MENIRU PUN BERESIKO

 

Dalam perbincangan dengan Faza Meonk, kreator dari komik Juki yang sangat terkenal itu,  saya mendapat satu pelajaran:  bahkan jika kreator si Juki sendiri berusaha meniru langkah-langkah keberhasilan si Juki belum tentu menghasilkan keberhasilan untuk kreasi yang lain.

Sebuah karya itu berhasil  setelah melalui berbagai jalan buntu dan kemudian mencoba melakukan berbagai adaptasi. Itulah customer development.  Meniru adalah upaya melakukan jalan pintas untuk tidak melalui berbagai jalan buntu, dan akibatnya tidak bersifat adaptif terhadap perubahan. Meniru adalah sebuah kemanjaan menghasilkan produk cepat saji terhadap pelanggan tanpa melalui proses panjang untuk mengenal karakter pelanggan dan berbagai perubahan yang mungkin muncul.

Tentu saja meniru juga bisa berhasil. Tapi yang menjadi kelemahannya adalah mempunyai basis pelanggan yang sangat lemah.  Setiap saat pelanggan akan bisa tergoda membandingkan dengan karya yang ditiru.  Jika itu program tv, maka akan muncul pertanyaan-pertanyaan “kenapa tidak selucu program A ya ?”,    “kenapa jalan ceritanya tidak semengharukan program B ?”, “kenapa tidak semeriah program C?” dan sederetan kenapa yang lain. Pelanggan hanya bisa dipuaskan jika mendekati atau sama dengan karya yang ditiru.   Pada akhirnya ruang untuk bisa melakukan adaptasi terhadap keinginan pelanggan menjadi sangat terbatas.

Ketika kita memutuskan meniru, berarti kita memutuskan untuk membatasi ruang penyesuaian terhadap keinginan pelanggan.  Dan itu berarti tidak bisa jangka panjang.

(3 December 2015)

Spread the love
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

2 × two =