MENGAKU SUKSES

 

Siapa  saja yang punya hak untuk mengaku sukses  ?  Sebenarnya siapa saja bisa mengaku sukses, tapi minimal inilah jenis-jenis kesuksesan yang setidaknya terlihat di kenyataan  cukup kuat  dipercaya.

 

  1. Orang yang berhasil memulai bisnis dari nol kemudian mempunyai  outlet rumah makan lebih dari 4

 

  1.  Orang yang pernah bangkrut hingga hutang lebih Rp 10 milyar dan dia bisa bangkit karena itu

 

  1. Orang yang tidak lulus SD tapi dia berpetualang ke luar negeri dan kembali ke tanah air dengan hikmah arti hidup sukses

 

  1. Orang yang mempunyai kekayaan milyaran dalam usia belum mencapai  25

 

  1. Orang yang telah menghasilkan 40 judul buku atau lebih

 

  1. Orang yang telah menghasilkan satu buku yang mampu terjual lebih dari 3000 eksemplar

 

  1. Orang yang pernah dipenjara kemudian memulai hidup baru dan buku kisah hidupnya terjual lebih dari 3000 eksemplar

 

  1. Orang yang pernah menduduki posisi puncak sebuah perusahaan dan keluar untuk mendirikan bisnis sendiri.

 

  1. Orang yang pernah memenangkan sebuah kontes selama 5 tahun berturut-turut

 

  1. Orang yang mempunyai penghasilan begitu cukupnya sehingga walau tidak bekerja selama setahun penuh tetap bisa bepergian ke Eropa atau Amerika Serikat setiap tahun

 

Daftar ini masih bisa sangat panjang.  Dalam dunia pemasaran, tidak ada gunanya mendiskusikan apa hakikat dari kesuksesan.   Yang paling penting dalam dunia pemasaran:  capaian minimal seperti apa yang mampu menjadi modal sebagai cerita untuk mengaku sukses. Kalau modal itu tidak cukup, tidak cukup banyak pula orang yang mau mengakui kesuksesan itu.   Selamat berlatih merencanakan dan mengelola pengakuan sukses.

 

(30 September 2015)

KERJA SAMA

 

Bagaimana sebuah kerja sama bisnis terbentuk ?   Ada beberapa kemungkinan.

 

  1. Bisa saja dalam perbincangan di kedai kopi dua orang yang sudah saling mengenal cukup lama dengan santai bersepakat untuk memulai bisnis bersama

 

  1. Bisa saja seseorang yang mempunyai bisnis sedang turun meminta orang lain untuk membantu dan terjadilah kerja sama.

 

  1. Bisa saja seseorang memulai dan menjalankan sebuah bisnis dan bisnis itu berjalan dengan sangat baik.  Bisnis ini pun mengundang banyak orang yang berkeinginan mengajak kerja sama bisnis. Dari sekian banyak ajakan itu kemudian dipilih salah satu dan akhirnya menajdi sebuah kesepatakan kerja sama bisnis.

 

Dari 3 kemungkinan itu, nomer 3 terlihat sangat menarik.  Bayangkan kita membangun sebuah bisnis. Mungkin ada yang menganggap remeh atau bahkan menghina,  tapi tetap jalan terus. Kita berjalan sendiri tapi kita pegang kendali sepenuhnya atas bisnis itu. Kita yakin bisnis ini akan menjadi something.  Dalam perjalanannnya bisnis ini menguruas tenaga, pikiran, emosi dan tentu saja uang. Sampai akhirnya saat itu benar-benar datang,  bisnis tersebut mengalamai pertumbuhan yang sangat cepat.  Orang-orang mulai tertarik, baik dari cerita yang disampaikan teman lewat sosial media atau membacanya/menontonya lewat media massa.   Pada akhirnya bisnis itu telah menjadi magnet.  Magnet bagi orang-orang yang ingin terlibat dalam bisnis itu.  Share kepemilikan atas bisnis itu menjadi sesuatu yang diinginkan orang lain.  Sampai titik ini pun kita punya kendali untuk memilih siapa yang pantas menjadi mitra kita.

