COBA-COBA

 

Ada perbedaan cukup mencolok antara coba-coba dan percobaan.

 

-Seseorang bisa coba-coba membuka rumah makan di sebuah lokasi.  Orang lain melakukan percobaan dengan menu sarapan ringan  untuk restorannya yang biasa menyajikan makanan berbasis nasi.

 

-Seseorang  bisa coba-coba menjadi fotografer.  Orang lain melakukan percobaan apakah akan banyak yang suka pada foto dengan dominasi warna  biru.

 

-Seseorang bisa coba-coba membuat film.  Orang lain melakukan percobaan membuat film dengan tema percintaan yang tidak happy ending.

 

-Seseorang bisa coba-coba menjadi developer perumahan. Orang lain melakukan percobaan membuat rumah untuk segmen pasangan muda kelas menengah lulusan luar negeri.

 

Dalam coba-coba, cenderung umum dan tak terukur.  Dalam percobaan, biasanya mempunyai hipotesis tertentu yang ingin dibuktikan karena itu terukur.

 

Dalam coba-coba, fokus itu dianggap tidak penting. Dengan begitu ketika gagal, tak ada rencana cadangan yang dijalankan.  Dalam percobaan,  selalu penting untuk fokus pada berbagai respons yang diberikan pelanggan/khalayak sasaran.

 

Dalam coba-coba, jarang dilandasi oleh sebuah pemikiran yang kuat atas sebuah konsep.  Dalam percobaan, seringkali itu menjadi bagian pengembangan dari sebuah konsep yang memang sudah kuat.

 

Antara coba-coba dan percobaan yang membedakan adalah komitmen dan kedisiplinan untuk tumbuh.

 

(30 November 2015)

PENDIDIKAN KREATIVITAS

 

Darimana mulainya anak berkenalan dengan kreativitas dalam tahap paling awalnya ketika di bangku sekolah ?

 

Sebagian dari kita mengingat bahwa riwayat pengalaman bersekolah kita dipenuhi dengan pengalaman menghapal dan disalahkan ketika jawaban kita tidak sama dengan kunci jawaban. Kita tidak diajak berpikir tapi diperintah menjawab.   Sejak awal kita dihambat untuk mempunyai ide sendiri.   Puluhan tahun yang lalu Ki Hajar Dewantara sudah mengenal konsep kreativitas di bangku sekolah.

 

“Hidup dan tumbuhnya anak-anak itu terletak di luar kecakapan dan kehendak kita sebagai kaum pendidik.  Anak-anak itu sebagai makhluk, sebagai manusia, sebagai benda hidup, teranglah hidup dan tumbuh menurut kodratnya sendiri  (buku Pendidikan, hal. 21)

 

“…kemerdekaan hendaknya dikenakan terhadap caranya anak-anak berpikir, yaitu jangan selalu “dipelopori”,  atau disuruh mengakui buah pikiran orang lain, akan tetapi biasakanlah anak-anak mencari sendiri segala pengetahuannya dengan menggunakan pikirannya sendiri…  (peringatan Taman Siswa 30 tahun  1952)

 

Sejak awal Ki Hajar sudah mempunyai konsep bahwa anak-anak mestinya dibiasakan menemukan jawabannya sendiri.  Anak-anak tidak semestinya didikte terus-menerus mengenai jawaban yang benar.  Dengan demikian, yang dilatih terus adalah cara berpikir divergen. Berusaha menemukan berbagai kemungkinan. Mencari sebanyak-banyaknya jawaban.  Menjadi bingung pada awalnya adalah wajar. Tapi kemudian anak-anak merdeka dan bertanggung jawab terhadap jawaban atau ide yang dimilikinya. Anak-anak dilatih untuk mengenal dirinya sendiri.  Mengenali potensinya. Para guru menjadi bagian dalam mendorong anak-anak untuk mampu mengembangkan potensinya.

 

Kata kreativitas mungkin belum pernah disebut Ki Hajar Dewantara, tapi seluruh ajarannya menunjukkan kesadaran penuh akan potensi kreativitas setiap anak. Sekolah nantinya yang akan punya pilihan:  mematikan atau menumbuhkan potensi itu.

