KOPI LUWAK

 

Buat saya pribadi, kopi luwak adalah pengalaman pribadi  mencoba sebuah produk lebih dari satu kali.  Promosi kopi luwak  yang cukup masif  –hadir juga di level internasional, ada di Oprah Winfrey Show dan CNN–  mendorong saya untuk mencobanya. Percobaan pertama di sebuah restoran makanan sunda di Garut, secangkir kopi luwak dengan harga Rp 60.000  secangkir.  Bukan percobaan yang menyenangkan.  Saya belum merasa nyaman dengan rasanya.  Sebuah pengalaman mencoba dan kemudian lupa.

 

Berikutnya dapat kesempatan mencoba lagi di Ubud Bali.  Sebuah area peternakan musang (luwak) sekaligus pengelolaan kopi luwak.  Seorang pelayan akan memberi penjelasan mengenai kopi luwak, bagaimana pengelolaannya dan sekaligus menghidangkan 10 cangkir berisi kopi dan coklat yang bisa dicoba satu per satu.  Kesepuluh cangkir kecil ini diletakan dalam bambu yang diberi lobang.  Cukup unik.  Untuk mendapat pengalaman ini cukup membayar Rp 50.000 per orang.  Saya malah lebih tertarik pada coklat rasa jahe ketimbang kopi luwaknya.  Alhasil, di percobaan kedua ini belum juga merasa cocok dengan rasa kopi luwak

 

Pengalaman ketiga beberapa minggu lalu.  Dalam sebuah kesempatan di Yogya,  sopir kendaraan sewaan berkali-kali mempromosikan sebuah tempat minum kopi yang bersuasana enak dengan kopi luwak yang terbukti tidak mengandung kafein.  Rasanya malas untuk melakukan percobaan ketiga. Tapi kemudian penasaran dengan rayuan si sopir.  Jangan-jangan tempatnya memang nyaman, jadi apa salahnya mencoba kopi luwak lagi.  Akhirnya di antar ke sebuah tempat yang sama sekali bukan kafe tapi tapi sebuah tempat setengah terbuka beratap seng dengan bangku-bangku panjang ala warung.   Di dalam terlihat beberapa tampah berisi biji kopi yang baru saja dijemur.   Si sopir mencoba menjelaskan.  Kemudian pelayan mendatangi dan menjelaskan mengenai kopi luwak dengan cara yang tidak semangat.   Tidak ada tester sehingga saya pesan segelas kopi yang sama sekali tidak ada petunjuk berapa harganya secangkir kopi.  Saya pun mencoba kopi luwak untuk ketiga kalinya.  Rasanya ?   Tetap tidak cocok !   Si pemilik berusaha beramah tamah dengan menanyakan rasa kopinya, dan saya pun berterus terang bahwa saya tidak cocok dengan rasanya.  Ekspresi wajahnya langsung berubah.   Tidak enak berlama-lama saya bayar kopinya seharga Rp 30.000.  Ini pengalaman yang mengecewakan.

 

Hanya ini produk yang mampu membuat saya mencoba sampai 3 kali setelah pengalaman pertama dan kedua tidak menyenangkan.  Pernahkah kita mencoba lagi sebuah restoran dimana pengalaman pertama mengecewakan  ?  Pernahkah kita membeli lagi sebuah sepatu dengan merek tertentu ketika pengalaman pertama membeli sepatu ini membuktikan sepatu ini hanya bertahan tak lebih dari seminggu ?   Mungkin pelanggan akan bersedia mencoba lagi ketika sebuah produk yang gagal memberikan kepuasan pada pengalaman pertama dan kedua, masih memberikan peluang untuk mendapatkan experience yang benar-benar beda.  Tidak tertutup kemungkinan saya akan mencoba kopi luwak untk keempat kalinya kalau itu menawarkan peluang experience yang benar-benar berbeda dari 3 sebelumnya.  Dalam banyak hal,  customer experience sering lebih penting daripada customer satisfaction.

(7 October 2015)