 

Perjalanan ini seperti dongeng.  Sebagian orang selalu menganggapnya dongeng.  Sebagian yang lain membuktikan bisa  menjadi bagian dari dongeng itu.

(29 September 2015)

MULAI

 

Memulai itu mudah,  menuntaskan tidak semudah memulainya.  Kita bisa memulai menulis buku  saat ini juga.   Tapi menuntaskan menjadi buku  adalah perjuangan sangat panjang.

 

Kita memulai dengan penuh gembira dan gairah.  Sedikit demi sedikit rasa gembira dan gairah itu bisa hilang hingga di tengah jalan sebelum buku itu benar-benar selesai, kita sudah berhenti.    Kita berhenti hanya dengan alasan bahwa gembira dan gairah itu sudah tidak ada lagi.

 

Kita mulai hari ini,  besok hingga satu atau dua minggu kemudian kita masih setia untuk menjalankan sebuah proyek realisasi ide hingga akhirnya  3 minggu atau sebulan kemudian kita mulai tergoda dengan pikiran “ide ini tidak terealisasi pun tidak masalah.”

 

Kita mulai hari ini, dan rasanya perlu ada sebuah komitmen dan rencana yang dicanankan sejak hari ini pula bahwa kita tidak akan berhenti hingga proyek ini dituntaskan.

 

Memulai sebuah proyek tanpa batasan atau rencana kapan proyek ini selesai,  sama saja membuka pintu lebar-lebar untuk berhenti kapan saja di tengah jalan.

 

Begitu mudah berhenti sehingga bahkan kita tidak merasakan konsekuensi apa-apa ketika benar-benar berhenti.  Justru ketika kita memutuskan untuk berjalan, berarti kita memutuskan untuk menahan rasa sakit,  memaksa bekerja lebih lama lagi tanpa rasa gembira dan gairah.

 

Gairah (passion) bukan segalanya.  Menuntaskan sesuatu adalah segalanya.  Bayangkan James Cameron yang butuh waktu 14 tahun untuk merealisasikan ide film Avatar-nya.  Selama 14 tahun itu pasti ada masa-masa sulit ketika tak ada lagi rasa gembira dan gairah. Tapi proyek ini tetap dituntaskan. Dan, percayalah, ketika sebuah proyek berhasil dituntaskan,  rasa gembira dan gairah itu akan datang berlipat-lipat.

 

(18 September 2015)

GEN Y

 

Suatu kali saya berbincang dengan seorang trainer senior.  Trainer ini sudah melatih ribuan orang dari berbagai perusahaan besar.  Kali ini perbincangan kami menyinggung sebuah perusahaan yang bergerak di media.  Trainer ini menyebut perusahaan tersebut  punya masalah besar.  Apa masalahnya ?  “Perusahaan ini di awalnya berisi karyawan-karyawan yang sangat militan. Loyal dan kerja sangat keras. Setelah 12 tahun sebagian besar karyawan ini sudah pindah, diisi dengan karyawan-karyawan baru yang sebagian besar adalah gen Y. Ada perbedaan yang sangat mendasar.  Kalau sebelumnya relatif lebih loyal,  generasi yang ini mudah tergiur dengan iming-iming gaji sedikit  lebih besar di tempat lain. Perbedaan gaji yang hanya Rp 1 – 2 juta saja bisa membuat mereka pindah kerja. Kebanyakan perusahaan besar mempunyai masalah dalam mengelola gen Y.”

 

Kata-kata trainer ini sejalan dengan deskripsi tentang gen Y di beberapa artikel.  Gen Y cenderung mudah pindah tempat kerja.  Itu karena gen Y  cenderung punya pola pikir dan perilaku haus akan tantangan. Gen y tidak sabaran untuk menunggu terlalu lama dalam mengejar karir. Dengan pindah tempat kerja, gen Y berharap bisa naik jabatan atau setidaknya lebih berpeluang dibandingkan tempat kerja sebelumnya. Loyalitas bukan prioritas utama

 

Ketika loyalitas bukan prioritas utama,  sebuah perusahaan mempunyai tantangan dalam membentuk tim yang solid.  Apa artinya membangun tim yang solid setahun ke depan jika secara psikologis anggota tim mempunyai kemungkinan pindah kerja di satu atau satu setengah tahun ke depan ?  Mesti ada sesuatu yang membuat gen Y mau tetap tinggal di satu tempat kerja. Sesuatu itu adalah merasa terlibat dalam sebuah visi.  Sebuah visi tidak sekedar tulisan yang bisa ditempel di dinding agar terbaca oleh semua karyawan.  Sebuah visi lebih menyerupai gambaran imajinatif tentang yang akan dicapai 5 atau 10 tahun mendatang.  Sebuah visi yang mampu membuat gen Y merasa tidak perlu pindah-pindah kerja karena “buat apa pindah-pindah jika tetap ada di sini mampu meraih tujuan dengan lebih cepat”. Sebuah visi yang mampu membuat gen Y bisa memuaskan ambisi pribadinya dengan cara bekerja sama dengan orang-orang dalam satu perusahaan.

 

(2 September 2015)

JOB VS WORK

 

Apa bedanya “job” dan “work”  dalam bahasa Indonesia ?   Sepertinya agak sulit untuk membedakan.  Karena itu sebaiknya ditampilkan utuh kutipan dari  Seth Godin mengenai perbedaan keduanya.

 

“The job is what you do when you are told what to do. The job is showing up at the factory, following instructions, meeting spec, and being managed.  Someone can always do your job a little better or faster or cheaper than you can.  The job might be difficult, it might require skill, but it’s a job.  Your art is what you do when no one can tell you exactly how to do it. Your art is the act of taking personal responsibility, challenging the status quo, and changing people.  I call the process of doing your art ‘the work.’ It’s possible to have a job and do the work, too. In fact, that’s how you become a linchpin.”  (Linchpin: Are You Indispensable ?)

 

Sebagian kita mengerjakan “job” terus menerus sepanjang karir.  Mengerjakan apa yang menjadi tanggung jawab kita. Mengerjakan apa yang diperintahkan.  Mengerjakan sesuatu yang bisa membuktikan kita bekerja di depan para pimpinan.  Mengerjakan sesuatu yang memang harus dikerjakan oleh orang-orang di posisi itu.

 

Bayangkan itu terjadi di sebuah organisasi bisnis yang bergerak di industri kreatif, katakanlan sebuah stasiun tv.   Bayangkan semua orangnya hanya mengerjakan apa yang diperintahkan. Semua orang hanya mengerjakan berdasarkan SOP.  Padahal  tidak ada seorang pun bisa mengajarkan bagaimana membuat program tv yang berhasil.  Bahkan jika pun sebelumnya ada program tv yang berhasil, semua langkahnya diterapkan untuk masa sekarang pun belum tentu berhasil.  Yang dibutuhkan bukan orang-orang yang mengerjakan “job”, tapi melakukan “the work”.  Orang-orang yang yakin bahwa menghasilkan program tv bukan melalui proses mengerjakan sesuatu yang diperintahkan.  Orang-orang yang mampu berpikir secara konseptual mengenai ide tertentu dan merealisasikannya dengan cara yang mau tak mau harus baru  karena sebelumnya belum ada yang berhasil merealisasikan.

 

Ini bisa menjadi indikator juga dari para pemimpin yang mendapati organisasinya terlihat lesu dan tidak bersemangat:  apakah para karyawan sekadar melakukan “job” ?  Jika benar begitu,  itu berarti alarm juga buat  para pemimpin itu mesti cepat melakukan “the work”, melakukan perjalanan yang belum pernah diberi contoh oleh orang-orang sebelumnya. Karena itu Seth Godin menyebutnya sebagai Seni.

 

(1 September 2015)