur.   Si sopir mencoba menjelaskan.  Kemudian pelayan mendatangi dan menjelaskan mengenai kopi luwak dengan cara yang tidak semangat.   Tidak ada tester sehingga saya pesan segelas kopi yang sama sekali tidak ada petunjuk berapa harganya secangkir kopi.  Saya pun mencoba kopi luwak untuk ketiga kalinya.  Rasanya ?   Tetap tidak cocok !   Si pemilik berusaha beramah tamah dengan menanyakan rasa kopinya, dan saya pun berterus terang bahwa saya tidak cocok dengan rasanya.  Ekspresi wajahnya langsung berubah.   Tidak enak berlama-lama saya bayar kopinya seharga Rp 30.000.  Ini pengalaman yang mengecewakan.

 

Hanya ini produk yang mampu membuat saya mencoba sampai 3 kali setelah pengalaman pertama dan kedua tidak menyenangkan.  Pernahkah kita mencoba lagi sebuah restoran dimana pengalaman pertama mengecewakan  ?  Pernahkah kita membeli lagi sebuah sepatu dengan merek tertentu ketika pengalaman pertama membeli sepatu ini membuktikan sepatu ini hanya bertahan tak lebih dari seminggu ?   Mungkin pelanggan akan bersedia mencoba lagi ketika sebuah produk yang gagal memberikan kepuasan pada pengalaman pertama dan kedua, masih memberikan peluang untuk mendapatkan experience yang benar-benar beda.  Tidak tertutup kemungkinan saya akan mencoba kopi luwak untk keempat kalinya kalau itu menawarkan peluang experience yang benar-benar berbeda dari 3 sebelumnya.  Dalam banyak hal,  customer experience sering lebih penting daripada customer satisfaction.

(7 October 2015)

BOSAN

 

Sebagian bisnis muncul sebagai sebuah niat untuk solusi terhadap kebosanan orang-orang.  Industri hiburan setidaknya berpegang pada premis tersebut. Film atau program televisi atau pertunjukan sirkus adalah tontonan sebagai solusi terhadap orang-orang yang bosan dengan rutinitas kesehariannya.  Melalui tontonan itu diharapkan mereka di waktu luangnya bisa merasakan kegembiraan,  tertawa atau pun terinspirasi.

 

Bagaimana jika saat ini justru hiburan itu sendiri yang bikin bosan ?

 

Setiap hari setidaknya ada lebih dari 13 stasiun tv nasional yang bersiaran hampir 24 jam.  Jika diambil rata-rata mereka bersiaran 20 jam saja maka tiap hari ada siaran lebih dari 260 jam.  Setahun berarti kurang lebih 94.900  jam  !

 

Bisa dikatakan pada dasarnya orang berkelimpahan pilihan hiburan.  Tapi paradoksnya,  di sana sini orang mengeluh mengenai program tv yang membosankan.  Stasiun tv dianggap kurang inovatif dalam menghasilkan program-program yang bisa memenuhi hasrat orang-orang untuk terhibur.  Bisa jadi bukan salah program tv-nya, bisa jadi ekspektasi orang-orang pada saat ini memang lebih tinggi dari generasi-generasi sebelumya.   Lalu,  ada peluang bisnis apakah untuk bisa memberikan solusi terhadap masalah ini ?

 

  1. Sebuah layanan yang memberikan  program apps yang mampu memberikan alarm mengenai program-program tv yang sesuai dengan selera kita dan otomatis merekamnya dalam sebuah file

 

  1. Sebuah layanan yang membina komunitas yang mempunyai kesamaan selera dalam hal hiburan.  Ada biaya keanggotaan untuk para anggota sehingga para anggota berhak mendapatkan newsletter mengenai perkembangan hiburan genre tertentu yang menjadi minat para anggota dan kemudian  diberikan skedul untuk nonton bersama dan saling bercerita mengenai pandangan dan kenangan atas tontonan tersebut.

 

  1. Sebuah layanan personal atas permintaan untuk menyediakan hiburan pada orang-orang yang mempunyai waktu luang sangat terbatas.  Misalnya: menyediakan orang untuk menjadi mitra tanding dalam memainkan sebuah games sekaligus menyediakan seorang penyanyi yang mengiringi sambil bermain game.

 

  1. Sebuah layanan untuk mengajarkan meditasi sehingga orang bisa mengendalikan keinginannya yang kuat untuk mendapatkan hiburan.

 

  1. Sebuah layanan untuk menyediakan hiburan sebagai bentuk nostalgia kepada orang-orang dewasa yang rindu dengan hiburan-hiburan yang dikenalnya saat masa kecil tapi sekarang sudah tidak ada lagi.

 

Masih banyak lagi yang bisa dieksplorasi dalam memberikan solusi terhadap kebosanan orang-orang atas hiburan yang ada. Secara data bisa dilihat bahwa jumlah penonton tv secara konsisten mengelami penurunan, begitu juga dengan jumlah penonton bioskop Indonesia.  Mestinya realitas tersebut tidak sekadar merangsang orang untuk terus-menerus fokus pada otak-atik konten hiburan  (agar memperoleh penonton lebih banyak) tapi juga yang penting: otak-atik business model-nya dengan demikian tetap bisa hidup meski hanya melayani penonton dalam jumlah kecil.

 

(5 October 2015)

MENGAKU SUKSES

 

Siapa  saja yang punya hak untuk mengaku sukses  ?  Sebenarnya siapa saja bisa mengaku sukses, tapi minimal inilah jenis-jenis kesuksesan yang setidaknya terlihat di kenyataan  cukup kuat  dipercaya.

 

  1. Orang yang berhasil memulai bisnis dari nol kemudian mempunyai  outlet rumah makan lebih dari 4

 

  1.  Orang yang pernah bangkrut hingga hutang lebih Rp 10 milyar dan dia bisa bangkit karena itu

 

  1. Orang yang tidak lulus SD tapi dia berpetualang ke luar negeri dan kembali ke tanah air dengan hikmah arti hidup sukses

 

  1. Orang yang mempunyai kekayaan milyaran dalam usia belum mencapai  25

 

  1. Orang yang telah menghasilkan 40 judul buku atau lebih

 

  1. Orang yang telah menghasilkan satu buku yang mampu terjual lebih dari 3000 eksemplar

 

  1. Orang yang pernah dipenjara kemudian memulai hidup baru dan buku kisah hidupnya terjual lebih dari 3000 eksemplar

 

  1. Orang yang pernah menduduki posisi puncak sebuah perusahaan dan keluar untuk mendirikan bisnis sendiri.

 

  1. Orang yang pernah memenangkan sebuah kontes selama 5 tahun berturut-turut

 

  1. Orang yang mempunyai penghasilan begitu cukupnya sehingga walau tidak bekerja selama setahun penuh tetap bisa bepergian ke Eropa atau Amerika Serikat setiap tahun

 

Daftar ini masih bisa sangat panjang.  Dalam dunia pemasaran, tidak ada gunanya mendiskusikan apa hakikat dari kesuksesan.   Yang paling penting dalam dunia pemasaran:  capaian minimal seperti apa yang mampu menjadi modal sebagai cerita untuk mengaku sukses. Kalau modal itu tidak cukup, tidak cukup banyak pula orang yang mau mengakui kesuksesan itu.   Selamat berlatih merencanakan dan mengelola pengakuan sukses.

 

(30 September 2015)

KERJA SAMA

 

Bagaimana sebuah kerja sama bisnis terbentuk ?   Ada beberapa kemungkinan.

 

  1. Bisa saja dalam perbincangan di kedai kopi dua orang yang sudah saling mengenal cukup lama dengan santai bersepakat untuk memulai bisnis bersama

 

  1. Bisa saja seseorang yang mempunyai bisnis sedang turun meminta orang lain untuk membantu dan terjadilah kerja sama.

 

  1. Bisa saja seseorang memulai dan menjalankan sebuah bisnis dan bisnis itu berjalan dengan sangat baik.  Bisnis ini pun mengundang banyak orang yang berkeinginan mengajak kerja sama bisnis. Dari sekian banyak ajakan itu kemudian dipilih salah satu dan akhirnya menajdi sebuah kesepatakan kerja sama bisnis.