(27 November 2015)

KERTAS

 

Dua tahun lalu seorang teman mengundurkan diri dari jabatan cukup terpandang dalam jajaran redaksi sebuah majalah.  Alasannya ?  Dia merasakan bahwa media cetak pelan-pelan dibuat mati oleh internet.  Apalagi  harga kertas makin mahal sehingga tidak ada peluang untuk mampu bertahan.  Teman ini memilih untuk lebih dulu keluar dari kapal sebelum kapal itu benar-benar tenggelam.

 

Seminggu lalu saya dengar cerita anak muda yang keluar dari pekerjaanya dan memilih berbisnis kertas.  Dia menyewa ruko 3 lantai dan siap berjualan kertas.  Ketika ditanya apakah yakin dengan bisnis ini ditengah kertas makin terdesak, dia menjawab, “Yakin. Keluarga saya bisnis di bidang ini dan sampai saat ini bisnisnya masih bagus.”   Kemudia dia bercerita bahwa toko kertas itu tidak punya limbah.  Potongan kertas kecil-kecil hasil potong sehari-hari sudah ada yang menampung dengan harga bagus.  Salah satu pelanggannya adalah para pembuat terompet di akhir tahun.

 

Jadi sebenarnya kertas masih akan terus hidup atau bagaimana ?

 

Sebagian koran memang mati tapi sebagian koran lagi malah menempuh hidup baru.  Tumbuh koran-koran lokal di kota-kota kecil.  Kertas seakan menolak untuk mati.  Meski undangan bisa lewat sms atau WA, tapi undangan resmi ditulis di atas kertas masih lazim digunakan.  Meski kitab suci bisa diakses lewat situs di internet atau lewat apps,  tapi tetap diperlukan catatan yang ditulis di atas kertas bagi yang mempelajari kita suci.  Meski para wartawan dengan mudah merekam segala interview atau pernyataan lewat handphone atau smartphone, tapi mereka tetap perlu mencatat detail atau ide di atas kertas. Meski ada mindmapping yang dilakukan lewat piranti lunak,  tapi sangat sering dianjurkan ditulis tangan di atas kertas sehingga lebih otentik.  Meski sudah cukup jarang orang menggunakan tulisan tangan,  tapi ahli yang bisa membaca karakter lewat tulisan tangan tetap populer dimana-mana. Meski penjualan mainan susun modul sangat luar biasa, tapi permainan lipat kertas dan origami  tetap menjadi permainan kegemaran anak-anak. Meski e-book mulai banyak diluncurkan, tapi buku-buku konvensional yang dicetak di atas kertas tetap mendatangkan uang yang sangat besar.

 

Seperti halnya kita selalu diingatkan akan keterbatasan energi namun kita selalu menemukan energi-energi yang terbarukan sehingga tidak (atau belum) benar-benar terjadi krisis energy, begitu pula dengan kertas.  Siapa pun yang meramalkan kematian kertas, tak akan menyangka bakal seringnya terjadi transformasi kreatif fungsi kertas.  Selalu akan ditemukan dan diciptakan fungsi-fungsi baru.

HARAPAN(25 November 2015)

Ada beberapa kendaraan yang biasa disebut untuk mencapai sukses.  Passion,  kebiasaan, optimisme, inspirasi, dan lain-lain.  Ada satu kendaraan yang menurut beberapa ahli psikologi dianggap remeh selama ini.  Kendaraan itu adalah harapan (hope).

 

Harapan bukan  konsep yang benar-benar baru dalam psikologi. Di tahun 1991 seorang ahli psikologi positif Charles R. Snyder dan koleganya mengembangkan  Hope Theory. Menurut teori ini,  harapan itu terdiri dari  agency  dan pathways.   Agency itu adalah fenomena psikologi sentral yang harus diperhitungkan untuk setiap kerangka penjelasan mengenai tindakan manusia.  Pathways adalah sebuah rangkaian tempat berlangsungnya sebuah proses.   Orang yang punya harapan mempunyai kemauan dan determinasi untuk meraih berbagai tujuan dan mempunyai berbagai strategis  untuk meraih tujuan tersebut.   Sederhananya:  dalam harapan itu ada kemauan untuk bisa sampai satu tujuan tertentu  sekaligus ada berbagai cara untuk sampai pada tujuan tersebut.

