catatan dan inspirasi

KREATIVITAS DI PERUSAHAAN BESAR

 

Ketika kita berada di perusahaan besar, kita bisa merasakan bahwa kreativitas bukan prioritas nomer satu. Bahkan jika perusahaan itu bergerak di bisnis industri kreatif sekalipun.  Adakalanya kita merasakan bahwa kultur perusahaan mengharuskan kita menjalankan sesuatu yang sudah tercatat atau terbukti berhasil,  di luar itu dianggap mempunyai risiko menghambur-hamburkan uang.  Ketika yang pernah berhasil di masa lalu kemudian diproduksi  lagi ternyata tidak berhasil, apa yang akan dilakukan ?   Kembali ke aturan.  Eksperimen adalah sesuatu yang menakutkan. Pegawai pun dianggap telah bekerja dengan baik selama mematuhi aturan.

 

Gil Laroya, salah seorang desainer produk dari silivon valley, menulis di Hufftington Post.    “Pengalaman saya di perusahaan besar,  ada sebuah kultur internal yang harus  dipatuhi semua pegawai.  Kultur ini  memberi batasan tentang  bagaimana pegawa bekerja dan berinteraksi dengan tiap orang dalam operasional harian.   Memang kultur ini membantu mengatur  berbagai ekspektasi perusahaan.  Tapi dalam kaitan dengan kekuatan dan kelebihan masing-masing individu demi keuntungan perusahaan,  kultur berubah menjadi  “monster Frankeinstein”. Hanya bergerak berdasarkan perintah,  tanpa ada keberanian  mencipta.      Monster ini pada waktunya akan membunuh karakter kreatif dari setiap pegawai,    Kreativitas dan innovasi hampir selalu menjadi korban dari  mentalitas perusahaan seperti ini.  Jika perusahaan tidak benar-benar berusaha untuk “mengendalikan monster” tersebut, para pencipta dan inovator menjadi tertindih di bawah beratnya struktur dan regulasi.”

 

Artinya,  monster Frankenstein ini tidak pernah kelihatan tapi kita bisa merasakan kehadirannya.  Kata-kata yang umum adalah “business as usual”.  Seakan sebisa mungkin persaingan dimenangkan melalui sebuah usaha-usaha yang biasa. Kreativitas dan inovasi menjadi kata yang sering diucapkan sekaligus menakutkan untuk dilakukan.

 

Untuk membuktikan  Frankenstein ini hidup dalam perusahaan anda, cobalah bereksperimen.  Dan ketika hasil dari eksperimen itu  mengecewakan, lihatlah reaksi para atasan anda. Seberapa marah mereka.   Seberapa kuat mereka mendorong untuk adanya eksperimen lagi.

 

(15 July 2015)

Spread the love
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *