SENSASIONAL

 

Apa itu drama ?   Drama yang kita kenal adalah cerita yang disampaikan melalui seni peran melalui medium panggung, tv, radio atau televisi. Drama biasanya fiksi.  Namun tak tertutup kemungkinan memang kisah nyata atau sekadar bumbu “berdasarkan kisah nyata”  yang sebenarnya justru memperkuat nilai drama itu. Rumus drama sudah sangat jelas: harus menggerakkan sisi emosional dari penontonnya.  Karena cerita tentang seorang gadis yang teraniaya dan miskin kemudian mendapatkan pangeran kaya,  lebih menggugah ketimbang anak gadis orang kaya  yang pintar dan sangat baik hati kemudian mendapatkan suami ganteng yang kaya juga.

 

Mungkinkah drama dilebih-lebihkan ?  jelas mungkin.  Untuk mendapatkan efek yang jauh lebih hebat lagi,  si tokoh ini mengalami penderitaan yang luar biasa berat.  Bukan berarti dalam kisah nyata tidak ada penderitaan yang ekstrem berat, namun demi efek dramatis, penderitaan ini bisa menjadi karya tulis yang menarik ulur antara penderitaan dan kelegaaan agar penonton larut dalam cerita.

 

Apakah mungkin peristiwa nyata mempunyai unsur drama ?  jelas mungkin juga.  Drama juga didefinisikan sebagai serangkaian peristiwa yang menggugah, emosional atau tidak terduga.  Karena itu beberapa peristiwa penyelamatan korban kecelakaan pesawat terbang atau korban bencana alam sering disebut sebagai drama karena di situ ada yang menggugah, emosional, dan banyak kejadian tak terduga.  Namun unsur dramanya tidak muncul jika disampaikan dalam potongan-potongan kecil yang terfragmentasi. Untuk memunculkan drama perlu storytelling.

 

Lalu apa itu sensasional ?  Orang sering menyebut bahwa artis-artis berlomba menciptakan sensasi-sensasi agar namanya tetap terjaga di anak tangga popularitas. Sensasional  didefinisikan sebagai sesuatu yang dimaksudkan untuk memunculkan keingintahuan yang kuat atau reaksi panas terutama dengan cara melebih-lebihkan detail. Misalnya, banyak dilakukan program gosip tv,  cerita asmara antara seorang artis muda dengan aktor yang jauh lebih tua. Berita semacam ini cukup berhasil memunculkan keingintahuan yang kuat dari para penonton untuk mengikuti berita-berita berikutnya.  Berita semacam ini masih cukup menarik minat meskipun penonton pada akhirnya tahu bahwa itu hanya bohong-bohongan saja. Penonton merasa dibohongi tapi dengan segera dilupakan dan mencari lagi berita sejenis.

 

Drama dan sensasional dalam kadar tertentu sama melebih-lebihkan.  Namun yang membedakan drama masih mampu mengundang empati namun sensasional jelas-jelas punya tujuan untuk memanipulasi. Drama berpusat pada penonton, sensasional berpusat pada diri si pembuat sensasi.  Drama membutuhkan storytelling.  Sensasional  hanya perlu ledakan-ledakan.  Pada akhirnya, drama bisa diceritakan ulang –bahkan berkali-kali.  Sedangkan sensasional cukup diceritakan sekali saja, setelah itu menjadi sangat berkurang daya kejutnya.

 

Setiap orang pada dasarnya adalah brand. Pilihan ada pada kita:  mau menjaga brand kita lewat drama atau sensasional. Yang jadi bahan pertimbangan pun berbeda:  kita ingin brand kita diceritakan berulang-ulang karena inspiratif atau harus terus-menerus dikobarkan dengan api yang lebih besar untuk membakar sensasi.

(12 July 2015)

Spread the love
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

7 + two =