 

Penjelasan lebih lanjut,   adanya harapan itu membuat emosi yang mengikuti kognisi, bukan sebaliknya.  Penting bahwa harapan itu melekat dengan kognisi. Dengan demikian, harapan mengarahkan pada learning goals, yang kondusif terhadap pertumbuhan. Orang yang mempunyai learning goals akan secara aktif terlibat dalam pembelajaran mereka, secara konsisten merencanakan berbagai strategi untuk mencapai tujuan-tujuan dan memantau kemajuan mereka untuk tetap berada dalam jalur yang benar

 

Menurut Snyder,  orang yang tidak punya harapan cenderung mengadopsi mastery goals.  Orang yang punya mastery goals akan memilih tugas-tugas ringan yang tidak memberikan tantangan atau peluang untuk tumbuh.  Ketika gagal, mereka berhenti.  Orang yang punya mastery goals itu tak berdaya, dan merasa tidak punya kendali atas lingkungan sekitarnya.  Orang ini tidak mempercayai kapasitasnya dalam meraih masa depan yang diinginkan. Dia tidak punya harapan.

 

Harapan bisa dibedakan dari kendaraan psikologis yang lain, seperti self-efficacy dan optimisme.  Self-efficacy itu sebuah keyakinan bahwa anda bisa mengusai sebuah bidang tertentu.  Optimisme itu sebuah harapan umum bahwa “semuanya akan baik-baik saja”.    Orang yang mempunyai self-efficacy berharap  akan bisa menguasai sebuah keahlian atas bidang tertentu.  Optimisme melibatkan ekspektasi positif terhadap kemungkinan  masa depan tanpa memperhitungkan adanya kendali seseorang atas kemungkinan tersebut.  Berbeda dengan self efficacy dan optimisme,  orang yang mempunyai harapan mempunya kemauan,  jalan  dan strategi yang diperlukan untuk mencapai tujuan-tujuannya.

 

Kreativitas membutuhkan harapan.  Karena kreativitas tidak sekadar ide-ide tapi juga merealisasikan ide-ide.  Merealisasikan ide-ide itu melibatkan kemauan, jalan dan strategi untuk sampai ke tujuan tersebut.  Kreativitas tanpa harapan adalah mustahil.

 

(23 November 2015)

BURSA MOBIL

 

Pernahkah anda berjalan menyusuri bursa mobil bekas di Jakarta yang biasanya menempati ruang parkir di sebuah mall ?   Kalau belum pernah, cobalah sekali-sekali karena akan memberikan pengalaman baru.  Bukan karena di begitu beragam produk mobil bekas yang dipajang,  tapi begitu beragamnya kualitas pelayanan dari berbagai pedagang mobil ini.

 

Ada pedagang yang begitu ditanya mobilnya sudah berapa kilometer, dia langsung menjawab sekian kilometer.  Tapi begitu ditanya lagi mengapa angka kilometernya masih sedikit (di bawah rata-rata mobil dengan tahun yang sama),  dia menjawab dengan nada tinggi “mana saya tahu ?!   saya cuma jualan di sini !”

 

Di pedagang lain,  seorang anak muda menghampiri dengan ramah, tersenyum dan mengajak jabat tangan. Dia menjelaskan kondisi produknya.  Lalu ketika disampaikan pertanyaan yang sama: “kenapa kilometernya masih sedikit ?”   Dia menjawab dengan ramah:  “o iya pak. Bukan karena jarang pakai,  kebetulan si pemilik ini kantornya dekat sekali.  Setiap hari mobil ini jalan kurang dari 10 kilo pak.”   Dia menjawab semua pertanyaan dengan baik dan membujuk supaya mau mencoba menyetir.

 

Sementara di pedagang lain ada anak muda berjaga.  Pakaiannya casual biasa.  Dia tidak hanya bercerita tentang produknya tapi bercerita tentang  bisnis mobil.  Ketika ditanya kenapa tidak ada warna lain selain hitam, dia menjawab bahwa pasar memang lebih menginginkan hitam.  Dia pernah jual mobil dengan warna perak tapi perlu waktu lebih dari 2 bulan untuk laku.  Lalu dia menunjukkan mobil di sebelahnya yang selama lebih dari 6 bulan tidak laku karena warnanya merah.  Dia menasehati, untuk mobil bekas sebaiknya ambil warna hitam karena begitu bosan dengan mobil ini lebih mudah untuk dijual lagi ke bursa mobil.  Warna hitam itu abadi, begitu katanya.

