PROVOKASI

 

Teknik provokasi yang diajarkan Edward de Bono adalah upaya untuk menghasilkan ide-ide baru dengan cara mudah.  Pada dasarnya setiap orang sudah telanjur punya pola dalam cara berpikirnya sehingga sulit berpikir keluar dari pola.  Jika sulit berpikir keluar dari pola yang selama ini, maka sulit pula ad aide-ide baru yang mampu menjadi terobosan.  Contoh provokasi ini misalnya, “bagaimana jika mobil beroda bentuk segi empat.” Maksud dari provokasi ini bukan benar-benar harus mewujudkan sebuah teknologi mobil yang mampu beroda empat.  Dari provokasi ini misalnya lahir ide untuk sebuah mobil yang mampu bergerak dengan sangat baik di medan atau jalan seberat apapun.

 

Tiap hari kita bisa memprovokasi demi munculnya ide-ide baru. Ingat, provokasi ini harus tidak masuk akal agar mampu memaksa otak  keluar dari pola yang selama ini ada. Provokasi bisa apa saja. Katakanlah kita bermain-main untuk sebuah restoran.  Apa saja provokasinya.

 

1.Bagaimana jika orang-orang mau mampir ke sebuah restoran untuk makan meski  restoran itu tidak memasang papan nama bertuliskan restoran ?   Tentu saja tidak masuk akal ada restoran yang tidak memasang papan nama bertuliskan restoran, rumah makan atau kafe.  Tapi  provokasi ini akan memancing ide-ide mengenai sebuah restoran yang dari desain mukanya saja sudah membuat sebagian besar orang yang lewat depan situ akan tergerak untuk mampir dan makan. Sebuah tantangan disain (arsitektur) yang luar biasa.

 

2.Bagaimana jika sebuah restoran dilayani oleh para pelayan yang semuanya berpenampilan mulut diplester sehingga tidak bisa bicara ? ini jelas tidak mungkin.  Bagaimana mungkin ada restoran yang bisa memuaskan pelanggan jika para pelayannya tidak bisa bicara bahkan tidak bisa tersenyum ?!  Provokasi ini akan mendorong keluarnya ide-ide tentang bentuk pelayanan yang unik dan memuaskan di luar faktor senyum dan bicara.  Misalnya dari segi kostum pelayan, bentuk rambut pelayan, gestur tubuh pelayan, cara pelayan menghidangkan makanan pesanan, dan lain-lain.  Provokasi ini memancing penjalajahan terhadap kemungkinan layanan-layanan lain yang bisa memberi pelanggan sebuah customer experience.

 

3.Bagaimana jika sebuah restoran sama sekali tidak perlu tempat parkir ?  ini jelas tidak mungkin. Restoran tentunya untuk kalangan menengah ke atas.  Dan kebanyakan kalangan ini menggunakan kendaraan roda empat.  Sebuah restoran tanpa tempat parkir sudah pasti tidak menarik perhatian kelas menengah.  Provokasi ini mengajak penjelajahan ke ide-ide memberi customer experience dalam bentuk cara menuju restoran itu.   Kendaraan di parkir di sebuah tempat dan tamu menju ke restoran dengan menggunakan perahu untuk menyeberang sungai. Atau  harus menggunakan kereta gantung menuju ke restoran  (sebagaimana dilakukan di sebuah restoran di Bali).

 

(18 November 2015)

BAHASA BICARA

 

Anak-anak mampu bicara lebih dulu baru kemudian belajar menulis kata-kata. Dengan kata lain bahasa bicara (dengan sengaja memilih istilah bahasa bicara ketimbang bahasa lisan) terbentuk dulu baru kemudian belajar bahasa tulisan. Dalam sejarah peradaban manusia juga begitu urutannya,  peradaban bicara dulu baru  kemudian muncul peradaban menulis. Sampai sekarang masih ada suku-suku yang hanya mengenal bahasa bicara tanpa sama sekali ada bahasa tulis.

 

Pada gilirannya sebagian besar orang belajar bahwa antara berbicara dan menulis itu berbeda.  Sebuah contoh perbedaan ini bisa dilihat dari perbandingan ini.

 

Bahasa bicara:

Seumur hidup gue, gue nggak pernah jatuh cinta. Gue nggak pernah ngalamin perasaan kayak gini. Bener dong, gue bilang mudah-mudahan.  Kayaknya sih emang gue jatuh cinta. Gue ngeliat Eva itu……lain !  Unik.  Dia bukan cewek kebanyakan. Dia beda. Gimana ya njelasinnya…”  (cuplikan dari salah satu dialog dalam skenario FTV).

 

Bahasa tulisan:

Tidak ada awal dan akhir. Tidak ada sebab dan akibat. Tidak ada ruang dan waktu. Yang ada hanyalah…. Ada. Terus bergerak, berekspansi, ber-evolusi. Sia-sialah orang yang berusaha menjadi batu di arus ini, yang menginginkan kepastian atau pun ramalan masa depan, karena sesungguhnya justru dalam ketidakpastian manusia dapat berjaya, menggunakan potensinya untuk berkreasi (cuplikan dari salah satu novel Dewi Lestari)

 

Bahasa bicara cenderung informal, repetitif dan bisa mewakili dialek atau gaya tertentu.  Bahasa tulisan lebih formal dan ringkas.

 

Yang kita lihat akhir-akhir ini bahasa bicara banyak masuk dalam bentuk tulisan diberbagai media sosial.  Dalam bentuk status, kicauan,  komentar dan lain-lain.  Karena menggunakan bahasa bicara itu seringkali kita mendengar orang menyebut media sosial gaduh atau berisik.      Media sosial terasa lebih gaduh dan berisik dibandingkan koran atau majalah yang mewakili bahasa tulisan.

 

Bahasa dalam media sosial tidak hanya mewakili gaya bahasa bicara tapi juga memunculkan gaya-gaya baru dalam penulisan, singkatan-singkatan dan gambar emotikon.  John McWhorter seorang linguis dalam TED talk  membenarkan  bahwa bahasa yang digunakan di media sosial itu bahasa bicara .  Bahasa bicara itu lebih longgar, telegrafik  dan lebih dangkal  dibandingkan bahasa tulisan. John menyebutnya “fingered speech”. John memberi contoh penggunaan “LOL”  yang tidak lagi bermakna “laugh out loud” tapi sebagai penanda empati dan persetujuan.  Itu yang disebut ahli linguistik sebagai “pragmatic particle”.

 

Apa perlunya ini untuk pemasar di media sosial ?

 

-Siapa target audiens kita dan bagaimana demografinya ?  Jika audiens tersebut  laki-laki dengan umur di atas 55 ,  bisa saja tetap dengan bahasa bicara tapi tanpa  menggunakan emotikon ekspresi senyum atau mengerling atau tanda hati.    Tapi jika ingin menjangkau  para remaja perempuan, emotikon bisa menjadi bagian penting dari pesan-pesan yang ingin disampaikan.

 

-Bagaimana untuk merek B2B atau B2C ?   Merek B2B cenderung lebih formal dalam penggunaan bahasanya –dengan kata lain, bahasa tulisan–  karena ingin mencoba menjaga sebuah persepsi dan status tertentu sambil berkomunikasi dengan para professional yang lain.  Merek B2C punya lebih banyak peluang untuk menjadi informal dan mengasyikan karena merek ini berinteraksi dengan orang-orang dari berbagai kalangan.

 

-Saluran media sosial apa yang digunakan ?  jika menggunakan twitter,  bisa lebih bebas: bahasa bicara. Namun jika di Linkedin lebih pantas menggunakan bahasa tulisan,  lebih profesional dan formal.

 

Pada gilirannya, keahlian yang harus dikuasai adalah membuat pesan-pesan media sosial yang sesuai dengan gaya bahasa bicara khalayak sasaran yang dituju.  Hanya dengan begitu sebuah pesan mampu menjadi efektif.

 

(17 November 2015)

REMOTE CONTROL

 

Beberapa analisis dalam stasiun tv seakan-akan berasumsi bahwa setiap penonton memegang remotre control di depan televisinya sehingga begitu ada acara bagus di tempat lain dia tergerak untuk berpindah ke saluran tersebut.   Logikanya,  saat penonton menikmati program tv saluran A,  tentu dia tidak mengetahui program bagus di saluran B atau C,  jadi tidak serta-merta penonton saluran A langsung pindah ke saluran B atau C.  Dengan kata lain,  sebuah program tv harus cukup disukai sehingga penonton rela menonton secara regular.  Beberapa program tv berita atau program tv special (hanya 1 episode)  memang bisa menarik perhatian banyak penonton untuk berganti saluran dengan segera.

 

Untuk program-program tv yang sangat disukai, remote control menjadi diabaikan. Setiap menitnya ditunggu.  Bahkan ketika saatnya jeda iklan pun remote control tidak digunakan untuk sesaat pindah ke saluran lain.

 

Sebuah program tv pada akhirnya membutuhkan “keutuhan”.   Dari episode 1 hingga episode ke sekian mempunyai pola yang baku agar penonton terbiasa dan ketika suka menjadi rela untuk menontonnya secara regular.

 

Remote control sebenarnya alat untuk membantu penonton menentukan program tv di saluran mana yang akan ditonton pada akhirnya.   Konsumen/pelanggan/audiens/penonton tidak cukup hanya dengan tindakan sekali dan selesai, tapi dengan disiplin dan kreativitas untuk merawat dan mempertahankan.

(13 November 2015)

PERBANDINGAN

 

Tidak ada diskriminasi terhadap ide.   Ide apapun pada gilirannya akan melewati proses diperbandingkan.  Entah itu oleh juri,  pimpinan atau  konsumen. Dalam kecepatan berbeda-beda sebuah ide biasanya direspons dengan pertanyaan-pertanyaan semacam ini :

 

Apakah memang benar-benar baru ?adakah perbedaan dengan ide sebelumnya ?seberapa besar perbedaan dengan ide sebelumnya ?Apakah ide ini juga tidak ada sebelumnya di negara lain ?

 

Dalam beberapa kasus, sebuah ide dijelaskan ke sana-kemari bahwa ide ini berbeda dengan ide sebelumnya dengan perbedaan A, B,C dan seterusnya tapi tetap orang tak menaruh perhatian pada ide ini.  Dalam beberapa kasus,  ide itu tetap jalan meski setelah diperbandingkan mempunyai kesamaan, dan kemudian ide ini ternyata mempunyai banyak penggemar.  Dalam beberapa kasus, sebuah ide yang diteriak-teriakan sebagai ide baru tidak dipedulikan khalayak sampai akhirnya benar-benar direalisasikan dan setelah diperbandingkan ternyata kualitasnya tidak lebih baik dari produk sebelumnya.  Dalam beberapa kasus, ide ini sudah diakui tidak berbeda dengan ide sebelumnya dan berusaha memperbaiki kualitas eksekusi produksinya, dan ternyata khalayak sangat suka.

 

Ide atau apapun yang kita jual pada gilirannya akan diperbandingkan –oleh juri, khalayak, konsumen, pembeli, komunitas–  namun keputusan tetap ada pada kita untuk meneruskan atau hanya berhenti sampai di situ setelah mendengar hasil perbandingan (yang menyakitkan).    Kalau memutuskan untuk meneruskan kita akan menemui perbandingan berikutnya dan berikutnya dan berikutnya…. sampai  satu titik dimana perbandingan tidak penting lagi karena ide itu atau produk itu menjadi satu-satunya yang ada di benak konsumen atau pembeli.

(11 November 2015)

TURKI

 

Dalam sebuah pameran biro travel, seorang ibu setengah baya masuk dalam salah satu kios dan bertanya mengenai paket perjalanan ke Turki.  Ibu yang seperti ini ternyata cukup banyak.  Pemicunya ?  Drama seri Turki yang cukup banyak di layar tv Indonesia.

 

Di akhir tahun 2014 Turki sudah menjadi eksporti kedua terbesar di dunia –setelah AS—untuk produk  drama seri tv.  Dengan pendapatan tahunan sebesar lebih dari  AS $ 200 juta tersebar di lebih 100 negara.  Padahal di tahun 2004  pendapatan dari drama seri tv ini hanya AS  $ 20.000.

 

Seiring dengan banyaknya drama seri tv Turki ke negara-negara lain, berkembang juga angka bepergian ke Turki.  Penjualan tiket Turkish Airline meningkat dua kali lipat di 2012 dan 2013 untuk negara-negara Timur Tengah seperti Arab Saudi dan Bahrain. Belum ada data untuk Asia Tenggara termasuk Indonesia.

 

Sekali lagi ini membuktikan bahwa cara promosi yang paling hebat adalah lewat cerita.  Korea Selatan sudah membuktikan lebih dulu dengan drama serinya mampu membuat perolehan devisa atas pariwisata meningkat luar biasa.  Kali ini Turki.  Indonesia kapan ?   Sudah dimulai dengan fenomena meledaknya film Laskar Pelangi,  telah meningkatkan kunjungan wisata ke Belitung.

