TIDAK TAHU

 

Seseorang bercerita tentang pengalamannya menjalani wawancara perekrutan di sebuah perusahaan yang sangat terkenal seantero dunia, Google.  Tiga wawancara sudah dilalui, dan saatnya wawancara yang keempat.  Di wawancara ke-4 ini dia menjelaskan dengan berbusa-busa keahlian apa saja yang dia bisa. Hingga kemudian dia terdiam dengan sebuah pertanyaan:   Apa yang kamu tidak bisa ?  Dia tidak terbiasa dengan pertanyaan itu .  Otaknya tidak bisa memproses pertanyaan itu.  Untuk menemukan jawaban yang asal jawab pun dia tidak mampu.  Alhasil dia tidak bisa lolos seleksi untuk masuk jadi karyawan di perusahaan yang di tahun 2014 kemarin memperoleh penghasilan sekitar Rp 7 triliun.

 

Kita memang hanya terbiasa dengan apa yang kita bisa.  Kita tanpa sadar menjadi pengumpul dari apa yang kita bisa dan apa yang kita tahu.  Pada akhirnya kita lupa mencari atau menjelajah apa saja yang tidak kita tahu.  Kita terbiasa dengan pola yang selama ini kita padahal di luar pola-pola itu mungkin ada pola lain yang kita tidak tahu tapi justru menjadi solusi atas masalah kita.  Kreativitas seringkali –kalau tidak mau dikatakan selalu-  berurusan dengan berbagai hal yang kita tidak tahu.

 

Seperti yang dikatakan Nassim Nicholas Taleb dalam bukunya Black Swan, “The problem with experts is that they do not know what they do not know.”  Kita semua adalah expert dalam skalanya sendiri-sendiri yang terlalu fokus pada apa yang kita tahu.  Kita tidak peduli pada apa yang kita tidak tahu atas sebuah masalah.  Padahal –jangan-jangan–  penyebab masalah itu masuk wilayah apa yang kita tidak tahu.

 

Google rupanya sangat sadar itu sehingga dalam metode perekrutannya mencari  juga kualifikasi mentalitas ‘cukup rendah hati untuk mengakui bahwa dirinya tidak tahu’ untuk menjadi karyawan.  Sudah adakah peusahaan lain yang menggunakan metode perekrutan seperti itu di sini  ?

 

(29 October 2015)

 

HUMOR

 

“If I had no sense of humor, I would have long ago committed suicide.” – Mahatma Gandhi

“Humor is by far the most significant activity of the human brain.” – Edward de Bono

 

Humor itu mestinya bentuk pelampiasan kreativitas yang langsung terlihat hasilnya:  kelucuan.  Orang bisa beralasan bahwa lucu itu relatif tapi kalau 8 dari 10 orang mengatakan lucu, cukuplah.

 

Di layar tv bisa langsung dirasakan mana komedi yang memang menghasilkan kelucuan dan mana yang berusaha keras untuk melucu.  Kelucuan itu hasil kreativitas, sedangkan melucu hanya sebuah kemampuan untuk melakukan teknik tertentu.  Kelucuan itu hasil dari sebuah upaya disain terhadap format pertunjukan,  melucu itu upaya peniruan terhadap materi-materi yang pernah menghasilkan kelucuan. Kelucuan mampu menimbulkan perasaan lepas, tertawa dan optimisme, sedangkan melucu kadang-kadang menimbulkan perasaan kasihan dan tertekan.

 

Skill memang perlu. Tapi di atas segalanya, disain yang utama.  Spontanitas memang harus dilatih. Tapi di atas semuanya, diperlukan kemampuan merancang disain program.

 

Program komedi  tidak sekadar kumpulan para pelawak yang diambil gambarnya ketika sedang melucu.  Program komedi mestinya sebuah konsep utuh mengenai komedi dan diterjemahkan dengan baik dalam bentuk skenario/skrip sehingga yang memerankan bukan pelawak pun bisa menghasilkan kelucuan.

 

Sekali lagi kita diingatkan Daniel H Pink:  persaingan di era sekarang ini adalah persaingan konsep. Sehingga upaya membuat program komedi tanpa konsep yang kuat, tak akan menghasilkan humor dan kelucuan.

 

(23 October 2015)

PERSEPSI DAN LOGIKA

 

Tersebutlah si Badu yang diberi pilihan:   koin besar dengan nilai Rp 5.000  atau koin kecil dengan nilai Rp 10.000.    Si Badu memilih koin besar.  Si pemberi pilihan penasaran, beberapa waktu kemudian,  dia menyampaikan pilihan itu lagi pada Badu,  Badu tetap memilih koin besar.  Hingga beberapa kali, Badu tetap memilih koin besar.  Akhirnya si pemberi pilihan penasaran dan menanyakan pada Badu: “Logikanya kamu mesti memilih koin kecil karena karena nilainya lebih besar daripada koin besar.  Kenapa kamu pilih koin besar ?”    Si Badu menjawab, “kalau saya memilih koin kecil, selesai sudah.   Saya tidak akan mendapatkan kesempatan lagi untuk diminta memilih di antara dua koin itu.”

 

Itu cerita yang disampaikan Edward de Bono untuk mengilustrasikan perbedaan persepsi dan logika.

 

Logika itu hasil pemrosesan informasi.  Jika pilihan itu diserahkan pada komputer yang memang berfungsi memprosese informasi, maka komputer akan memilih koin kecil (semata-mata karena nilainya lebih besar).  Sementara si Badu menggunakan persepsi yang di dalamnya ada pertimbangan mengenai peluang bisnis di kemudian hari, ada pertimbangan faktor risiko dan lain-lain.

 

Itulah perbedaan antara komputer dan otak manusia.

 

Komputer sudah lebih dulu diberi persepsi dan dia bekerja dengan cara memproses persepsi itu.  Otak manusia membentuk persepsi-persepsinya melalui tindakan memilih cara-cara tertentu dalam melihat dunia.

 

Jika persepsi kita saat ini belum mampu mengolah informasi menjadi solusi, maka coba lihat lagi permasalahannya dalam berbagai perspektif yang berbeda.

 

(22 October 2015)

ANEH

 

Kata ‘aneh’ dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan dengan “ tidak seperti yang biasa kita lihat (dengar dan sebagainya)”.  Jadi apapun yang berbeda dari biasanya kita lihat, dengar, rasakan dan lain-lain.    Jika kita biasa melihat angsa putih,  maka kita merasa aneh jika ada angsa berwarna hitam (meskipun dalam kenyataan angsa  hitam itu benar-benar ada). Jika kita biasa melihat anak-anak bergaya polos dan jujur, maka kita merasa aneh ketika ada anak yang berdandan ala perempuan dewasa (meskipun di kota-kota besar fenomena ini mulai dianggap biasa).

 

Dalam konteks sebuah pertunjukan, apakah keanehan bisa dijual ?

 

Dalam film-film koboi yang berseting Amerika Serikat 1800 an beberapa kali menunjukkan sirkus yang mempertontonkan orang-orang aneh: Perempuan yang berjenggot lebat, kuda berkaki lima dan lain lain.  Dalam pandangan pengelola sirkus waktu itu mungkin berbagai hal yang berbeda secara fisik dari apapun yang biasa orang-orang lihat akan membuat orang-orang rela membayar untuk melihat.  Namun seiring perkembangan zaman, pertunjukan semacam ini sudah tidak ada.

 

Pertunjukan yang lain berubah dalam bentuk layar kaca televisi.  Sebagian masih bisa menjual “keanehan”.   Sebut saja beberapa contohnya.

 

Ada reality show  “hotter than my daughter”.  Dari judulnya langsung terbayang tentang para ibu yang jauh lebih bergaya ketimbang anak perempuannya.  Dalam promonya, program ini mengatakan “jika kamu merasa malu dengan kelakuan ibumu, coba lihat program ini, pengalamanmu tidak ada apa-apanya.”   Secara visual akan langsung terlihat ibu-ibu separuh usia yang bergaya lebih ekstrem ketimbang anaknya.