 

Di bursa mobil bekas kita akan belajar bahwa pelayanan yang baik itu bisa membuat kita percaya pada produk yang dijualnya.

(22 December 2015)

 

 

10.000

 

Angka 10.000 sudah telanjur dimiliki oleh Malcolm Gladwell.  Setiap menyebut atau menulis angka 10.000 pasti sudah tertebak kelanjutannya adalah menjelaskan pernyataan Malcolm yang menyatakan bahwa untuk bisa tahap expert harus melampaui latihan selama minimal 10.000 jam.  Entah sudah berapa banyak pembicara dan trainer yang menyelipkan pandangan Malcolm ini dalam salah satu slide-nya.

 

Tapi pandangan berlatih 10.000 jam ini pun sudah banyak penggugatnya.

 

Contohnya cerita ini.  Sekitar tahun 2003 Magnus Carlsen yang waktu itu berumur 13 tahun menimbulkan kehebohan di dunia catur ketika dia mengalahkan mantan juara dunia catur Anatoly Karpov dalam sebuah turnamen catur di Reykjavik, Islandia.  Di hari berikutnya pecatur peringkat atas Garry Kasparov – yang dipandangsebagai pemain catur terbaik dunia—berhasil dipaksa remis oleh Carlsen.    Kehebatan Carlsen terus berlanjut, dia mendapat gelar Grandmaster di tahun 2014,menjadi nomer satu dalam Norwegian Chess Championship tahun 2006, pemain termuda dalam sejarah yang pernah meraih posisi nomer satu dunia di tahun 2010 dan peringkat teratas dalam sejarah di tahun 2012.

 

Tentu saja yang menjadi pertanyaan kemudian: Bagaimana menjelaskan keberhasilan spektakuler semacam ini ?  Apa yang membuat seseorang melampaui posisi semua orang di musik, games, olah raga, bisnis atau ilmu pengetahuan ?

 

Di dunia animasi dan games Indonesia, katakanlah,  aturan 10.000 jam berlatih itu seakan-akan sesuatu yang tidak  bergaung.  Kita bisa terkaget-kaget dengan karya-karya baru (dari anak-anak yang masih belia) yang kehebatannya melampaui karya para senior yang mestinya lebih unggul dalam jam terbang.

 

Di sebuah sekolah dasar di Jakarta selatan ada yang berpandangan bahwa untuk membuat murid mampu mengerjakan soal-soal ujian nasional SD tidak perlu waktu bertahun-tahun.  Sekolah ini hanya fokus pada upaya membuat anak-anak “senang belajar” (pembelajar),  untuk menghadapi ujian nasional para murid hanya perlu ketrampilan ringan yang bisa dilatih hanya dalam waktu 3 bulan dan terbukti berhasil.

 

Tentu saja, pandangan latihan 10.000 jam Malcolm Gladwell ini tetap banyak pendukungnya.  Tapi substansinya, dalam soal karya,  siapa pun punya peluang untuk menjadi nomer satu bahkan jika harus  bersaing dengan para senior yang sudah berlatih lebih dari 10.000 jam.  Tak perlu kecil hati bagi yang belum 10.000 jam. Dalam setiap balapan, sebuah mobil yang jauh tertinggal di belakang pun tetap punya peluang untuk melampaui satu per satu hingga menjadi nomer satu.

 

(19 November 2015)

PROVOKASI

 

Teknik provokasi yang diajarkan Edward de Bono adalah upaya untuk menghasilkan ide-ide baru dengan cara mudah.  Pada dasarnya setiap orang sudah telanjur punya pola dalam cara berpikirnya sehingga sulit berpikir keluar dari pola.  Jika sulit berpikir keluar dari pola yang selama ini, maka sulit pula ad aide-ide baru yang mampu menjadi terobosan.  Contoh provokasi ini misalnya, “bagaimana jika mobil beroda bentuk segi empat.” Maksud dari provokasi ini bukan benar-benar harus mewujudkan sebuah teknologi mobil yang mampu beroda empat.  Dari provokasi ini misalnya lahir ide untuk sebuah mobil yang mampu bergerak dengan sangat baik di medan atau jalan seberat apapun.