 

Cerita tidak bisa ditunggu bakal bermunculan di tiap daerah atau dari setiap stasiun tv.   Cerita harus didorong dan diarahkan sejak awal.  Dan, pengalaman Korea Selatan dan Turki memberi pelajaran bahwa dukungan negara sangat penting.  Di Turki bahkan ada insentif  untuk drama seri tv yang mengangkat nilai-nilai penting keluarga.

 

(4 November 2015)

TIDAK TAHU

 

Seseorang bercerita tentang pengalamannya menjalani wawancara perekrutan di sebuah perusahaan yang sangat terkenal seantero dunia, Google.  Tiga wawancara sudah dilalui, dan saatnya wawancara yang keempat.  Di wawancara ke-4 ini dia menjelaskan dengan berbusa-busa keahlian apa saja yang dia bisa. Hingga kemudian dia terdiam dengan sebuah pertanyaan:   Apa yang kamu tidak bisa ?  Dia tidak terbiasa dengan pertanyaan itu .  Otaknya tidak bisa memproses pertanyaan itu.  Untuk menemukan jawaban yang asal jawab pun dia tidak mampu.  Alhasil dia tidak bisa lolos seleksi untuk masuk jadi karyawan di perusahaan yang di tahun 2014 kemarin memperoleh penghasilan sekitar Rp 7 triliun.

 

Kita memang hanya terbiasa dengan apa yang kita bisa.  Kita tanpa sadar menjadi pengumpul dari apa yang kita bisa dan apa yang kita tahu.  Pada akhirnya kita lupa mencari atau menjelajah apa saja yang tidak kita tahu.  Kita terbiasa dengan pola yang selama ini kita padahal di luar pola-pola itu mungkin ada pola lain yang kita tidak tahu tapi justru menjadi solusi atas masalah kita.  Kreativitas seringkali –kalau tidak mau dikatakan selalu-  berurusan dengan berbagai hal yang kita tidak tahu.

 

Seperti yang dikatakan Nassim Nicholas Taleb dalam bukunya Black Swan, “The problem with experts is that they do not know what they do not know.”  Kita semua adalah expert dalam skalanya sendiri-sendiri yang terlalu fokus pada apa yang kita tahu.  Kita tidak peduli pada apa yang kita tidak tahu atas sebuah masalah.  Padahal –jangan-jangan–  penyebab masalah itu masuk wilayah apa yang kita tidak tahu.

 

Google rupanya sangat sadar itu sehingga dalam metode perekrutannya mencari  juga kualifikasi mentalitas ‘cukup rendah hati untuk mengakui bahwa dirinya tidak tahu’ untuk menjadi karyawan.  Sudah adakah peusahaan lain yang menggunakan metode perekrutan seperti itu di sini  ?

 

(29 October 2015)

 

HUMOR

 

“If I had no sense of humor, I would have long ago committed suicide.” – Mahatma Gandhi

“Humor is by far the most significant activity of the human brain.” – Edward de Bono

 

Humor itu mestinya bentuk pelampiasan kreativitas yang langsung terlihat hasilnya:  kelucuan.  Orang bisa beralasan bahwa lucu itu relatif tapi kalau 8 dari 10 orang mengatakan lucu, cukuplah.

 

Di layar tv bisa langsung dirasakan mana komedi yang memang menghasilkan kelucuan dan mana yang berusaha keras untuk melucu.  Kelucuan itu hasil kreativitas, sedangkan melucu hanya sebuah kemampuan untuk melakukan teknik tertentu.  Kelucuan itu hasil dari sebuah upaya disain terhadap format pertunjukan,  melucu itu upaya peniruan terhadap materi-materi yang pernah menghasilkan kelucuan. Kelucuan mampu menimbulkan perasaan lepas, tertawa dan optimisme, sedangkan melucu kadang-kadang menimbulkan perasaan kasihan dan tertekan.

 

Skill memang perlu. Tapi di atas segalanya, disain yang utama.  Spontanitas memang harus dilatih. Tapi di atas semuanya, diperlukan kemampuan merancang disain program.

 

Program komedi  tidak sekadar kumpulan para pelawak yang diambil gambarnya ketika sedang melucu.  Program komedi mestinya sebuah konsep utuh mengenai komedi dan diterjemahkan dengan baik dalam bentuk skenario/skrip sehingga yang memerankan bukan pelawak pun bisa menghasilkan kelucuan.

 

Sekali lagi kita diingatkan Daniel H Pink:  persaingan di era sekarang ini adalah persaingan konsep. Sehingga upaya membuat program komedi tanpa konsep yang kuat, tak akan menghasilkan humor dan kelucuan.

 

(23 October 2015)

PERSEPSI DAN LOGIKA

 

Tersebutlah si Badu yang diberi pilihan:   koin besar dengan nilai Rp 5.000  atau koin kecil dengan nilai Rp 10.000.    Si Badu memilih koin besar.  Si pemberi pilihan penasaran, beberapa waktu kemudian,  dia menyampaikan pilihan itu lagi pada Badu,  Badu tetap memilih koin besar.  Hingga beberapa kali, Badu tetap memilih koin besar.  Akhirnya si pemberi pilihan penasaran dan menanyakan pada Badu: “Logikanya kamu mesti memilih koin kecil karena karena nilainya lebih besar daripada koin besar.  Kenapa kamu pilih koin besar ?”    Si Badu menjawab, “kalau saya memilih koin kecil, selesai sudah.   Saya tidak akan mendapatkan kesempatan lagi untuk diminta memilih di antara dua koin itu.”

 

Itu cerita yang disampaikan Edward de Bono untuk mengilustrasikan perbedaan persepsi dan logika.

 

Logika itu hasil pemrosesan informasi.  Jika pilihan itu diserahkan pada komputer yang memang berfungsi memprosese informasi, maka komputer akan memilih koin kecil (semata-mata karena nilainya lebih besar).  Sementara si Badu menggunakan persepsi yang di dalamnya ada pertimbangan mengenai peluang bisnis di kemudian hari, ada pertimbangan faktor risiko dan lain-lain.

 

Itulah perbedaan antara komputer dan otak manusia.

 

Komputer sudah lebih dulu diberi persepsi dan dia bekerja dengan cara memproses persepsi itu.  Otak manusia membentuk persepsi-persepsinya melalui tindakan memilih cara-cara tertentu dalam melihat dunia.

 

Jika persepsi kita saat ini belum mampu mengolah informasi menjadi solusi, maka coba lihat lagi permasalahannya dalam berbagai perspektif yang berbeda.

 

(22 October 2015)

ANEH

 

Kata ‘aneh’ dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan dengan “ tidak seperti yang biasa kita lihat (dengar dan sebagainya)”.  Jadi apapun yang berbeda dari biasanya kita lihat, dengar, rasakan dan lain-lain.    Jika kita biasa melihat angsa putih,  maka kita merasa aneh jika ada angsa berwarna hitam (meskipun dalam kenyataan angsa  hitam itu benar-benar ada). Jika kita biasa melihat anak-anak bergaya polos dan jujur, maka kita merasa aneh ketika ada anak yang berdandan ala perempuan dewasa (meskipun di kota-kota besar fenomena ini mulai dianggap biasa).

 

Dalam konteks sebuah pertunjukan, apakah keanehan bisa dijual ?

 

Dalam film-film koboi yang berseting Amerika Serikat 1800 an beberapa kali menunjukkan sirkus yang mempertontonkan orang-orang aneh: Perempuan yang berjenggot lebat, kuda berkaki lima dan lain lain.  Dalam pandangan pengelola sirkus waktu itu mungkin berbagai hal yang berbeda secara fisik dari apapun yang biasa orang-orang lihat akan membuat orang-orang rela membayar untuk melihat.  Namun seiring perkembangan zaman, pertunjukan semacam ini sudah tidak ada.

 

Pertunjukan yang lain berubah dalam bentuk layar kaca televisi.  Sebagian masih bisa menjual “keanehan”.   Sebut saja beberapa contohnya.

 

Ada reality show  “hotter than my daughter”.  Dari judulnya langsung terbayang tentang para ibu yang jauh lebih bergaya ketimbang anak perempuannya.  Dalam promonya, program ini mengatakan “jika kamu merasa malu dengan kelakuan ibumu, coba lihat program ini, pengalamanmu tidak ada apa-apanya.”   Secara visual akan langsung terlihat ibu-ibu separuh usia yang bergaya lebih ekstrem ketimbang anaknya.

 

 

Ada juga reality show “extreme cougar wives”.  Cerita tentang pasangan-pasangan yang perempuannya jauh lebih tua dari laki-lakinya.   Contoh pasangan yang pernah masuk dalam salah satu episodenya:  Kathy 54  dan Brad 25,   Stephani 65  dan   Octavio 28.  Secara visual, langsung terlihat bentuk fisik pasangan yang berbeda dari yang biasa kita lihat. Pasangan ini lebih mencerminkan pasangan ibu-anak ketimbang suami istri.