 

Dari 3 kemungkinan itu, nomer 3 terlihat sangat menarik.  Bayangkan kita membangun sebuah bisnis. Mungkin ada yang menganggap remeh atau bahkan menghina,  tapi tetap jalan terus. Kita berjalan sendiri tapi kita pegang kendali sepenuhnya atas bisnis itu. Kita yakin bisnis ini akan menjadi something.  Dalam perjalanannnya bisnis ini menguruas tenaga, pikiran, emosi dan tentu saja uang. Sampai akhirnya saat itu benar-benar datang,  bisnis tersebut mengalamai pertumbuhan yang sangat cepat.  Orang-orang mulai tertarik, baik dari cerita yang disampaikan teman lewat sosial media atau membacanya/menontonya lewat media massa.   Pada akhirnya bisnis itu telah menjadi magnet.  Magnet bagi orang-orang yang ingin terlibat dalam bisnis itu.  Share kepemilikan atas bisnis itu menjadi sesuatu yang diinginkan orang lain.  Sampai titik ini pun kita punya kendali untuk memilih siapa yang pantas menjadi mitra kita.

 

Perjalanan ini seperti dongeng.  Sebagian orang selalu menganggapnya dongeng.  Sebagian yang lain membuktikan bisa  menjadi bagian dari dongeng itu.

(29 September 2015)

MULAI

 

Memulai itu mudah,  menuntaskan tidak semudah memulainya.  Kita bisa memulai menulis buku  saat ini juga.   Tapi menuntaskan menjadi buku  adalah perjuangan sangat panjang.

 

Kita memulai dengan penuh gembira dan gairah.  Sedikit demi sedikit rasa gembira dan gairah itu bisa hilang hingga di tengah jalan sebelum buku itu benar-benar selesai, kita sudah berhenti.    Kita berhenti hanya dengan alasan bahwa gembira dan gairah itu sudah tidak ada lagi.

 

Kita mulai hari ini,  besok hingga satu atau dua minggu kemudian kita masih setia untuk menjalankan sebuah proyek realisasi ide hingga akhirnya  3 minggu atau sebulan kemudian kita mulai tergoda dengan pikiran “ide ini tidak terealisasi pun tidak masalah.”

 

Kita mulai hari ini, dan rasanya perlu ada sebuah komitmen dan rencana yang dicanankan sejak hari ini pula bahwa kita tidak akan berhenti hingga proyek ini dituntaskan.

 

Memulai sebuah proyek tanpa batasan atau rencana kapan proyek ini selesai,  sama saja membuka pintu lebar-lebar untuk berhenti kapan saja di tengah jalan.

 

Begitu mudah berhenti sehingga bahkan kita tidak merasakan konsekuensi apa-apa ketika benar-benar berhenti.  Justru ketika kita memutuskan untuk berjalan, berarti kita memutuskan untuk menahan rasa sakit,  memaksa bekerja lebih lama lagi tanpa rasa gembira dan gairah.

 

Gairah (passion) bukan segalanya.  Menuntaskan sesuatu adalah segalanya.  Bayangkan James Cameron yang butuh waktu 14 tahun untuk merealisasikan ide film Avatar-nya.  Selama 14 tahun itu pasti ada masa-masa sulit ketika tak ada lagi rasa gembira dan gairah. Tapi proyek ini tetap dituntaskan. Dan, percayalah, ketika sebuah proyek berhasil dituntaskan,  rasa gembira dan gairah itu akan datang berlipat-lipat.

 

(18 September 2015)

GEN Y

 

Suatu kali saya berbincang dengan seorang trainer senior.  Trainer ini sudah melatih ribuan orang dari berbagai perusahaan besar.  Kali ini perbincangan kami menyinggung sebuah perusahaan yang bergerak di media.  Trainer ini menyebut perusahaan tersebut  punya masalah besar.  Apa masalahnya ?  “Perusahaan ini di awalnya berisi karyawan-karyawan yang sangat militan. Loyal dan kerja sangat keras. Setelah 12 tahun sebagian besar karyawan ini sudah pindah, diisi dengan karyawan-karyawan baru yang sebagian besar adalah gen Y. Ada perbedaan yang sangat mendasar.  Kalau sebelumnya relatif lebih loyal,  generasi yang ini mudah tergiur dengan iming-iming gaji sedikit  lebih besar di tempat lain. Perbedaan gaji yang hanya Rp 1 – 2 juta saja bisa membuat mereka pindah kerja. Kebanyakan perusahaan besar mempunyai masalah dalam mengelola gen Y.”

 

Kata-kata trainer ini sejalan dengan deskripsi tentang gen Y di beberapa artikel.  Gen Y cenderung mudah pindah tempat kerja.  Itu karena gen Y  cenderung punya pola pikir dan perilaku haus akan tantangan. Gen y tidak sabaran untuk menunggu terlalu lama dalam mengejar karir. Dengan pindah tempat kerja, gen Y berharap bisa naik jabatan atau setidaknya lebih berpeluang dibandingkan tempat kerja sebelumnya. Loyalitas bukan prioritas utama

 

Ketika loyalitas bukan prioritas utama,  sebuah perusahaan mempunyai tantangan dalam membentuk tim yang solid.  Apa artinya membangun tim yang solid setahun ke depan jika secara psikologis anggota tim mempunyai kemungkinan pindah kerja di satu atau satu setengah tahun ke depan ?  Mesti ada sesuatu yang membuat gen Y mau tetap tinggal di satu tempat kerja. Sesuatu itu adalah merasa terlibat dalam sebuah visi.  Sebuah visi tidak sekedar tulisan yang bisa ditempel di dinding agar terbaca oleh semua karyawan.  Sebuah visi lebih menyerupai gambaran imajinatif tentang yang akan dicapai 5 atau 10 tahun mendatang.  Sebuah visi yang mampu membuat gen Y merasa tidak perlu pindah-pindah kerja karena “buat apa pindah-pindah jika tetap ada di sini mampu meraih tujuan dengan lebih cepat”. Sebuah visi yang mampu membuat gen Y bisa memuaskan ambisi pribadinya dengan cara bekerja sama dengan orang-orang dalam satu perusahaan.

 

(2 September 2015)

JOB VS WORK

 

Apa bedanya “job” dan “work”  dalam bahasa Indonesia ?   Sepertinya agak sulit untuk membedakan.  Karena itu sebaiknya ditampilkan utuh kutipan dari  Seth Godin mengenai perbedaan keduanya.

 

“The job is what you do when you are told what to do. The job is showing up at the factory, following instructions, meeting spec, and being managed.  Someone can always do your job a little better or faster or cheaper than you can.  The job might be difficult, it might require skill, but it’s a job.  Your art is what you do when no one can tell you exactly how to do it. Your art is the act of taking personal responsibility, challenging the status quo, and changing people.  I call the process of doing your art ‘the work.’ It’s possible to have a job and do the work, too. In fact, that’s how you become a linchpin.”  (Linchpin: Are You Indispensable ?)

 

Sebagian kita mengerjakan “job” terus menerus sepanjang karir.  Mengerjakan apa yang menjadi tanggung jawab kita. Mengerjakan apa yang diperintahkan.  Mengerjakan sesuatu yang bisa membuktikan kita bekerja di depan para pimpinan.  Mengerjakan sesuatu yang memang harus dikerjakan oleh orang-orang di posisi itu.

 

Bayangkan itu terjadi di sebuah organisasi bisnis yang bergerak di industri kreatif, katakanlan sebuah stasiun tv.   Bayangkan semua orangnya hanya mengerjakan apa yang diperintahkan. Semua orang hanya mengerjakan berdasarkan SOP.  Padahal  tidak ada seorang pun bisa mengajarkan bagaimana membuat program tv yang berhasil.  Bahkan jika pun sebelumnya ada program tv yang berhasil, semua langkahnya diterapkan untuk masa sekarang pun belum tentu berhasil.  Yang dibutuhkan bukan orang-orang yang mengerjakan “job”, tapi melakukan “the work”.  Orang-orang yang yakin bahwa menghasilkan program tv bukan melalui proses mengerjakan sesuatu yang diperintahkan.  Orang-orang yang mampu berpikir secara konseptual mengenai ide tertentu dan merealisasikannya dengan cara yang mau tak mau harus baru  karena sebelumnya belum ada yang berhasil merealisasikan.

 

Ini bisa menjadi indikator juga dari para pemimpin yang mendapati organisasinya terlihat lesu dan tidak bersemangat:  apakah para karyawan sekadar melakukan “job” ?  Jika benar begitu,  itu berarti alarm juga buat  para pemimpin itu mesti cepat melakukan “the work”, melakukan perjalanan yang belum pernah diberi contoh oleh orang-orang sebelumnya. Karena itu Seth Godin menyebutnya sebagai Seni.