 

 

Ada juga reality show “extreme cougar wives”.  Cerita tentang pasangan-pasangan yang perempuannya jauh lebih tua dari laki-lakinya.   Contoh pasangan yang pernah masuk dalam salah satu episodenya:  Kathy 54  dan Brad 25,   Stephani 65  dan   Octavio 28.  Secara visual, langsung terlihat bentuk fisik pasangan yang berbeda dari yang biasa kita lihat. Pasangan ini lebih mencerminkan pasangan ibu-anak ketimbang suami istri.

 

Ide-ide tentang sesuatu yang aneh untuk dipertunjukkan akan selalu ada.  Namun sayangnya sesuatu yang aneh terbukti tidak mampu bertahan lama.  Tontonan aneh yang dipertontonkan terus-menerus pada akhirnya tidak aneh lagi dan bahkan  menjadi membosankan.    Tontonan yang memberi sensasi visual lewat keanehannya tetap dituntut untuk mampu memberikan pengalaman baru pada penontonnya.  Pengalaman baru itu bisa dalam bentuk memberikan inspirasi baru atau menimbulkan rasa kagum, empati, terharu dan lain-lain.  Tanpa pengalaman baru itu (yang tentu saja harus didukung oleh kreativitas yang konsepsional), tontonan visual seaneh apapun tidak akan menimbulkan bekas yang berarti dalam hati dan memori para penonton.

 

(20 October 2015)

COPY PASTE

 

Suatu ketika beberapa tahun lalu seorang pengusaha papan atas pemilik stasiun televisi dan portal berita bertahun-tahun menggunakan ponsel jadul.  Hingga suatu ketika ponsel itu rusak, dan “terpaksa”  dia mengganti dengan smartphone.

 

Implikasi dari dia menggunakan smartphone ternyata terjadi pada para karyawannya. Dia bisa online sewaktu-waktu dan bisa mengamati portal beritanya.  Salah satu yang dia amati:  75% dari berita di portal berita tersebut bersifat copy paste.  Dia membaca sebuah berita kemudian mengklik berita terkait, nah dalam berita terkait itu beritanya hampir 75% sama dengan berita sebelumnya. Begitu seterusnya dengan berita-berita selanjutnya.  Penulis berita hanya cukup menulis 25% berita, sisanya hasil copy paste.

 

Otak manusia memang cenderung mengolah pola-pola. Segala informasi yang masuk dikelola dalam pola-pola yang sudah ada dalam otak.  Tapi, kebiasaan mengcopy paste tidak sekadar karena otak cenderung mengelola pola-pola, tapi karena copy paste cenderung disemangati.

 

 

Berbagai seminar sempat sangat gemar mempromosikan slogan ATM (amati tiru modifikasi). Itu sejalan dengan cara kerja otak yang terbiasa mengenal pola-pola. Sepanjang sejarahnya manusia meniru tindakan-tindakan yang bisa membuatnya bertahan hidup. Tapi kemudian dalam hidup modern,  solusi atas problem itu tidak hanya sekadar mengikuti pola, tapi bisa jadi merombak atau mendestruksi pola yang sudah ada. Sehingga tidak cukup hanya dengan memodifikasi pola.

 

Edward De Bono, tokoh lateral thinking terkemuka, memberi contoh sederhana yang sangat bagus.  Dalam kosa kata bahasa inggris:  ada huruf  AT.   Jika diberi huruf R, maka langsung diletakkan di depan menjadi RAT.  Jika ditambah lagi huruf E, maka disusun di belakang menjadi RATE.  Jika ditambah lagi huruf G, bisa langsung diletakkan di depan menjadi GRATE.   Tapi bagaimana jika ditambah huruf T ?  diletakkan di depan atau di belakang tidak akan membentuk kata baru. Pada titik ini tidak bisa lagi berpegang pada pola. Yang harus dilakukan adalah mendekonstruksi pola dan mendesain ulang.  Kata GRATE harus dipecah menjadi huruf   G-R-A-T-E.  Maka jika ditambah huruf T dan disusun ulang bisa didapat kata baru  T-A-R-G-E-T.

 

Di industri penyiaran tv juga terjadi semangat copy paste ini karena terbiasa berpikir dalam pola-pola mengerjakan sesuatu yang sudah berhasil di masa lampau. Muncul semangat tidak mau repot-repot. Padahal sekali lagi,  solusi tidak selalu  diperoleh  terjadi dengan cara mengikuti pola.  Tidak bisa sekadar meniru program tv yang sudah ada.  Mesti dicoba mendekonstruksi program yang ada dan kemudian mendesainnya ulang. Di situ baru ada makna penting dari KREATIVITAS.

 

(14 October 2015)

KOPI LUWAK

 

Buat saya pribadi, kopi luwak adalah pengalaman pribadi  mencoba sebuah produk lebih dari satu kali.  Promosi kopi luwak  yang cukup masif  –hadir juga di level internasional, ada di Oprah Winfrey Show dan CNN–  mendorong saya untuk mencobanya. Percobaan pertama di sebuah restoran makanan sunda di Garut, secangkir kopi luwak dengan harga Rp 60.000  secangkir.  Bukan percobaan yang menyenangkan.  Saya belum merasa nyaman dengan rasanya.  Sebuah pengalaman mencoba dan kemudian lupa.

 

Berikutnya dapat kesempatan mencoba lagi di Ubud Bali.  Sebuah area peternakan musang (luwak) sekaligus pengelolaan kopi luwak.  Seorang pelayan akan memberi penjelasan mengenai kopi luwak, bagaimana pengelolaannya dan sekaligus menghidangkan 10 cangkir berisi kopi dan coklat yang bisa dicoba satu per satu.  Kesepuluh cangkir kecil ini diletakan dalam bambu yang diberi lobang.  Cukup unik.  Untuk mendapat pengalaman ini cukup membayar Rp 50.000 per orang.  Saya malah lebih tertarik pada coklat rasa jahe ketimbang kopi luwaknya.  Alhasil, di percobaan kedua ini belum juga merasa cocok dengan rasa kopi luwak

 

Pengalaman ketiga beberapa minggu lalu.  Dalam sebuah kesempatan di Yogya,  sopir kendaraan sewaan berkali-kali mempromosikan sebuah tempat minum kopi yang bersuasana enak dengan kopi luwak yang terbukti tidak mengandung kafein.  Rasanya malas untuk melakukan percobaan ketiga. Tapi kemudian penasaran dengan rayuan si sopir.  Jangan-jangan tempatnya memang nyaman, jadi apa salahnya mencoba kopi luwak lagi.  Akhirnya di antar ke sebuah tempat yang sama sekali bukan kafe tapi tapi sebuah tempat setengah terbuka beratap seng dengan bangku-bangku panjang ala warung.   Di dalam terlihat beberapa tampah berisi biji kopi yang baru saja dijemur.   Si sopir mencoba menjelaskan.  Kemudian pelayan mendatangi dan menjelaskan mengenai kopi luwak dengan cara yang tidak semangat.   Tidak ada tester sehingga saya pesan segelas kopi yang sama sekali tidak ada petunjuk berapa harganya secangkir kopi.  Saya pun mencoba kopi luwak untuk ketiga kalinya.  Rasanya ?   Tetap tidak cocok !   Si pemilik berusaha beramah tamah dengan menanyakan rasa kopinya, dan saya pun berterus terang bahwa saya tidak cocok dengan rasanya.  Ekspresi wajahnya langsung berubah.   Tidak enak berlama-lama saya bayar kopinya seharga Rp 30.000.  Ini pengalaman yang mengecewakan.

