catatan dan inspirasi

BAHASA BICARA

 

Anak-anak mampu bicara lebih dulu baru kemudian belajar menulis kata-kata. Dengan kata lain bahasa bicara (dengan sengaja memilih istilah bahasa bicara ketimbang bahasa lisan) terbentuk dulu baru kemudian belajar bahasa tulisan. Dalam sejarah peradaban manusia juga begitu urutannya,  peradaban bicara dulu baru  kemudian muncul peradaban menulis. Sampai sekarang masih ada suku-suku yang hanya mengenal bahasa bicara tanpa sama sekali ada bahasa tulis.

 

Pada gilirannya sebagian besar orang belajar bahwa antara berbicara dan menulis itu berbeda.  Sebuah contoh perbedaan ini bisa dilihat dari perbandingan ini.

 

Bahasa bicara:

Seumur hidup gue, gue nggak pernah jatuh cinta. Gue nggak pernah ngalamin perasaan kayak gini. Bener dong, gue bilang mudah-mudahan.  Kayaknya sih emang gue jatuh cinta. Gue ngeliat Eva itu……lain !  Unik.  Dia bukan cewek kebanyakan. Dia beda. Gimana ya njelasinnya…”  (cuplikan dari salah satu dialog dalam skenario FTV).

 

Bahasa tulisan:

Tidak ada awal dan akhir. Tidak ada sebab dan akibat. Tidak ada ruang dan waktu. Yang ada hanyalah…. Ada. Terus bergerak, berekspansi, ber-evolusi. Sia-sialah orang yang berusaha menjadi batu di arus ini, yang menginginkan kepastian atau pun ramalan masa depan, karena sesungguhnya justru dalam ketidakpastian manusia dapat berjaya, menggunakan potensinya untuk berkreasi (cuplikan dari salah satu novel Dewi Lestari)

 

Bahasa bicara cenderung informal, repetitif dan bisa mewakili dialek atau gaya tertentu.  Bahasa tulisan lebih formal dan ringkas.

 

Yang kita lihat akhir-akhir ini bahasa bicara banyak masuk dalam bentuk tulisan diberbagai media sosial.  Dalam bentuk status, kicauan,  komentar dan lain-lain.  Karena menggunakan bahasa bicara itu seringkali kita mendengar orang menyebut media sosial gaduh atau berisik.      Media sosial terasa lebih gaduh dan berisik dibandingkan koran atau majalah yang mewakili bahasa tulisan.

 

Bahasa dalam media sosial tidak hanya mewakili gaya bahasa bicara tapi juga memunculkan gaya-gaya baru dalam penulisan, singkatan-singkatan dan gambar emotikon.  John McWhorter seorang linguis dalam TED talk  membenarkan  bahwa bahasa yang digunakan di media sosial itu bahasa bicara .  Bahasa bicara itu lebih longgar, telegrafik  dan lebih dangkal  dibandingkan bahasa tulisan. John menyebutnya “fingered speech”. John memberi contoh penggunaan “LOL”  yang tidak lagi bermakna “laugh out loud” tapi sebagai penanda empati dan persetujuan.  Itu yang disebut ahli linguistik sebagai “pragmatic particle”.

 

Apa perlunya ini untuk pemasar di media sosial ?

 

-Siapa target audiens kita dan bagaimana demografinya ?  Jika audiens tersebut  laki-laki dengan umur di atas 55 ,  bisa saja tetap dengan bahasa bicara tapi tanpa  menggunakan emotikon ekspresi senyum atau mengerling atau tanda hati.    Tapi jika ingin menjangkau  para remaja perempuan, emotikon bisa menjadi bagian penting dari pesan-pesan yang ingin disampaikan.

 

-Bagaimana untuk merek B2B atau B2C ?   Merek B2B cenderung lebih formal dalam penggunaan bahasanya –dengan kata lain, bahasa tulisan–  karena ingin mencoba menjaga sebuah persepsi dan status tertentu sambil berkomunikasi dengan para professional yang lain.  Merek B2C punya lebih banyak peluang untuk menjadi informal dan mengasyikan karena merek ini berinteraksi dengan orang-orang dari berbagai kalangan.

 

-Saluran media sosial apa yang digunakan ?  jika menggunakan twitter,  bisa lebih bebas: bahasa bicara. Namun jika di Linkedin lebih pantas menggunakan bahasa tulisan,  lebih profesional dan formal.

 

Pada gilirannya, keahlian yang harus dikuasai adalah membuat pesan-pesan media sosial yang sesuai dengan gaya bahasa bicara khalayak sasaran yang dituju.  Hanya dengan begitu sebuah pesan mampu menjadi efektif.

 

(17 November 2015)

Spread the love
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *