KERTAS

 

Dua tahun lalu seorang teman mengundurkan diri dari jabatan cukup terpandang dalam jajaran redaksi sebuah majalah.  Alasannya ?  Dia merasakan bahwa media cetak pelan-pelan dibuat mati oleh internet.  Apalagi  harga kertas makin mahal sehingga tidak ada peluang untuk mampu bertahan.  Teman ini memilih untuk lebih dulu keluar dari kapal sebelum kapal itu benar-benar tenggelam.

 

Seminggu lalu saya dengar cerita anak muda yang keluar dari pekerjaanya dan memilih berbisnis kertas.  Dia menyewa ruko 3 lantai dan siap berjualan kertas.  Ketika ditanya apakah yakin dengan bisnis ini ditengah kertas makin terdesak, dia menjawab, “Yakin. Keluarga saya bisnis di bidang ini dan sampai saat ini bisnisnya masih bagus.”   Kemudia dia bercerita bahwa toko kertas itu tidak punya limbah.  Potongan kertas kecil-kecil hasil potong sehari-hari sudah ada yang menampung dengan harga bagus.  Salah satu pelanggannya adalah para pembuat terompet di akhir tahun.

 

Jadi sebenarnya kertas masih akan terus hidup atau bagaimana ?

 

Sebagian koran memang mati tapi sebagian koran lagi malah menempuh hidup baru.  Tumbuh koran-koran lokal di kota-kota kecil.  Kertas seakan menolak untuk mati.  Meski undangan bisa lewat sms atau WA, tapi undangan resmi ditulis di atas kertas masih lazim digunakan.  Meski kitab suci bisa diakses lewat situs di internet atau lewat apps,  tapi tetap diperlukan catatan yang ditulis di atas kertas bagi yang mempelajari kita suci.  Meski para wartawan dengan mudah merekam segala interview atau pernyataan lewat handphone atau smartphone, tapi mereka tetap perlu mencatat detail atau ide di atas kertas. Meski ada mindmapping yang dilakukan lewat piranti lunak,  tapi sangat sering dianjurkan ditulis tangan di atas kertas sehingga lebih otentik.  Meski sudah cukup jarang orang menggunakan tulisan tangan,  tapi ahli yang bisa membaca karakter lewat tulisan tangan tetap populer dimana-mana. Meski penjualan mainan susun modul sangat luar biasa, tapi permainan lipat kertas dan origami  tetap menjadi permainan kegemaran anak-anak. Meski e-book mulai banyak diluncurkan, tapi buku-buku konvensional yang dicetak di atas kertas tetap mendatangkan uang yang sangat besar.

 

Seperti halnya kita selalu diingatkan akan keterbatasan energi namun kita selalu menemukan energi-energi yang terbarukan sehingga tidak (atau belum) benar-benar terjadi krisis energy, begitu pula dengan kertas.  Siapa pun yang meramalkan kematian kertas, tak akan menyangka bakal seringnya terjadi transformasi kreatif fungsi kertas.  Selalu akan ditemukan dan diciptakan fungsi-fungsi baru.

HARAPAN(25 November 2015)

Ada beberapa kendaraan yang biasa disebut untuk mencapai sukses.  Passion,  kebiasaan, optimisme, inspirasi, dan lain-lain.  Ada satu kendaraan yang menurut beberapa ahli psikologi dianggap remeh selama ini.  Kendaraan itu adalah harapan (hope).

 

Harapan bukan  konsep yang benar-benar baru dalam psikologi. Di tahun 1991 seorang ahli psikologi positif Charles R. Snyder dan koleganya mengembangkan  Hope Theory. Menurut teori ini,  harapan itu terdiri dari  agency  dan pathways.   Agency itu adalah fenomena psikologi sentral yang harus diperhitungkan untuk setiap kerangka penjelasan mengenai tindakan manusia.  Pathways adalah sebuah rangkaian tempat berlangsungnya sebuah proses.   Orang yang punya harapan mempunyai kemauan dan determinasi untuk meraih berbagai tujuan dan mempunyai berbagai strategis  untuk meraih tujuan tersebut.   Sederhananya:  dalam harapan itu ada kemauan untuk bisa sampai satu tujuan tertentu  sekaligus ada berbagai cara untuk sampai pada tujuan tersebut.

 

Penjelasan lebih lanjut,   adanya harapan itu membuat emosi yang mengikuti kognisi, bukan sebaliknya.  Penting bahwa harapan itu melekat dengan kognisi. Dengan demikian, harapan mengarahkan pada learning goals, yang kondusif terhadap pertumbuhan. Orang yang mempunyai learning goals akan secara aktif terlibat dalam pembelajaran mereka, secara konsisten merencanakan berbagai strategi untuk mencapai tujuan-tujuan dan memantau kemajuan mereka untuk tetap berada dalam jalur yang benar

 

Menurut Snyder,  orang yang tidak punya harapan cenderung mengadopsi mastery goals.  Orang yang punya mastery goals akan memilih tugas-tugas ringan yang tidak memberikan tantangan atau peluang untuk tumbuh.  Ketika gagal, mereka berhenti.  Orang yang punya mastery goals itu tak berdaya, dan merasa tidak punya kendali atas lingkungan sekitarnya.  Orang ini tidak mempercayai kapasitasnya dalam meraih masa depan yang diinginkan. Dia tidak punya harapan.

 

Harapan bisa dibedakan dari kendaraan psikologis yang lain, seperti self-efficacy dan optimisme.  Self-efficacy itu sebuah keyakinan bahwa anda bisa mengusai sebuah bidang tertentu.  Optimisme itu sebuah harapan umum bahwa “semuanya akan baik-baik saja”.    Orang yang mempunyai self-efficacy berharap  akan bisa menguasai sebuah keahlian atas bidang tertentu.  Optimisme melibatkan ekspektasi positif terhadap kemungkinan  masa depan tanpa memperhitungkan adanya kendali seseorang atas kemungkinan tersebut.  Berbeda dengan self efficacy dan optimisme,  orang yang mempunyai harapan mempunya kemauan,  jalan  dan strategi yang diperlukan untuk mencapai tujuan-tujuannya.

 

Kreativitas membutuhkan harapan.  Karena kreativitas tidak sekadar ide-ide tapi juga merealisasikan ide-ide.  Merealisasikan ide-ide itu melibatkan kemauan, jalan dan strategi untuk sampai ke tujuan tersebut.  Kreativitas tanpa harapan adalah mustahil.

 

(23 November 2015)