PERSEPSI DAN LOGIKA

 

Tersebutlah si Badu yang diberi pilihan:   koin besar dengan nilai Rp 5.000  atau koin kecil dengan nilai Rp 10.000.    Si Badu memilih koin besar.  Si pemberi pilihan penasaran, beberapa waktu kemudian,  dia menyampaikan pilihan itu lagi pada Badu,  Badu tetap memilih koin besar.  Hingga beberapa kali, Badu tetap memilih koin besar.  Akhirnya si pemberi pilihan penasaran dan menanyakan pada Badu: “Logikanya kamu mesti memilih koin kecil karena karena nilainya lebih besar daripada koin besar.  Kenapa kamu pilih koin besar ?”    Si Badu menjawab, “kalau saya memilih koin kecil, selesai sudah.   Saya tidak akan mendapatkan kesempatan lagi untuk diminta memilih di antara dua koin itu.”

 

Itu cerita yang disampaikan Edward de Bono untuk mengilustrasikan perbedaan persepsi dan logika.

 

Logika itu hasil pemrosesan informasi.  Jika pilihan itu diserahkan pada komputer yang memang berfungsi memprosese informasi, maka komputer akan memilih koin kecil (semata-mata karena nilainya lebih besar).  Sementara si Badu menggunakan persepsi yang di dalamnya ada pertimbangan mengenai peluang bisnis di kemudian hari, ada pertimbangan faktor risiko dan lain-lain.

 

Itulah perbedaan antara komputer dan otak manusia.

 

Komputer sudah lebih dulu diberi persepsi dan dia bekerja dengan cara memproses persepsi itu.  Otak manusia membentuk persepsi-persepsinya melalui tindakan memilih cara-cara tertentu dalam melihat dunia.

 

Jika persepsi kita saat ini belum mampu mengolah informasi menjadi solusi, maka coba lihat lagi permasalahannya dalam berbagai perspektif yang berbeda.

 

(22 October 2015)

Spread the love
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

three + 4 =