 

Tiap hari kita bisa memprovokasi demi munculnya ide-ide baru. Ingat, provokasi ini harus tidak masuk akal agar mampu memaksa otak  keluar dari pola yang selama ini ada. Provokasi bisa apa saja. Katakanlah kita bermain-main untuk sebuah restoran.  Apa saja provokasinya.

 

1.Bagaimana jika orang-orang mau mampir ke sebuah restoran untuk makan meski  restoran itu tidak memasang papan nama bertuliskan restoran ?   Tentu saja tidak masuk akal ada restoran yang tidak memasang papan nama bertuliskan restoran, rumah makan atau kafe.  Tapi  provokasi ini akan memancing ide-ide mengenai sebuah restoran yang dari desain mukanya saja sudah membuat sebagian besar orang yang lewat depan situ akan tergerak untuk mampir dan makan. Sebuah tantangan disain (arsitektur) yang luar biasa.

 

2.Bagaimana jika sebuah restoran dilayani oleh para pelayan yang semuanya berpenampilan mulut diplester sehingga tidak bisa bicara ? ini jelas tidak mungkin.  Bagaimana mungkin ada restoran yang bisa memuaskan pelanggan jika para pelayannya tidak bisa bicara bahkan tidak bisa tersenyum ?!  Provokasi ini akan mendorong keluarnya ide-ide tentang bentuk pelayanan yang unik dan memuaskan di luar faktor senyum dan bicara.  Misalnya dari segi kostum pelayan, bentuk rambut pelayan, gestur tubuh pelayan, cara pelayan menghidangkan makanan pesanan, dan lain-lain.  Provokasi ini memancing penjalajahan terhadap kemungkinan layanan-layanan lain yang bisa memberi pelanggan sebuah customer experience.

 

3.Bagaimana jika sebuah restoran sama sekali tidak perlu tempat parkir ?  ini jelas tidak mungkin. Restoran tentunya untuk kalangan menengah ke atas.  Dan kebanyakan kalangan ini menggunakan kendaraan roda empat.  Sebuah restoran tanpa tempat parkir sudah pasti tidak menarik perhatian kelas menengah.  Provokasi ini mengajak penjelajahan ke ide-ide memberi customer experience dalam bentuk cara menuju restoran itu.   Kendaraan di parkir di sebuah tempat dan tamu menju ke restoran dengan menggunakan perahu untuk menyeberang sungai. Atau  harus menggunakan kereta gantung menuju ke restoran  (sebagaimana dilakukan di sebuah restoran di Bali).

 

(18 November 2015)

BAHASA BICARA

 

Anak-anak mampu bicara lebih dulu baru kemudian belajar menulis kata-kata. Dengan kata lain bahasa bicara (dengan sengaja memilih istilah bahasa bicara ketimbang bahasa lisan) terbentuk dulu baru kemudian belajar bahasa tulisan. Dalam sejarah peradaban manusia juga begitu urutannya,  peradaban bicara dulu baru  kemudian muncul peradaban menulis. Sampai sekarang masih ada suku-suku yang hanya mengenal bahasa bicara tanpa sama sekali ada bahasa tulis.

 

Pada gilirannya sebagian besar orang belajar bahwa antara berbicara dan menulis itu berbeda.  Sebuah contoh perbedaan ini bisa dilihat dari perbandingan ini.

 

Bahasa bicara:

Seumur hidup gue, gue nggak pernah jatuh cinta. Gue nggak pernah ngalamin perasaan kayak gini. Bener dong, gue bilang mudah-mudahan.  Kayaknya sih emang gue jatuh cinta. Gue ngeliat Eva itu……lain !  Unik.  Dia bukan cewek kebanyakan. Dia beda. Gimana ya njelasinnya…”  (cuplikan dari salah satu dialog dalam skenario FTV).

 

Bahasa tulisan:

Tidak ada awal dan akhir. Tidak ada sebab dan akibat. Tidak ada ruang dan waktu. Yang ada hanyalah…. Ada. Terus bergerak, berekspansi, ber-evolusi. Sia-sialah orang yang berusaha menjadi batu di arus ini, yang menginginkan kepastian atau pun ramalan masa depan, karena sesungguhnya justru dalam ketidakpastian manusia dapat berjaya, menggunakan potensinya untuk berkreasi (cuplikan dari salah satu novel Dewi Lestari)

 

Bahasa bicara cenderung informal, repetitif dan bisa mewakili dialek atau gaya tertentu.  Bahasa tulisan lebih formal dan ringkas.

