PEMASARAN INTERNAL

 

Pemasaran selalu berkaitan dengan orang di luar: Pelanggan.  Seakan-akan hanya pelanggan sebagai bagian terpenting dari upaya memperkuat brand.  Pihak yang sering dilupakan dalam urusan memperkuat brand ini adalah PEGAWAI.  Tidak mungkin ada brand yang sangat kuat di mata pelanggan jika para pegawai sendiri tidak percaya pada brand itu.

 

Pernahkah anda dengar pegawai sebuah merek mie instan yang justru menyarankan semua anggota keluarga terdekatnya tidak mengonsumsi mie merek tersebut karena dia tahu kandungan kimia yang sebenarnya ?    Pernahkah anda dengar seorang anggota keluarga kita yang menceritakan rahasia sebuah maskapai tempatnya bekerja dan berharap kita –sebagai anggota keluarganya—tidak menggunakan maskapai itu karena aspek keamanannya mengkhawatirkan ?    Pernahkah anda dengar produser program tv yang justru melarang anaknya sendiri untuk menonton program yang menjadi tanggung jawabnya karena menganggapnya sebagai pengaruh buruk ?

 

Bahkan di Amerika Serikat pun,  menurut Harvard Business Review, pemasaran internal (internal marketing) tidak dilakukan dengan benar.  Sebagian atasan menyadari perlunya terus-menerus menginformasikan pada para pegawai mengenai strategi dan arah perusahaan,  namun hanya sedikit yang menyadari perlunya memberi keyakinan pada pegawai mengenai kekuatan brand .  Para eksekutif HRD tidak menguasai keahlian pemasaran untuk mengkomunikasikan dengan baik.  Informasi seringkali disebar ke pegawai dalam bentuk memo dan pengumuman-pengumuman.

 

Karena itu,  Colin Mitchell mengusulkan perlunya mengaitkan antara pemasaran eksternal dan internal.  Untuk bisa mengaitkan itu perlu ada suatu target besar –bahkan hampir tidak mungkin- untuk dicapai semua pegawai.  Contoh yang paling legendaris adalah IBM ketika mengubah haluannya di tahun 1997 menjadi e-business. Berbagai pihak di luar IBM  meragukan keberhasilan  langkah ini karena survai menunjukkan para pelanggan belum siap untuk menerima IBM sebagai pemain hebat di e-business.    IBM pun melakukan kampanye pemasaran internal sedemikian rupa sehingga mengubah cara pikir para pegawai bahkan dalam hal memberi nama produk. Kampanye ini memperkuat rasa percaya diri para pegawai mengenai arah dan makna dari masa depan yang hendak mereka tuju.   Tak lama setelah itu, riset menunjukkan bahwa persepsi masyarakat sudah terjadi peningkatkan empat kali lipat untuk mengasosiasikan IBM dan e-business.

 

Itu yang dikenal dengan “two way branding” dari IBM.  Pemasaran internal menjadi makin kuat karena bertumpu pada “ide besar” yang sama dengan yang disampaikan iklan. Pemasaran konsumen menjadi lebih kuat karena pesan-pesan yang dikembangkan berdasarkan pada perilaku dan sikap pegawai.

 

Jadi, kalau ada pegawai yang justru mematikan brand di  lingkungan eksternal, jangan-jangan memang para pegawai belum tersentuh oleh kampanya pemasaran internal untuk sama-sama meraih target besar dan ide besar.

(16 December 2015)

 

Spread the love
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

twenty − 6 =