 

Hanya ini produk yang mampu membuat saya mencoba sampai 3 kali setelah pengalaman pertama dan kedua tidak menyenangkan.  Pernahkah kita mencoba lagi sebuah restoran dimana pengalaman pertama mengecewakan  ?  Pernahkah kita membeli lagi sebuah sepatu dengan merek tertentu ketika pengalaman pertama membeli sepatu ini membuktikan sepatu ini hanya bertahan tak lebih dari seminggu ?   Mungkin pelanggan akan bersedia mencoba lagi ketika sebuah produk yang gagal memberikan kepuasan pada pengalaman pertama dan kedua, masih memberikan peluang untuk mendapatkan experience yang benar-benar beda.  Tidak tertutup kemungkinan saya akan mencoba kopi luwak untk keempat kalinya kalau itu menawarkan peluang experience yang benar-benar berbeda dari 3 sebelumnya.  Dalam banyak hal,  customer experience sering lebih penting daripada customer satisfaction.

(7 October 2015)

BOSAN

 

Sebagian bisnis muncul sebagai sebuah niat untuk solusi terhadap kebosanan orang-orang.  Industri hiburan setidaknya berpegang pada premis tersebut. Film atau program televisi atau pertunjukan sirkus adalah tontonan sebagai solusi terhadap orang-orang yang bosan dengan rutinitas kesehariannya.  Melalui tontonan itu diharapkan mereka di waktu luangnya bisa merasakan kegembiraan,  tertawa atau pun terinspirasi.

 

Bagaimana jika saat ini justru hiburan itu sendiri yang bikin bosan ?

 

Setiap hari setidaknya ada lebih dari 13 stasiun tv nasional yang bersiaran hampir 24 jam.  Jika diambil rata-rata mereka bersiaran 20 jam saja maka tiap hari ada siaran lebih dari 260 jam.  Setahun berarti kurang lebih 94.900  jam  !

 

Bisa dikatakan pada dasarnya orang berkelimpahan pilihan hiburan.  Tapi paradoksnya,  di sana sini orang mengeluh mengenai program tv yang membosankan.  Stasiun tv dianggap kurang inovatif dalam menghasilkan program-program yang bisa memenuhi hasrat orang-orang untuk terhibur.  Bisa jadi bukan salah program tv-nya, bisa jadi ekspektasi orang-orang pada saat ini memang lebih tinggi dari generasi-generasi sebelumya.   Lalu,  ada peluang bisnis apakah untuk bisa memberikan solusi terhadap masalah ini ?

 

  1. Sebuah layanan yang memberikan  program apps yang mampu memberikan alarm mengenai program-program tv yang sesuai dengan selera kita dan otomatis merekamnya dalam sebuah file

 

  1. Sebuah layanan yang membina komunitas yang mempunyai kesamaan selera dalam hal hiburan.  Ada biaya keanggotaan untuk para anggota sehingga para anggota berhak mendapatkan newsletter mengenai perkembangan hiburan genre tertentu yang menjadi minat para anggota dan kemudian  diberikan skedul untuk nonton bersama dan saling bercerita mengenai pandangan dan kenangan atas tontonan tersebut.

 

  1. Sebuah layanan personal atas permintaan untuk menyediakan hiburan pada orang-orang yang mempunyai waktu luang sangat terbatas.  Misalnya: menyediakan orang untuk menjadi mitra tanding dalam memainkan sebuah games sekaligus menyediakan seorang penyanyi yang mengiringi sambil bermain game.

 

  1. Sebuah layanan untuk mengajarkan meditasi sehingga orang bisa mengendalikan keinginannya yang kuat untuk mendapatkan hiburan.

 

  1. Sebuah layanan untuk menyediakan hiburan sebagai bentuk nostalgia kepada orang-orang dewasa yang rindu dengan hiburan-hiburan yang dikenalnya saat masa kecil tapi sekarang sudah tidak ada lagi.

 

Masih banyak lagi yang bisa dieksplorasi dalam memberikan solusi terhadap kebosanan orang-orang atas hiburan yang ada. Secara data bisa dilihat bahwa jumlah penonton tv secara konsisten mengelami penurunan, begitu juga dengan jumlah penonton bioskop Indonesia.  Mestinya realitas tersebut tidak sekadar merangsang orang untuk terus-menerus fokus pada otak-atik konten hiburan  (agar memperoleh penonton lebih banyak) tapi juga yang penting: otak-atik business model-nya dengan demikian tetap bisa hidup meski hanya melayani penonton dalam jumlah kecil.

 

(5 October 2015)