 

Yang kita lihat akhir-akhir ini bahasa bicara banyak masuk dalam bentuk tulisan diberbagai media sosial.  Dalam bentuk status, kicauan,  komentar dan lain-lain.  Karena menggunakan bahasa bicara itu seringkali kita mendengar orang menyebut media sosial gaduh atau berisik.      Media sosial terasa lebih gaduh dan berisik dibandingkan koran atau majalah yang mewakili bahasa tulisan.

 

Bahasa dalam media sosial tidak hanya mewakili gaya bahasa bicara tapi juga memunculkan gaya-gaya baru dalam penulisan, singkatan-singkatan dan gambar emotikon.  John McWhorter seorang linguis dalam TED talk  membenarkan  bahwa bahasa yang digunakan di media sosial itu bahasa bicara .  Bahasa bicara itu lebih longgar, telegrafik  dan lebih dangkal  dibandingkan bahasa tulisan. John menyebutnya “fingered speech”. John memberi contoh penggunaan “LOL”  yang tidak lagi bermakna “laugh out loud” tapi sebagai penanda empati dan persetujuan.  Itu yang disebut ahli linguistik sebagai “pragmatic particle”.

 

Apa perlunya ini untuk pemasar di media sosial ?

 

-Siapa target audiens kita dan bagaimana demografinya ?  Jika audiens tersebut  laki-laki dengan umur di atas 55 ,  bisa saja tetap dengan bahasa bicara tapi tanpa  menggunakan emotikon ekspresi senyum atau mengerling atau tanda hati.    Tapi jika ingin menjangkau  para remaja perempuan, emotikon bisa menjadi bagian penting dari pesan-pesan yang ingin disampaikan.

 

-Bagaimana untuk merek B2B atau B2C ?   Merek B2B cenderung lebih formal dalam penggunaan bahasanya –dengan kata lain, bahasa tulisan–  karena ingin mencoba menjaga sebuah persepsi dan status tertentu sambil berkomunikasi dengan para professional yang lain.  Merek B2C punya lebih banyak peluang untuk menjadi informal dan mengasyikan karena merek ini berinteraksi dengan orang-orang dari berbagai kalangan.

 

-Saluran media sosial apa yang digunakan ?  jika menggunakan twitter,  bisa lebih bebas: bahasa bicara. Namun jika di Linkedin lebih pantas menggunakan bahasa tulisan,  lebih profesional dan formal.

 

Pada gilirannya, keahlian yang harus dikuasai adalah membuat pesan-pesan media sosial yang sesuai dengan gaya bahasa bicara khalayak sasaran yang dituju.  Hanya dengan begitu sebuah pesan mampu menjadi efektif.

 

(17 November 2015)

REMOTE CONTROL

 

Beberapa analisis dalam stasiun tv seakan-akan berasumsi bahwa setiap penonton memegang remotre control di depan televisinya sehingga begitu ada acara bagus di tempat lain dia tergerak untuk berpindah ke saluran tersebut.   Logikanya,  saat penonton menikmati program tv saluran A,  tentu dia tidak mengetahui program bagus di saluran B atau C,  jadi tidak serta-merta penonton saluran A langsung pindah ke saluran B atau C.  Dengan kata lain,  sebuah program tv harus cukup disukai sehingga penonton rela menonton secara regular.  Beberapa program tv berita atau program tv special (hanya 1 episode)  memang bisa menarik perhatian banyak penonton untuk berganti saluran dengan segera.

 

Untuk program-program tv yang sangat disukai, remote control menjadi diabaikan. Setiap menitnya ditunggu.  Bahkan ketika saatnya jeda iklan pun remote control tidak digunakan untuk sesaat pindah ke saluran lain.

 

Sebuah program tv pada akhirnya membutuhkan “keutuhan”.   Dari episode 1 hingga episode ke sekian mempunyai pola yang baku agar penonton terbiasa dan ketika suka menjadi rela untuk menontonnya secara regular.

 

Remote control sebenarnya alat untuk membantu penonton menentukan program tv di saluran mana yang akan ditonton pada akhirnya.   Konsumen/pelanggan/audiens/penonton tidak cukup hanya dengan tindakan sekali dan selesai, tapi dengan disiplin dan kreativitas untuk merawat dan mempertahankan.