 

(1 September 2015)

LOBANG

 

Seringkali kata kunci dari produktivitas adalah disiplin. Penulis yang produktif adalah penulis yang menulis setiap hari atau hampir setiap hari dalam target jumlah kata tertentu.   Dan salah satu hambatan terbesar seorang penulis adalah ketika ada satu hari  dilalui dengan tidak menulis, maka peluangnya sangat besar ketika hari tak menulis itu menjadi 2 hari, 4 hari, seminggu,  dan bisa lebih lama lagi.

 

Kita cenderung membuat lobang lalu memperbesar lobang itu.   Kita membuat lobang dalam disiplin harian itu dan begitu lobang itu tercipta tak terhindarkan lobang itu makin membesar.  Produktivitas pun makin digerogoti.

 

Jerry Seinfeld, seorang penulis dan aktor komedi terkenal,  mempunyai cara tersendiri dalam menghindari terjadinya lobang-lobang ini.   Dia selalu mengingatkan dirinya sendiri akan adanya lobang-lobang itu dengan cara membentuk rantai.  Caranya ?

 

Jerry menyiapkan kalender besar.  Setiap selesai menulis dia memberi tanda X di tanggal hari tersebut. Besoknya begitu juga, begitu selesai menulis, dia memberi tanda X di tanggal hari tersebut.  Selama beberapa lama kalender itu pun membentuk rantai-rantai  dari tanda-tanda X yang berdempetan.  Berapa tanggal tidak ada tanda X sehingga rantai itu putus.  Rantai-rantai itu selalu menguatkan semangat Jerry agar jangan sampai rantai itu terputus.  “Don’t break the chain.”

 

Tips sederhana ini tentu saja bisa digunakan untuk berbagai kebutuhan. “Don’t break the chain”   punya arti:  jadikan rantai kebiasaan yang kuat ini terus terbentuk sampai akhirnya menghasilkan sesuatu yang menjadi misi kita. Itulah produktivitas.

(16 August 2015)

LAUNCHING

 

Seandainya kita tiba-tiba ditugaskan untuk melaunching sebuah film layar lebar,  apa pilihan yang tersedia untuk kita ?   Ini beberapa pilihan yang tersedia.

 

1.Melakukan cara konvesional:  mengundang para wartawan dan mengadakan konferensi pers.  Dalam konferensi pers ini dihadikan para artis pendukung dan para artis ini bercerita tentang kesan-kesannya dalam produksi film tersebut.  Sebagian wartawan malah tertarik mewawancarai kehidupan pribadi para artis dan itu tidak masalah untuk publikasi film ini.  Esoknya atau beberapa hari kemudian berita mengenai konferensi pers film ini akan dimuat di media cetak atau media online, syukur-syukur kalau ditayangkan di media televisi.  Harapannya orang yang membaca atau menyaksikan berita itu kemudian tergerak untuk menonton film itu.

 

2.Dengan sengaja menciptakan gosip-gosip.  Gosip-gosip ini dibuat sedramatis mungkin sehingga menjadi perbincangan luas.  Sebuah peristiwa sengaja diciptakan untuk membuat gosip ini makin nyata karena akhirnya diliput oleh media.  Ketika perbincangan makin hangat dan makin luas,  kemudian disampaikan bahwa film tersebut adalah jawaban terhadap  gosip yang beredar di masyarakat.  Cara ini pernah dilakukan oleh Blair Witch Project di tahun 1999  yang menjadi film box office paling fenomenal dalam industri film Amerika Serikat.

 

3.Menciptakan sebuah theme song atau original soundtrack yang begitu dekat dengan para calon penonton. Dari segi nada dan liriknya memang dirancang untuk menjadi hits.  Dalam liriknya akan ada sepenggal petunjuk mengenai cerita dari film tersebut. Lagu ini dibagikan secara gratis lewat media sosial dan radio-radio.  Lagu diputar terus-menerus diputar sehingga terngiang-ngiang dalam benak kebanyakan calon penonton. Sampai satu titik para penonton mulai mengeluarkan pertanyaan:  lagunya sudah hapal tapi kapan filmnya ini ditayangkan.  Pada momen itulah film ini sangat tepat untuk ditayangkan.

 

4.Mendatangi berbagai sekolah, kampus dan komunitas lalu menawari mereka sebagai penonton pertama dari film tersebut.  Mereka diberi berbagai keistimewaan salah satunya adalah menonton bersama para crew produksi dan artisnya.

 

Apapun cara yang kita pilih untuk launching sebuah film baru,  sebenarnya terbagi hanya menjadi dua pilihan:  pertama, menginformasikan sesuatu yang mungkin layak ditonton oleh orang-orang.   Kedua,  menempelkan sesuatu yang bersifat emosional pada orang-orang  sehingga mereka terikat terus pada film tersebut sampai saatnya film itu ditayangkan.

 

(16 September 2015)

KREATIF SEKALIGUS KERAS KEPALA ?

 

Orang kreatif sering digambarkan sebagai karakter yang gampang pecah fokus.  Pikirannya loncat-loncat  dari satu ide ke ide lain.  Tapi peneilitian yang dilakukan tahun 2013 menunjukkan bahwa orang-orang yang punya keberhasilan kreatif justru punya pikiran yang secara keras kepala memegang erat ide-ide tertentu, bahkan sampai tingkat dimana itu melemahkan kemampuan mereka untuk berganti fokus.

 

Dalam sebuah eksperimen yang dilakukan Darya Zabelina di Northwestern University di Illinois dipilih 34 mahasiswa dari lebih 300 orang yang mengisi kuesioner mengenai pencapaian kreatif,  termasuk 19 orang yang mempunyai prestasi menonjol di bidang music, seni, sains, menulis atau bidang lain dan 15 orang lagi yang nilainya menempati posisi sebagai paling tidak kreatif.

 

Eksperimen ini berangkat dari 2 hipotesis mengenai bagaimana perhatian (attention) berinteraksi dengan kreativitas,  meskipun keduanya tidak saling eksklusif.  Hipotesis pertama adalah bahwa orang-orang yang sangat kreatif  mampu fleksibel dalam mengubah perhatiannya –sehingga mereka adaptif dalam mengubah fokus di antara berbagai level perhatian yang berbeda.  Hipotesis kedua, yang kurang umum, memandang bahwa orang kreatif  menunjukkan persistensi perhatian atau sebuah kemampuan untuk memberikan  perhatian yang berkelanjutan.

 

Penelitian ini memeriksa peran perhatian dalam  pencapaian kreatif dunia nyata dan dalam berpikir divergen. Dalam eksperimen 1 para partisipan dengan pencapaian kreatif dunia nyata yang tinggi dan rendah harus mengidentifikasi  stimulus yang berisi huruf S atau H yang disusun secara hirarkis  ditampilkan dalam bagian-bagian berisi  8 tindakan setiap level (contoh, level global:  huruf S besar disusun dari huruf E ukuran kecil. Level lokal: huruf E disusun huruf S ukuran kecil.)  . Dalam eksperimen kedua,  partisipan dengan pencapaian kreatif tinggi, menengah dan rendah harus mengidentifikasi huruf stimulus yang sama,  tapi dalam bagian-bagian yang berisi  lima, tujuh dan sembilan tindakan di  setiap level.  Hasil dari kedua eksperimen ini mengindikasikan bahwa orang-orang dengan pencapaian kreatif tinggi  membuat kesalahan-kesalahan yang signifikan dalam tindakan-tindakan berganti perhatian.   Hasil dari dua eksperimen ini menunjukkan bahwa tindakan-tindakan kreatif dunia nyata berhubungan dengan  persistensi tingkat perhatian yang meningkat,  bahkan jika biaya/beban untuk menjaga perhatian itu terasa berat dalam keadaan tertentu.

 

Maksudnya,  orang-orang dengan keberhasilan kreatif sangat tinggi, katakanlah –lagi-lagi–   Steve Jobs,  mempunyai perhatian yang terus meningkat bahkan terus menguat untuk sebuah ide besar meski tantangan terhadap ide itu dalam situasi-situasi tertentu terasa sangat berat.  Itu mungkin yang  disebut beberapa orang sebagai:  fokus.  Namun intinya,  terbukti dari orang-orang yang punya keberhasilkan kreatif,  mereka bisa sampai sejauh itu karena mereka cukup keras kepala untuk mencurahkan perhatian pada sebuah ide besar meski itu harus menuntut pengorbanan yang cukup besar juga.

 

(4 August 2015)