REMOTE CONTROL

 

Beberapa analisis dalam stasiun tv seakan-akan berasumsi bahwa setiap penonton memegang remotre control di depan televisinya sehingga begitu ada acara bagus di tempat lain dia tergerak untuk berpindah ke saluran tersebut.   Logikanya,  saat penonton menikmati program tv saluran A,  tentu dia tidak mengetahui program bagus di saluran B atau C,  jadi tidak serta-merta penonton saluran A langsung pindah ke saluran B atau C.  Dengan kata lain,  sebuah program tv harus cukup disukai sehingga penonton rela menonton secara regular.  Beberapa program tv berita atau program tv special (hanya 1 episode)  memang bisa menarik perhatian banyak penonton untuk berganti saluran dengan segera.

 

Untuk program-program tv yang sangat disukai, remote control menjadi diabaikan. Setiap menitnya ditunggu.  Bahkan ketika saatnya jeda iklan pun remote control tidak digunakan untuk sesaat pindah ke saluran lain.

 

Sebuah program tv pada akhirnya membutuhkan “keutuhan”.   Dari episode 1 hingga episode ke sekian mempunyai pola yang baku agar penonton terbiasa dan ketika suka menjadi rela untuk menontonnya secara regular.

 

Remote control sebenarnya alat untuk membantu penonton menentukan program tv di saluran mana yang akan ditonton pada akhirnya.   Konsumen/pelanggan/audiens/penonton tidak cukup hanya dengan tindakan sekali dan selesai, tapi dengan disiplin dan kreativitas untuk merawat dan mempertahankan.

(13 November 2015)