(13 November 2015)

PERBANDINGAN

 

Tidak ada diskriminasi terhadap ide.   Ide apapun pada gilirannya akan melewati proses diperbandingkan.  Entah itu oleh juri,  pimpinan atau  konsumen. Dalam kecepatan berbeda-beda sebuah ide biasanya direspons dengan pertanyaan-pertanyaan semacam ini :

 

Apakah memang benar-benar baru ?adakah perbedaan dengan ide sebelumnya ?seberapa besar perbedaan dengan ide sebelumnya ?Apakah ide ini juga tidak ada sebelumnya di negara lain ?

 

Dalam beberapa kasus, sebuah ide dijelaskan ke sana-kemari bahwa ide ini berbeda dengan ide sebelumnya dengan perbedaan A, B,C dan seterusnya tapi tetap orang tak menaruh perhatian pada ide ini.  Dalam beberapa kasus,  ide itu tetap jalan meski setelah diperbandingkan mempunyai kesamaan, dan kemudian ide ini ternyata mempunyai banyak penggemar.  Dalam beberapa kasus, sebuah ide yang diteriak-teriakan sebagai ide baru tidak dipedulikan khalayak sampai akhirnya benar-benar direalisasikan dan setelah diperbandingkan ternyata kualitasnya tidak lebih baik dari produk sebelumnya.  Dalam beberapa kasus, ide ini sudah diakui tidak berbeda dengan ide sebelumnya dan berusaha memperbaiki kualitas eksekusi produksinya, dan ternyata khalayak sangat suka.

 

Ide atau apapun yang kita jual pada gilirannya akan diperbandingkan –oleh juri, khalayak, konsumen, pembeli, komunitas–  namun keputusan tetap ada pada kita untuk meneruskan atau hanya berhenti sampai di situ setelah mendengar hasil perbandingan (yang menyakitkan).    Kalau memutuskan untuk meneruskan kita akan menemui perbandingan berikutnya dan berikutnya dan berikutnya…. sampai  satu titik dimana perbandingan tidak penting lagi karena ide itu atau produk itu menjadi satu-satunya yang ada di benak konsumen atau pembeli.

(11 November 2015)

TURKI

 

Dalam sebuah pameran biro travel, seorang ibu setengah baya masuk dalam salah satu kios dan bertanya mengenai paket perjalanan ke Turki.  Ibu yang seperti ini ternyata cukup banyak.  Pemicunya ?  Drama seri Turki yang cukup banyak di layar tv Indonesia.

 

Di akhir tahun 2014 Turki sudah menjadi eksporti kedua terbesar di dunia –setelah AS—untuk produk  drama seri tv.  Dengan pendapatan tahunan sebesar lebih dari  AS $ 200 juta tersebar di lebih 100 negara.  Padahal di tahun 2004  pendapatan dari drama seri tv ini hanya AS  $ 20.000.

 

Seiring dengan banyaknya drama seri tv Turki ke negara-negara lain, berkembang juga angka bepergian ke Turki.  Penjualan tiket Turkish Airline meningkat dua kali lipat di 2012 dan 2013 untuk negara-negara Timur Tengah seperti Arab Saudi dan Bahrain. Belum ada data untuk Asia Tenggara termasuk Indonesia.

 

Sekali lagi ini membuktikan bahwa cara promosi yang paling hebat adalah lewat cerita.  Korea Selatan sudah membuktikan lebih dulu dengan drama serinya mampu membuat perolehan devisa atas pariwisata meningkat luar biasa.  Kali ini Turki.  Indonesia kapan ?   Sudah dimulai dengan fenomena meledaknya film Laskar Pelangi,  telah meningkatkan kunjungan wisata ke Belitung.

 

Cerita tidak bisa ditunggu bakal bermunculan di tiap daerah atau dari setiap stasiun tv.   Cerita harus didorong dan diarahkan sejak awal.  Dan, pengalaman Korea Selatan dan Turki memberi pelajaran bahwa dukungan negara sangat penting.  Di Turki bahkan ada insentif  untuk drama seri tv yang mengangkat nilai-nilai penting keluarga.

 

(4 November 2015)