 

Ide-ide tentang sesuatu yang aneh untuk dipertunjukkan akan selalu ada.  Namun sayangnya sesuatu yang aneh terbukti tidak mampu bertahan lama.  Tontonan aneh yang dipertontonkan terus-menerus pada akhirnya tidak aneh lagi dan bahkan  menjadi membosankan.    Tontonan yang memberi sensasi visual lewat keanehannya tetap dituntut untuk mampu memberikan pengalaman baru pada penontonnya.  Pengalaman baru itu bisa dalam bentuk memberikan inspirasi baru atau menimbulkan rasa kagum, empati, terharu dan lain-lain.  Tanpa pengalaman baru itu (yang tentu saja harus didukung oleh kreativitas yang konsepsional), tontonan visual seaneh apapun tidak akan menimbulkan bekas yang berarti dalam hati dan memori para penonton.

 

(20 October 2015)

COPY PASTE

 

Suatu ketika beberapa tahun lalu seorang pengusaha papan atas pemilik stasiun televisi dan portal berita bertahun-tahun menggunakan ponsel jadul.  Hingga suatu ketika ponsel itu rusak, dan “terpaksa”  dia mengganti dengan smartphone.

 

Implikasi dari dia menggunakan smartphone ternyata terjadi pada para karyawannya. Dia bisa online sewaktu-waktu dan bisa mengamati portal beritanya.  Salah satu yang dia amati:  75% dari berita di portal berita tersebut bersifat copy paste.  Dia membaca sebuah berita kemudian mengklik berita terkait, nah dalam berita terkait itu beritanya hampir 75% sama dengan berita sebelumnya. Begitu seterusnya dengan berita-berita selanjutnya.  Penulis berita hanya cukup menulis 25% berita, sisanya hasil copy paste.

 

Otak manusia memang cenderung mengolah pola-pola. Segala informasi yang masuk dikelola dalam pola-pola yang sudah ada dalam otak.  Tapi, kebiasaan mengcopy paste tidak sekadar karena otak cenderung mengelola pola-pola, tapi karena copy paste cenderung disemangati.

 

 

Berbagai seminar sempat sangat gemar mempromosikan slogan ATM (amati tiru modifikasi). Itu sejalan dengan cara kerja otak yang terbiasa mengenal pola-pola. Sepanjang sejarahnya manusia meniru tindakan-tindakan yang bisa membuatnya bertahan hidup. Tapi kemudian dalam hidup modern,  solusi atas problem itu tidak hanya sekadar mengikuti pola, tapi bisa jadi merombak atau mendestruksi pola yang sudah ada. Sehingga tidak cukup hanya dengan memodifikasi pola.

 

Edward De Bono, tokoh lateral thinking terkemuka, memberi contoh sederhana yang sangat bagus.  Dalam kosa kata bahasa inggris:  ada huruf  AT.   Jika diberi huruf R, maka langsung diletakkan di depan menjadi RAT.  Jika ditambah lagi huruf E, maka disusun di belakang menjadi RATE.  Jika ditambah lagi huruf G, bisa langsung diletakkan di depan menjadi GRATE.   Tapi bagaimana jika ditambah huruf T ?  diletakkan di depan atau di belakang tidak akan membentuk kata baru. Pada titik ini tidak bisa lagi berpegang pada pola. Yang harus dilakukan adalah mendekonstruksi pola dan mendesain ulang.  Kata GRATE harus dipecah menjadi huruf   G-R-A-T-E.  Maka jika ditambah huruf T dan disusun ulang bisa didapat kata baru  T-A-R-G-E-T.

 

Di industri penyiaran tv juga terjadi semangat copy paste ini karena terbiasa berpikir dalam pola-pola mengerjakan sesuatu yang sudah berhasil di masa lampau. Muncul semangat tidak mau repot-repot. Padahal sekali lagi,  solusi tidak selalu  diperoleh  terjadi dengan cara mengikuti pola.  Tidak bisa sekadar meniru program tv yang sudah ada.  Mesti dicoba mendekonstruksi program yang ada dan kemudian mendesainnya ulang. Di situ baru ada makna penting dari KREATIVITAS.

 

(14 October 2015)